
RIWARA.id — Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi menjalin kerja sama strategis dengan US Grains & BioProducts Council untuk mengembangkan ekosistem bioetanol di Indonesia.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup studi bersama, pertukaran pengetahuan, hingga peningkatan kapasitas teknis dalam pengembangan bioetanol, sebagaimana disampaikan dalam siaran pers resmi perusahaan pada Jumat, 3 April 2026.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia mulai serius mendorong implementasi bahan bakar campuran etanol, termasuk potensi penerapan E10 (campuran 10% etanol) dalam beberapa tahun ke depan.
Bioetanol Jadi Kunci Energi Masa Depan
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menegaskan pentingnya bioetanol dalam transisi energi nasional.
“Bioetanol merupakan titik temu antara ketahanan energi dan keberlanjutan bagi Indonesia. Melalui kerja sama ini, kami ingin belajar dari praktik terbaik internasional,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat, 3 April 2026.
Dalam kerja sama ini, kedua pihak akan melakukan studi bersama terkait:
Penguatan rantai pasok
Infrastruktur bioetanol
Aspek teknis dan komersial
Kesiapan regulasi
Fokus Transfer Teknologi dan SDM
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas nasional.
“Pertamina NRE memandang kolaboras i ini sebagai platform untuk memperkuat kapabilitas teknis dan institusional melalui knowledge exchange,” katanya dalam siaran pers yang sama, Jumat, 3 April 2026.
Sementara itu, Chairman USGBC, Mark Wilson, menegaskan kerja sama ini bersifat implementatif.
“MoU ini bukan sekadar kesepakatan formal, tetapi platform implementasi dalam pengembangan rantai pasok dan pasar bioetanol,” ujarnya.
Dorong Mandatori E10 hingga E20
Kerja sama ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah Indonesia dalam mendorong penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar.
Berdasarkan dokumen resmi yang dirilis White House di Washington D.C. pada Kamis, 19 Februari 2026 (waktu setempat) dan dipublikasikan pada Jumat, 20 Februari 2026, Indonesia berkomitmen untuk:
Menerapkan E5 pada 2028
Mengembangkan E10 pada 2030
Meningkatkan hingga E20 (20% etanol) secara bertahap
Namun implementasi tersebut akan bergantung pada kesiapan pasokan dan infrastruktur.
Peluang Impor Bioetanol dari AS
Dalam dokumen yang sama, disebutkan bahwa Indonesia tidak akan mengadopsi kebijakan yang menghambat impor bioetanol dari Amerika Serikat.
< p>“Indonesia tidak akan mengadopsi atau mempertahankan kebijakan apa pun yang menghalangi impor bioetanol dari Amerika Serikat,” tulis dokumen resmi yang dirilis White House, Jumat, 20 Februari 2026.Ketentuan ini membuka peluang besar bagi masuknya bioetanol dari AS untuk mendukung kebutuhan domestik, terutama dalam implementasi mandatori campuran etanol.
Dampak ke Energi Nasional
Pengembangan bioetanol dinilai strategis bagi Indonesia, antara lain untuk:
Mengurangi ketergantungan impor BBM
Mendorong energi terbarukan
Mendukung target penurunan emisi
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam:
Ketersediaan bahan baku
Infrastruktur distribusi
Kesiapan industri domestik
Kerja sama antara Pertamina NRE dan USGBC menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem bioetanol nasional. Dengan target implementasi hingga E20, Indonesia memasuki fase baru dalam transformasi energi.
Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh kesiapan industri dalam negeri serta keseimbangan antara produksi domestik dan potensi impor.*
Inung R Sulistyo






Pertamina NRE kerja sama dengan USGBC kembangkan bioetanol. Indonesia siap terapkan E10 hingga E20 sesuai kebijakan terbaru.