Duel Drone Pertama di Sudan: Akinci Tembak Jatuh Drone CH-95 Milik RSF di Udara

Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:55 WIB
Komparasi UCAV Bayraktar Akinci dengan CH-95 dibuat dengan bantuan ChatGPT AI
Komparasi UCAV Bayraktar Akinci dengan CH-95 dibuat dengan bantuan ChatGPT AI

RIWARA.id – Militer Sudan berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (unmanned combat aerial vehicle/UCAV) tipe CH-95 buatan China milik kelompok milisi Rapid Support Forces (RSF) dalam sebuah pertempuran udara-ke-udara di wilayah udara Sudan.

Aksi penghancuran drone musuh tersebut dilakukan menggunakan drone tempur canggih Bayraktar Akinci UCAV yang menembakkan amunisi jelajah (loitering munition) berpendorong mesin turbojet.

Seperti dilansir Turdef, insiden ini menjadi salah satu catatan langka dalam sejarah pertempuran modern, di mana drone kelas berat saling berduel dan menjatuhkan satu sama lain di udara (dogfight nirawak).

Drone CH-95 yang hancur merupakan drone tempur kelas MALE (Medium-Altitude Long-Endurance) buatan industri pertahanan China yang diketahui dioperasikan milisi RSF dalam jumlah cukup banyak melalui pihak ketiga.

Rekaman video dari pangkalan data Clash Report memperlihatkan visual dari pencari berbasis infra merah (IIR seeker) dengan kendali man-in-the-loop (MITL) detik-detik sebelum amunisi menghantam CH-95.

Berdasarkan pola crosshair kamera dengan tiga garis pada layar bidik, tim analis milite r menduga kuat senjata yang digunakan adalah munisi jelajah EREN buatan pabrikan ROKETSAN asal Turki.

Meski demikian, terdapat perbedaan signifikan pada antarmuka sistem pembidik yang mengindikasikan penggunaan mode penjejak bagian terdingin (colder sections).

Perbedaan teknis tersebut memicu spekulasi kuat bahwa militer Sudan kemungkinan menggunakan jenis amunisi jelajah rahasia baru yang belum pernah dipublikasikan ke publik.

Amunisi yang terekam dalam pertempuran tersebut juga tampak terbang lebih lambat jika dibandingkan dengan uji coba penembakan udara-ke-udara EREN standar dari Bayraktar Akinci.

Kecepatan terbang yang lebih rendah menunjukkan bahwa amunisi tersebut dirancang memiliki daya jelajah (endurance) lebih lama untuk mengintai target di udara dalam skenario perang asimetris.

Pengembangan jenis senjata baru ini diduga mengorbankan kecepatan demi menambah durasi pengintaian, namun tetap mempertahankan keunggulan pencari IIR canggih khas EREN.

Sebelumnya, amunisi EREN berpendorong turbojet memang dirancang khusus untuk mencegat target udara seperti helikopter, drone, hingga pesawat bermesin propeler yang terbang lambat.

Aksi rontoknya CH-95 ini makin mempertegas tingginya intensitas penggunaan alutsista kelas atas pada armada Akinci UCAV yang dioperasikan militer Sudan.

Dalam catatan pertem puran sebelumnya, Akinci Sudan dilaporkan pernah menembak jatuh pesawat jet bermesin ganda milik pihak tak dikenal menggunakan rudal udara-ke-udara teradaptasi dari sistem SUNGUR.

Selain itu, armada Akinci Sudan tercatat berulang kali menggempur target darat RSF menggunakan amunisi presisi guided TV MAM-L dan MAM-T, termasuk menghancurkan sistem pertahanan udara FK-2000.

Bahkan, militer Sudan juga sempat menguji coba peluncuran rudal aerobalistik UAV-230 yang dikembangkan dari roket artileri TRG-230 untuk menghantam posisi strategis lawan dari jarak jauh.

Kehadiran teknologi drone Akinci beserta ragam amunisi mutakhirnya terbukti menjadi pembeda peta kekuatan udara dalam meredam pergerakan milisi pemberontak di Sudan. (*)

Drone Akinci militer Sudan tembak jatuh drone CH-95 buatan China milik milisi RSF pakai amunisi jelajah turbojet misterius.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories