KKN UNS 164 Gagas SEMBADA untuk Wujudkan Kelurahan Secang Bebas Limbah dan Mandiri Pangan

Rabu, 16 September 2026 | 14:26 WIB
KKN UNS 164 Gagas Program SEMBADA untuk Pemberdayaan Masyarakat
KKN UNS 164 Gagas Program SEMBADA untuk Pemberdayaan Masyarakat (Foto: Istimewa)

RIWARA.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 164 menginisiasi adanya program SEMBADA (Sadar Ekosistem Maggot, Budidaya Homestead, dan Zero Waste yang Berdaya) di Kelurahan Secang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Program ini muncul dari keprihatinan belum optimalnya pengelolaan sampah organik rumah tangga di desa tersebut. Selama ini, sampah masih dibuang secara konvensional dan belum dimanfaatkan sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

Melalui SEMBADA, mahasiswa mengangkat dua pendekatan sekaligus. Pertama, pengelolaan limbah organik berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan optimalisasi pekarangan rumah tangga (homestead) untuk ketahanan pangan keluarga.

Kedua, pendekatan yang saling melengkapi dalam mewujudkan prinsip zero waste, di mana limbah organik diolah menjadi pakan dan pupuk. Sementara, hasil pupuk kembali dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pekarangan warga.

Untuk mendukung program tersebut, KKN UNS 164 mengadakan pelatihan program SEMBADA pada Senin 3 Agustus 2026. Acara diawali dengan sosialisasi dan pelatihan budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) yang menyasar kelompok tani dan ibu-ibu PKK dan warga.

Mereka dikenalkan pada konsep tanaman homestead, yakni tanaman yang ditanam di pekarangan rumah sebagai bagian dari gaya hidup mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan keluarga.

Sejumlah tanaman obat keluarga turut diperkenalkan beserta khasiatnya seperti jahe yang bermanfaat meredakan mual dan batuk, kunyit sebagai anti radang dan penjaga daya tahan tubuh, kencur yang membantu meredakan batuk dan menambah nafsu makan, serai yang dapat dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk alami, serta lengkuas yang bermanfaat mengurangi pegal dan nyeri ringan.

Selain itu, warga juga diajak praktik langsung menanam rimpang-rimpang tersebut, mulai dari pemilihan bibit yang sehat dan telah bertunas, penggunaan campuran tanah dan pupuk dengan perbandingan seimbang, hingga teknik penanaman dan penempatan lokasi tanam yang mendapat cukup sinar matahari.

Mahasiswa juga turut membekali warga dengan perawatan dasar seperti penyiraman rutin, pemberian pupuk kandang atau kompos secara berkala, serta pengendalian hama sederhana. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa turut menyerahkan bibit tanaman kepada warga yang hadir agar dapat langsung ditanam di pekarangan masing-masing.

 

Budidaya Maggot

Lalu, pada Rabu 5 Agustus 2026, mahasiswa melanjutkan rangkaian program dengan menggelar sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot BSF yang menyasar ibu rumah tangga, peternak, dan ibu-ibu PKK.

Warga lebih dulu dikenalkan pada lalat Black Soldier Fly (BSF) yang secara fisik berbeda dari lalat rumahan biasa dan tidak membawa bibit penyakit, sehingga larvanya (maggot) aman diolah menjadi pakan.

Materi juga membahas tentang siklus hidup maggot mulai dari fase telur, baby larva, larva, pre-pupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa, serta pengelompokan maggot menjadi tiga kelas berdasarkan ukuran dan pemanfaatannya, mulai dari maggot premium untuk dibiakkan kembali atau diolah jadi maggot kering, hingga maggot ukuran kecil yang cocok sebagai pakan campuran ternak.

Selain edukasi, peserta juga diajak praktik langsung budidaya maggot skala rumahan menggunakan media sederhana berbahan telur maggot, bekatul, pelet ikan, dan air yang ditempatkan dalam wadah beralas tisu dan cething plastik sebagai tempat bertelur lalat BSF.

Mahasiswa juga membagikan tips mengatasi kendala umum yang sering dijumpai warga, seperti maggot yang kabur atau memanjat dinding wadah akibat kelembapan berlebih, serta cara pengecekan kualitas dan penyimpanan maggot kering agar tahan lama.

Saat itu juga ditampilkan contoh kandang maggot berukuran rumahan yang bisa langsung diaplikasikan di rumah masing-masing. Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan kendang maggot secara simbolis kepada pihak Kelurahan Secang sebagai bentuk keberlanjutan program.

 

Pemilahan Sampah

Rangkaian program SEMBADA juga dilengkapi dengan sosialisasi pemilahan sampah dan pembuatan pupuk organik yang digelar pada Selasa 18 Agustus 2026 dengan sasaran kelompok tani dan ibu-ibu PKK.

Warga diberi pemahaman mengenai tiga jenis sampah rumah tangga, yaitu sampah organik, anorganik, dan residu, lengkap dengan langkah-langkah memilah sampah anorganik berdasarkan jenis bahannya seperti plastik, kertas atau kardus, logam, dan kaca.

Mahasiswa mengingatkan ada sejumlah kesalahan yang sering terjadi di masyarakat, seperti mencampur seluruh sampah dalam satu wadah, mencampur sampah organik dengan plastik atau logam, hingga membuang sampah B3 bersama sampah biasa, dengan menekankan kunci utama pemilahan yaitu memilah dari sumber, dilakukan setiap hari, dan konsisten.

Dalam sosialisasi itu, mahasiswa juga memberikan penjelasan manfaat pemilahan sampah, mulai dari lingkungan yang lebih bersih, volume sampah yang berkurang, sampah anorganik yang bernilai ekonomi, hingga sampah organik yang dapat diolah menjadi pakan maggot dan pupuk organic, yang sejalan dengan dua program SEMBADA lainnya.

Warga juga dikenalkan pada manfaat pupuk organik dalam memperbaiki struktur tanah dan menjaga kesuburan lahan secara berkelanjutan, sekaligus alasan pentingnya beralih dari pupuk kimia yang jika digunakan berlebihan dapat menyebabkan degradasi tanah. Sebagai penutup, peserta diajak praktik langsung membuat pupuk organik dari sampah organik rumah tangga menggunakan metode sederhana yang mudah diterapkan di rumah masing-masing.

Dilansir dari rilis yang diterima Riwara.id, Rabu 16 September 2026, melalui program SEMBADA, mahasiswa KKN UNS 164 berharap masyarakat Desa Secang semakin sadar akan pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, mampu menerapkan budidaya maggot dan pemanfaatan pekarangan secara mandiri, serta merasakan manfaat ganda berupa pengurangan volume sampah organik, peluang ekonomi baru, dan penguatan ketahanan pangan keluarga.

Program ini juga diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan meski masa KKN telah berakhir, sejalan dengan dukungan yang telah diberikan Kelurahan Secang melalui penyerahan kandang maggot dan bibit tanaman kepada warga.

Mahasiswa KKN UNS 164 menggagas program SEMBADA untuk mewujudkan Kelurahan Secang, Kabupaten Magelang yang bebas limbah dan mandiri pangan.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories