RIWARA.ID - Keris, dikenal sebagai senjata tikam Nusantara yang bernilai pusaka. Namun, ada sekelumit fakta bahwa pembuatan keris di Jawa – Bali pernah terhenti puluhan tahun, hingga seorang pelaut asal Jerman menyelamatkan tradisi luhur dari kepunahan.
Surabaya, tahun 1972. Seorang pelaut muda berkebangsaan Jerman mendadak jatuh hati pada sebilah keris tua yang baru saja dibelinya dari seorang bocah, saat dia sedang makan es krim di sebuah restoran.
Dietrich Drescher, pelaut itu takjub pada senjata tikam tradisional Nusantara itu, terutama karena bilahnya berhias pamor seperti pedang Damaskus yang tersohor.
Dietrich tak berhenti pada kagum. Dia ingin tahu bagaimana keris dibuat. Namun fakta mengecewakan adalah, sudah tidak ada lagi empu –sebutan untuk ahli membuat keris-- yang membuat keris di Jawa, Bali dan Madura.
“Peran keris memang pudar seiring zaman. Dari fungsi utama dari senjata untuk menikam, menjadi sekadar simbol kedudukan pemiliknya, atau perangkat upacara adat, semenjak kerajaan Mataram mampu membuat bedil dan meriam dengan bantuan ahli dari Turki. Tetapi tradisi pembuatan keris benar-benar terhenti saat masa penjajahan Jepang, antara lain karena semua bahan baku logam terserap untuk kebutuhan perang saat itu,” beber almarhum Djoko Suryono, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dalam tesisnya bertajuk Tranformasi Perubahan Keris di Surakarta.
Dalam tesisnya Joko menyebutkan, usaha Dietrich untuk mengenal dan mempelajari keris sangatlah serius. Antara lain dia mengunjungi museum Basel di Swiss, di mana dia justru menemukan banyak koleksi keris.
Tetapi, terutama dia menggunakan waktunya untuk menelusuri jejak empu pembuat keris di berbagai kota di Pulau Jawa. Akhirnya, setelah mencari beberapa tahun, dia bertemu dengan kakak adik anak Empu Supowinangun di Yogyakarta.
Empu Supowinangun almarhum, dikenal sebagai keturunan ke-15 dari Empu Supodriyo dari kerajaan Majapahit. Anak-anak Supowinangun, Jeno Harumbrojo, Yoso Pangarso dan Genyadiharjo memang mewarisi kemampuan membuat keris, namun ketika Dietrich bertemu dengan mereka, ketiganya sudah tidak lagi membuat keris, hanya perkakas pertanian saja.
“Dengan dukungan dari Dietrcich, mereka kembali membuat keris. Saat itu tradisi pembuatan keris bangkit kembali,” papar Djoko.
Dietrich pun merekrontruksi pembuatan besalen, yakni dapur khusus untuk menempa keris.
Beberapa hal diperbarui, seperti posisi tungku yang dibuat agak tinggi, layaknya pandai besi Eropa, sehingga posisi saat menempa sambil berdiri, bukan jongkok sebagaimana besalen di masa lampau.
Penggunaan perangkat modern lainnya seperti gerinda listrik dan jangka sorong pun tak bisa dihindari. Juga penghembus angin elektrik menggantikan pompa manual ububan. Tapi selebihnya tetap sama.
Gayung bersambut, dalam prosesnya Dietrich bertemu dengan Gendhon Humardani, Kepala Pusat Kebudayaan Jawa Tengah di Solo. Mereka pun bekerja sama, mendidik beberapa empu muda.
Tak seperti tradisi yang telah berlangsung lama, para pemuda itu bukanlah keturunan empu. Mereka belajar berdasar ingatan samar dari keturunan empu yang tersisa.
Dan untungnya masih ada beberapa catatan lama yang otentik, seperti buku Pandameling Duwung dari Sasana Pustaka Keraton Surakarta yang menyimpan ratusan teknik pembuatan hingga pamor keris.
Besalen di Tepi Bengawan Solo
Desa Ngringo, akhir Juni 2026. Bandi (69) atau lengkapnya KRT Bandi Suponingrat, salah satu empu keris hasil didikan Gendhon Humardani dan Dietrich Drescher, tampak beraktivitas di besalen (bengkel pembuatan keris) miliknya di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar.
Dari besalen kecil tidak jauh dari aliran Bengawan Solo itu, Bandi telah menghasilkan sejumlah keris, juga mendidik sejumlah mahasiswa Program Studi Keris dan Metalurgi Terapan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang telah dia lakoni selama beberapa dekade.
”Saya diangkat ASN di sana bukan karena ijazah saya, tapi karena kemampuan saya menempa keris. Ini sudah 6 tahun saya pensiun dari sana, tetapi masih belum dilepas sebagai pengajar,” tutur Bandi.
Saat diwawancarai, Bandi tengah menggarap sebilah keris pesanan seorang pekerja pengeboran minyak. Berdasar kesepakatan, Bandi membuat keris dapur Peksi Kdewatan dengan luk sembilan.
“Kualitas keris terbaik adalah yang menggunakan logam meteor sebagai bahan pamor. Tetapi, jika itu tidak tersedia, bisa menggunakan nikel. Bahkan perajin keris murahan biasa membuat pamor dengan chrome bekas pelapis velg sepeda motor,” tutur Bandi.
Yang dimaksud pamor, adalah pola khas yang muncul pada bilah keris, paduan antara putihnya logam meteor atau nikel dengan baja hitam. Pola ini terbentuk karena proses pelipatan logam dan penempaan yang berlangsung puluhan kali.
Keseluruhan proses pembuatan keris bisa memakan waktu hingga satu bulan, demi menghajar sekitar 3 kg besi dan 100 gram nikel dan membuatnya melebur menjadi sebilah keris yang bobotnya tak lebih dari 300 gram saja.
Proses itu menghabiskan 5-6 karung arang jati dan kehadiran 3-4 orang panjak (pembantu) yang bekerja setidaknya 20 hari.
Di luar proses tempa, ada kerumitan memunculkan tak kurang dari 50 bagian keris. Masih ditambah dengan pembuatan warangka, deder (gagang), pendhok dan aksesoris lainnya.
Sebilah keris jadi dengan kualitas pantas dihargai setidaknya jutaan rupiah. Dengan waktu pengerjaan yang begitu lama, bahan dan tenaga kerja, praktis tidak tersisa banyak untuk si empu keris.
Apalagi, menurut Bandi, tidak setiap bulan ada pesanan. Dia menyebut perbandingan, seorang pandai besi yang membuat perkakas pertanian sederhana bisa mendapat hasil lebih banyak.
Mungkin, itulah sebabnya hingga saat ini tidak terlalu banyak empu keris yang produktif.
Pertanyaannya, apakah kelak tradisi pembuatan keris akan kembali terkubur dan hilang sebagaimana pernah terjadi? Waktu yang akan menjawabnya. (*)
Dietrich Drescher, pelaut Jerman yang menyelamatkan tradisi pembuatan keris Jawa dari kepunahan usai terhenti puluhan tahun.