RIWARA.id – Dalam dunia peperangan, ada satu sosok yang paling ditakuti namun paling jarang terlihat: penembak jitu atau sniper.
Indonesia pernah memiliki satu nama yang goresan sejarahnya tercatat emas di kancah militer internasional, bersanding dengan legenda dunia seperti Simo Häyhä dari Finlandia.
Dalam buku Satu Peluru Satu Musuh Jatuh tulisan wartawan senior A Winardi, kemampuan Tatang dilukiskan, dia berani menjawab tantangan Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Letkol Edi Sudrajat untuk menembak balon seukuran kepalan tangan dari jarak 300 meter.
Tatang bahkan minta jarak tembak dinaikkan hingga 600 meter dan lokasi bukan di lapangan tembak, tapi di lingkungan kota. Hebanya, dia berhasil!
Bagi Tatang, senapan Winchester Model 70 kaliber .30 miliknya bukan sekadar senjata, melainkan perpanjangan dari napas dan detak jantungnya.
Selama Operasi Seroja di Timor Timur (1977–1978), Tatang menjalankan misi-misi mustahil yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kesabaran setebal baja.
Salah satunya, dalam pertempuran sehari di Remexio, tahun 1977, Tatang berhasil menumbangkan 49 prajurit Fretilin.
Saat itu dia membawa 50 butir peluru, dan sesuai pelatihan yang pernah diterimanya dari Green Berret Angkatan Darat AS, seorang sniper selalu menyisakan sebutir untuk bunuh diri seandainya tertangkap lawan.
Rahasia yang Terpendam Selama 25 Tahun
Hal yang paling menggetarkan dari kisah Tatang bukanlah jumlah korban yang ia jatuhkan, melainkan kesetiaannya pada sumpah prajurit. Selama lebih dari dua dekade setelah masa tugasnya berakhir, Tatang merahasiakan identitasnya sebagai sniper andalan TNI, bahkan dari istrinya sendiri, Tati Hayati.
Di rumah, ia adalah sosok ayah yang hangat. Namun di tengah hutan belantara Timor, ia adalah "Siluman" yang mampu merayap sejauh puluhan kilometer di belakang garis musuh tanpa meninggalkan jejak.
Tatang kerap melepaskan satu sepatu kirinya agar jejak kakinya menyerupai penduduk lokal atau binatang hutan—sebuah taktik psikologis untuk mengecoh satuan lawan yang memburunya.
Sejajar dengan Legenda Dunia
Nama Tatang Koswara mendunia setelah masuk dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith.
Dalam buku tersebut, Tatang menempati peringkat ke-13 sniper terbaik dunia dengan 41 confirmed kills.
Namun, para pengamat militer meyakini angka aslinya jauh lebih besar, mengingat banyaknya aksi mandiri yang tidak terdokumentasi secara administratif di medan gerilya yang rapat.
Jika dibandingkan dengan Chris Kyle, sang American Sniper yang fenomenal, Tatang memiliki keunggulan dalam hal kemandirian (survival).
Kyle beroperasi dengan dukungan teknologi satelit dan perlindungan udara, sementara Tatang mengandalkan insting, silet untuk mencukur brewok di hutan, dan beberapa butir kacang merah untuk bertahan hidup selama berhari-hari dalam pengintaian.
Filosofi Satu Peluru, Satu Nyawa
"Satu peluru harus menghasilkan satu nyawa," itulah doktrin yang selalu ia pegang. Tatang tidak hanya membidik raga, ia membidik mentalitas musuh.&nb sp;
Kehadirannya yang tidak terdeteksi menciptakan teror psikologis; bahwa maut bisa datang kapan saja dari arah yang tidak terduga.
Peltu purnawirawan Tatang Koswara wafat pada 3 Maret 2015, sesaat setelah menceritakan pengalamannya dalam sebuah acara bincang-bincang di televisi nasional.
Ia pergi dengan tenang, meninggalkan warisan berupa keberanian dan kerendahan hati seorang prajurit sejati.
Bagi generasi muda TNI dan masyarakat Indonesia, Tatang Koswara adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar seorang ksatria bukan terletak pada dentuman meriam yang paling keras, melainkan pada keheningan yang paling mematikan. (*)
Ari Kristyono




Mengenang Tatang Koswara, sniper legendaris Indonesia yang masuk 13 besar dunia. Simak kisah "Siluman Rimba" yang rahasiakan misi dari istrinya selama 25 tahun.