RIWARA.id – Keraton Surakarta Hadiningrat kembali mengukuhkan komitmennya dalam menjaga kelestarian adat dan merawat ingatan sejarah melalui gelaran tradisi ganti singep (penggantian kain penutup makam) serta songsong (payung kebesaran) di Pasarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Prosesi sakral yang berlangsung khidmat pada Sabtu (4/7/2026) malam tersebut menjadi jembatan spiritual sekaligus kultural untuk menghormati leluhur Dinasti Mataram.
Malam yang senyap di kawasan Pengging seketika berubah penuh dengan nuansa magis yang agung. Tradisi tahunan yang telah berjalan konsisten selama lebih dari dua dekade ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Bagi keluarga besar keraton, riwayat ini merupakan bagian dari upaya besar menjaga kesinambungan sejarah Jawa yang membentang panjang, mulai dari masa akhir Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kerajaan Pajang, hingga melahirkan Dinasti Mataram Islam.
Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, menegaskan bahwa agenda ini telah mengakar kuat dalam kalender adat keraton. Konsistensi selama kurang lebih 20 tahun menjadi bukti nyata bahwa urusan menghormati leluhur tidak boleh luntur oleh gerusan zaman modern.
"Keraton Surakarta sudah sekitar dua puluh tahunan melakukan ganti singep, tutup makam, dan songsong di Pesarean Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat di Pengging. Kegiatan ini kami laksanakan secara rutin setiap tahun," ujar Gusti Moeng kepada wartawan.
Menariknya, denyut tradisi ini kini tidak hanya hidup di dalam benteng keraton, melainkan telah melebur bersama masyarakat luas. Dukungan penuh mengalir dari Pemerintah Desa Dukuh, Pemerintah Kecamatan Banyudono, hingga Pemerintah Kabupaten Boyolali. Sinergi yang apik ini berhasil membawa ritual adat tersebut masuk ke dalam kalender event resmi Kecamatan Banyudono, menjadikannya daya tarik wisata berbasis budaya yang bernilai tinggi.
"Alhamdulillah setiap tahunnya berjalan lancar. Sekarang sudah masuk kalender event Banyudono dan dalam tiga tahun terakhir mulai didukung oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali," tutur Gusti Moeng dengan nada penuh syukur.
Bagi mereka yang mendalami filosofi Jawa, kain singep dan song-song bukan sekadar perlengkapan lahiriah. Penggantian kain putih penutup makam dan payung kebesaran merupakan simbolisasi dari rasa bakti yang tulus. Keraton Surakarta memegang teguh tanggung jawab moral untuk merawat setiap jengkal situs sejarah yang menyimpan jasad para perintis peradaban Nusantara.
Langkah kaki para kerabat keraton dalam berziarah sebenarnya telah memiliki garis tradisi yang amat panjang. Berdasarkan naskah-naskah kuno yang tersimpan rapi di perpustakaan keraton, tradisi ziarah ke makam leluhur ini telah digalakkan sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono XII. Riwayat ziarah tersebut terus dipertahankan secara turun-temurun hingga generasi saat ini.
Jejak ziarah Keraton Surakarta pun tersebar di berbagai wilayah yang memiliki keterikatan historis kuat dengan dinasti Mataram. Selain di Pengging, rombongan keraton juga rutin menyambangi pesarean leluhur yang berada di Pati, Grobogan, Ponorogo, Tegalarum, hingga beberapa situs sejarah penting lainnya. "Ini merupakan bentuk penghormatan kami kepada para leluhur yang menjadi bagian penting sejarah Mataram," imbuh Gusti Moeng.
Jika ditarik garis waktu ke belakang, wilayah Pengging memegang peran yang sangat vital dalam konstelasi politik Jawa kuno. Gusti Moeng mengingatkan bahwa Sinuhun Sri Makurung Handayaningrat merupakan tokoh besar yang hidup jauh sebelum Kerajaan Pajang menancapkan kekuasaannya. Pengging terbukti sudah memiliki struktur pemerintahan yang mapan sejak era keemasan Majapahit.
Mengulas sosok Sri Makurung Handayaningrat, ingatan kita akan dibawa pada sosok pemuda tangguh bernama kecil Jaka Sengara. Ia hidup di masa-masa kritis transisi politik, abad ke-15 hingga awal abad ke-16, ketika Majapahit mulai runtuh dan fajar Kesultanan Demak mulai terbit. Jaka Sengara, putra dari Harya Pandaya III dan Dyah Retna Mundri, mengukir namanya dalam tinta emas sejarah setelah berhasil menyelamatkan putri Raja Majapahit, Ratu Ratna Pembayun, dari penculikan Adipati Menak Daliputih asal Blambangan.
Atas jasa heroik tersebut, Raja Majapahit menganugerahkan gelar kehormatan Sri Makurung Handayaningrat, menyatukannya dalam ikatan pernikahan dengan Ratu Ratna Pembayun, sekaligus memercayakan wilayah Pengging untuk ia pimpin. Dari rahim pernikahan suci ini, lahirlah tiga putra: Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Kebo Amiluhur. Kebo Kenanga inilah yang kelak menurunkan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, sang pendiri Kerajaan Pajang.
Melalui silsilah emas Pajang inilah, trah agung kemudian bercabang membentuk pohon silsilah Dinasti Mataram Islam. Pohon keturunan tersebut pada akhirnya melahirkan Kesultanan Mataram, Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Mangkunegaran, hingga Kadipaten Pakualaman. Maka tidak heran, jika makamnya di Dukuh Malangan, Desa Dukuh, Boyolali tetap dijaga penuh takzim hingga hari ini.
Kini, melalui ritus ganti singep yang khidmat, lilin ingatan akan sejarah luhur itu terus dijaga agar tidak padam. Di tengah gempuran budaya global, pelestarian tradisi ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar tidak kehilangan arah, tetap mengenali akar budaya, serta mengerti cara menghargai perjuangan para pendahulu bangsa. (*)
Keraton Surakarta lestarikan tradisi ganti singep di makam Sri Makurung Handayaningrat Pengging, jaga jejak sejarah sejak era Majapahit.