RIWARA.id – ANALISIS. Penemuan benda mirip torpedo oleh nelayan di perairan Selat Lombok baru-baru ini kembali memicu alarm kewaspadaan nasional.
Benda tersebut diidentifikasi sebagai Seaglider atau Unmanned Underwater Vehicle (UAV). Meski tidak membawa peledak, keberadaan "penyusup sunyi" ini justru jauh lebih berbahaya bagi rahasia pertahanan Indonesia.
Benda yang ditemukan nelayan itu berukuran panjang 3,7 meter dengan diameter 65 centimeter seberat 2 ton.
"Kami amankan, kemudian akan diteliti mengenai spesifikasi teknis, siapa yang punya, dan data-data apa saja yang sudah terkumpul di dalamnya," ujar Komandan Lanal Mataram Kolonel Laut (P) Asep Tri Prabowo di Mataram.
Bukan Senjata, Tapi 'Pencuri' Data
Berbeda dengan torpedo yang dirancang untuk meledak, Seaglider adalah alat pengumpul data intelijen yang sangat canggih.
Ia bekerja dengan cara meluncur di kedalaman laut menggunakan perubahan daya apung tanpa suara baling-baling yang berisik.
Alat ini mampu merekam data suhu air, kadar garam, arus, hingga kondisi akustik bawah laut. Bagi militer asing, data ini adalah "peta harta karun".
Dengan mengetahui kondisi akustik Selat Lombok, kapal selam tempur mereka dapat melintas di jalur ALKI II tanpa terdeteksi oleh radar atau sonar milik TNI Angkatan Laut.
Selat Lombok: Jalur Sutra Kapal Selam Dunia
Mengapa Selat Lombok selalu menjadi incaran? Secara geografis, Selat Lombok merupakan bagian dari ALKI II yang sangat dalam dan lebar, berbeda dengan Selat Malaka yang dangkal dan ramai.
Jalur ini adalah rute utama bagi kapal-kapal raksasa dan kapal selam nuklir yang bergerak dari Samudera Hindia menuju Pasifik.
Menemukan Seaglider di sini mengonfirmasi bahwa ada kekuatan asing yang sedang mencoba memetakan "jalur tikus" di bawah permukaan laut kita. Ini adalah bentuk peperangan hibrida modern di mana informasi tentang medan tempur jauh lebih berharg a daripada peluru itu sendiri.
Tantangan Menjaga Kedaulatan Bawah Laut Kejadian ini membuktikan bahwa tantangan kedaulatan tidak lagi hanya terlihat di permukaan atau udara melalui pelanggaran batas wilayah oleh pesawat jet. Perang masa depan telah bergeser ke bawah permukaan laut (sub-surface).
Kebutuhan akan teknologi pemantau bawah laut yang mandiri bagi Indonesia sudah mendesak. Tanpa kemampuan untuk mendeteksi unit-unit kecil seperti Seaglider atau versi raksasanya (XLUUV), laut kita akan tetap menjadi "halaman belakang" yang bebas dijelajahi oleh robot-orang asing tanpa izin. (*)
Ari Kristyono



Heboh temuan benda mirip torpedo di Selat Lombok. Apakah itu senjata atau mata-mata bawah laut? Simak analisis mendalamnya di sini.