Drone FPV Murah Jadi Ancaman Baru, Bisa Dirakit Siapa Saja dan Dipakai untuk Serangan Mematikan

Minggu, 24 Mei 2026 | 09:37 WIB
Ilustrasi penggunaan drone FPV di pertempuran dibuat dengan bantuan ChatGPT AI
Ilustrasi penggunaan drone FPV di pertempuran dibuat dengan bantuan ChatGPT AI

 

RIWARA.id – Drone FPV (First Person View) murah kini menjadi perhatian banyak negara setelah terbukti mampu digunakan untuk misi serangan dengan biaya rendah namun berdampak besar. Drone rakitan berbasis komponen komersial itu bahkan mulai dianggap sebagai ancaman keamanan baru karena relatif mudah dibuat dan dimodifikasi oleh siapa saja.

Fenomena ini mencuat seiring masifnya penggunaan drone FPV dalam perang Rusia-Ukraina. Drone kecil berkecepatan tinggi tersebut digunakan untuk pengintaian hingga serangan langsung menggunakan hulu ledak anti-tank atau munisi improvisasi.

Dalam sejumlah foto dan video yang beredar, drone FPV tampak membawa hulu ledak mirip RPG atau PG-7 yang dipasang di bawah bodi drone menggunakan strap sederhana. Bentuknya menyerupai quadcopter balap dengan empat baling-baling kecil, baterai LiPo di bagian atas, dan antena panjang untuk transmisi video maupun radio.

Drone jenis ini berbeda dengan drone militer besar seperti Bayraktar atau Switchblade yang diproduksi pabrikan pertahanan tertentu. FPV tempur umumnya merupakan hasil rakitan modular dari komponen sipil yang mudah dibeli di pasaran.

Komponen yang biasa digunakan meliputi frame karbon, motor brushless, flight controller, kamera FPV, hingga baterai lithium berdaya tinggi. Banyak di antaranya berasal dari produsen elektronik China, sementara perakitan akhir dilakukan secara lokal oleh unit militer, sukarelawan, atau workshop kecil.

Meski ukurannya relatif kecil, drone FPV modern ternyata memiliki kemampuan angkat cukup besar. Beberapa konfigurasi drone 7 hingga 10 inci mampu menghasilkan thrust total mencapai 6 sampai 12 kilogram, sementara bobot drone kosong hanya sekitar satu kilogram.

Kondisi itu membuat drone FPV tetap mampu membawa muatan tambahan untuk penerbangan jarak pendek. Umumnya drone jenis ini memiliki kecepatan 80 hingga 150 kilometer per jam dengan jangkauan operasi sekitar 5 sampai 20 kilometer tergantung sistem antena dan relay sinyal.

Operator mengendalikan drone menggunakan goggle FPV yang menampilkan video real-time dari kamera depan drone. Sistem itu memungkinkan operator melakukan manuver agresif layaknya bermain simulator pesawat.

Dalam konteks tempur, drone FPV sering dirancang sebagai sistem sekali pakai. Drone tidak perlu kembali ke pangkalan sehingga operator dapat memaksimalkan tenaga motor dan baterai hanya untuk beberapa menit penerbangan menuju target.

Meski demikian, efektivitas konfigurasi tersebut masih diperdebatkan. Sejumlah pengamat menilai beberapa foto drone pembawa hulu ledak terlihat ekstrem karena ukuran payload tampak terlalu besar dibanding bodi drone. Efek perspektif kamera, sudut close-up, dan tidak adanya pembanding ukuran diduga membuat munisi terlihat lebih masif dari ukuran sebenarnya.

Selain itu, ada kemungkinan beberapa foto hanya menggunakan dummy warhead atau hulu ledak inert untuk kebutuhan dokumentasi dan propaganda visual. Namun secara teknis, drone FPV memang mampu membawa payload sekitar 1 hingga 2,5 kilogram untuk penerbangan singkat.

Biaya perakitan drone FPV juga relatif murah dibanding sistem persenjataan modern. Satu unit drone rakitan kelas menengah diperkirakan menelan biaya sekitar Rp8 juta hingga Rp25 juta tergantung spesifikasi komponen yang digunakan.

Dengan biaya tersebut, drone FPV dinilai menciptakan ketimpangan baru dalam peperangan modern. Drone murah dapat digunakan untuk menyerang kendaraan tempur atau infrastruktur bernilai jauh lebih mahal.

Ancaman drone murah kini tidak hanya muncul di medan perang. Sejumlah negara Eropa mulai meningkatkan sistem pertahanan anti-drone setelah meningkatnya gangguan wilayah udara dan kekhawatiran terhadap serangan menggunakan drone komersial yang dimodifikasi.

Fenomena serupa juga terjadi di Amerika Latin, termasuk Kolombia, ketika kelompok bersenjata mulai memakai drone rakitan untuk membawa bahan peledak improvisasi. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana teknologi sipil murah dapat berubah menjadi ancaman keamanan serius di era modern. (*)

 

Ide Ilustrasi
Close-up drone FPV quadcopter kecil yang membawa hulu ledak RPG di area latihan perang dengan latar kabur bergaya dokumenter militer.
 
 

Drone FPV murah kini jadi ancaman baru karena mudah dirakit, dimodifikasi, dan dipakai untuk serangan mematikan.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories