RIWARA.id – Ribuan warga Kota Solo memberikan sambutan luar biasa hangat atas kedatangan puluhan Bhikkhu Thudong yang tengah menempuh perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, Magelang, untuk memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE.
Antusiasme tinggi masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab menjadi pesan kuat bahwa semangat toleransi dan kerukunan lintas iman tetap hidup subur di tengah masyarakat Kota Bengawan, melampaui statistik indeks toleransi formal.
Sebanyak 57 Bhikkhu Thudong yang berasal dari berbagai negara di Asia Tenggara—termasuk Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia—tiba di Pura Mangkunegaran pada Sabtu (23/5/2026). Kedatangan mereka di istana raja ini diterima langsung oleh KGPAA Mangkoenagoro X beserta keluarga besar Mangkunegaran.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyampaikan rasa bangga dan syukur mendalam atas kehadiran para Bhikkhu di Kota Solo. Ia pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga yang menunjukkan penghormatan luar biasa selama kegiatan berlangsung.
"Kami sangat bangga sekali hari ini. Sudah lama diharapkan, akhirnya Bhikkhu Thudong bisa bersinggah dan mengikuti kirab. Saya ucapkan terima kasih kepada warga masyarakat Surakarta yang antusiasmenya luar biasa," ujar Respati.
Respati menegaskan bahwa makna dari peristiwa ini adalah pembuktian bahwa Kota Solo sangat terbuka bagi siapa pun untuk menjalankan ibadah, tradisi, dan kegiatan adat secara damai dan khidmat, tanpa pandang bulu.
Bagi Respati, toleransi sejati tidak hanya diukur dari angka atau peringkat hasil survei lembaga tertentu, melainkan dari praktik sosial nyata sehari-hari di mana warga saling menghormati perbedaan dalam semangat kebersamaan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, rombongan diterima KGPAA Mangkoenagoro X di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran. Ia menyoroti pentingnya menjaga nilai harmoni dan persatuan di tengah dunia yang semakin cepat namun kerap diwarnai intoleransi.
“Budaya seharusnya mendekatkan satu sama lain. Tradisi tidak seharusnya menciptakan jarak, tetapi memperdalam pengertian dan empati antarmanusia,” ungkap pemimpin muda Pura Mangkunegaran tersebut.
KGPAA Mangkoenagoro X juga menekankan bahwa ketulusan yang ditunjukkan melalui tradisi Thudong berjalan kaki sebagai bentuk latihan disiplin batin, menjadi inspirasi bahwa kedamaian dunia dapat dibangun melalui tindakan-tindakan sederhana.
Melalui momentum bersejarah ini, Pura Mangkunegaran menegaskan komitmennya untuk selalu menjadi ruang terbuka bagi dialog budaya, perjumpaan lintas tradisi, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama di Asia Tenggara.
Bhante Tejapunno Mahathera menerangkan, ke-57 Bhikkhu ini memulai Thudong dari Singaraja, Bali. Pihaknya mengucapkan terima kasih atas fasilitas dan sarana yang diberikan, serta keramahtamahan warga di setiap tempat yang dilalui. (*)
Wali Kota Solo & warga sambut hangat 57 Bhikkhu Thudong. Bukti Solo kota toleran melampaui peringkat Indeks Kota Toleran.