Dari Sampah Jadi Cuan, Prof Izza Mafruhah Ungkap Solusi Maggot Atasi Krisis Sampah Nasional

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 03 April 2026 | 22:02 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi pengolahan sampah organik menjadi maggot yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan
Ilustrasi pengolahan sampah organik menjadi maggot yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

RIWARA.id - Sampah selama ini identik dengan masalah. Dibeli, digunakan, lalu dibuang begitu saja tanpa nilai. Namun di tengah krisis lingkungan global, cara pandang itu mulai berubah.

Di berbagai daerah di Indonesia, sampah organik kini tidak lagi sekadar limbah. Dari dapur rumah tangga hingga komunitas desa, sampah mulai diolah menjadi maggot, komoditas bernilai tinggi yang membuka peluang ekonomi baru.

Apa yang sebelumnya dianggap tidak berguna, kini justru menjadi sumber penghasilan. Bahkan, solusi ini terbukti mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan.

Fenomena ini menjadi titik balik penting dalam cara manusia memandang sampah.

Masalah sampah sendiri telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Secara global, produksi sampah mencapai sekitar 2,01 miliar ton per tahun, dan sekitar 33 persen di antaranya belum terkelola dengan baik.

Jika tidak ditangani, jumlah ini diperkirakan mening kat hingga 70 persen pada 2050 atau mencapai 3,40 miliar ton per tahun.

Indonesia termasuk negara dengan produksi sampah yang tinggi. Sepanjang 2022, jumlah sampah nasional mencapai sekitar 35,93 juta ton, dengan sekitar 62,49 persen telah terkelola.

Sebagaimana release yang diterima riwara.id, Jumat, 3 Maret 2026, persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi dan sosial, mulai dari pencemaran hingga risiko kesehatan masyarakat.

 

Perubahan Paradigma Menuju Ekonomi Sirkular

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Izza Mafruhah menegaskan bahwa krisis sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan lama.

“Selama ini kita menggunakan pola ekonomi linier, yaitu ambil, pakai, buang. Ini harus diubah menjadi ekonomi sirkular,” ujarnya.

Menurutnya, dalam konsep ekonomi sirkular, sampah bukan lagi limbah, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai ekonomi baru.

Pendekatan ini menekankan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah, serta pemanfaatan kembali melalui daur ulang dan inovasi.

Sampah Rumah Tangga Jadi Kunci

Salah satu penyumbang terbesar sampah berasal dari rumah tangga. Setiap indivi d u menghasilkan sekitar 0,5 kilogram sampah per hari.

Artinya, dalam satu juta penduduk, timbulan sampah bisa mencapai 500 ton per hari.

Tanpa pengelolaan yang baik, jumlah ini akan terus meningkat dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Di situlah titik paling krusial,” jelas Prof Izza.

Maggot Jadi Solusi Nyata dan Menguntungkan

Salah satu solusi yang kini berkembang adalah pengolahan sampah organik menjadi maggot menggunakan larva Black Soldier Fly melalui proses biokonversi.

Dalam proses ini, sampah dapur diubah menjadi biomassa bernilai tinggi berupa protein dan lemak, serta menghasilkan pupuk organik yang dikenal sebagai kasgot.

Nilai ekonominya pun cukup menjanjikan:

Maggot basah dijual sekitar Rp7.000 per kilogram untuk pakan ternak
Maggot kering mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram untuk pasar premium
Kasgot sebagai pupuk organik dijual sekitar Rp4.000 per kilogram

Selain itu, maggot juga memiliki potensi ekspor sebagai bahan baku industri kosmetik alami.

Efisiensi Biaya Hingga 60 Persen

Penggunaan maggot sebagai pakan terbukti mampu menekan biaya produksi hingga 60 persen, khususnya dalam sektor peternakan dan perikanan.

Hal ini memberikan keuntungan ganda, yakni mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.

“Inilah bentuk nyata ekonomi sirkular. Lingkungan terjaga, ekonomi bergerak,” kata Prof Izza.

Gerakan Masyarakat Mulai Berkembang

Pengelolaan maggot k i ni mulai berkembang di berbagai daerah.

Di Sukoharjo, pengolahan sampah organik dilakukan melalui kolaborasi komunitas dengan dapur MBG Aisyiyah. Setiap hari, sekitar 30 hingga 50 kilogram sampah dapur diolah menjadi maggot bernilai ekonomi.

Model serupa juga diterapkan di wilayah Sumberagung, Magelang, dengan pendekatan berbasis masyarakat tingkat RT.

Hal ini menunjukkan bahwa solusi besar dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat lokal.

 

 

Dapat Perhatian Pemerintah

Perkembangan ini juga mendapat perhatian pemerintah. Menteri Perdagangan Budi Santosa telah mengunjungi langsung pengelolaan maggot di Sukoharjo pada 2 April 2026.

Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular mulai dilirik sebagai solusi strategis nasional.

Momentum Perubahan

Indonesia kini berada di titik penting dalam pengelolaan sampah.

Jika mampu mengelola sampah dengan pendekatan ekonomi, maka persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang besar yang menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru.

Sebaliknya, tanpa perubahan, krisis sampah akan menjadi beban jangka panjang.

Selama ini, sampah selalu dianggap sebagai akhir.

Padahal, di tangan yang tepat, sampah justru bisa menjadi awal.

Awal dari solusi lingkungan.
Awal dari peluang ekonomi.
Dan awal dari perubahan besar.*

 

 

Krisis sampah global semakin mengkhawatirkan. Namun pengolahan sampah organik menjadi maggot dinilai mampu menjadi solusi nyata yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News