Pesawat Tempur KF-21 Boramae Mulai Produksi Massal, Bagaimana Nasib Jatah Indonesia?

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 27 Maret 2026 | 13:30 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Uji terbang pesawat tempur KF-21 Boramae di Korea Selatan, Januari lalu
Uji terbang pesawat tempur KF-21 Boramae di Korea Selatan, Januari lalu (Foto: Airforce-technology)

 

RIWARA.id - Korea Selatan meluncurkan contoh pertama pesawat tempur KF-21 buatan dalam negeri yang diproduksi secara massal, Kamis (26/3/2026).

Rencana yang diumumkan sebelumnya, Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) menerima 40 KF-21 pada tahun 2028 dan memiliki armada penuh 120 pesawat yang dikerahkan pada tahun 2032.

Seperti dikutip dari airforce-technology.com, jadwal pengembangan ini sangat mengesankan jika dibandingkan dengan program pesawat tempur generasi baru lainnya, meskipun Seoul telah mengambil beberapa jalan pintas yang signifikan untuk memenuhi jadwal yang agresif ini.

Kecepatan progres tampak dengan peluncuran yang terjadi hanya sekitar lima tahun sejak prototipe pertama pesawat tempur tersebut diperkenalkan.

Program ini secara resmi dilu ncurkan pada tahun 2016, diikuti dengan peluncuran prototipe pertama pada April 2021.

Penerbangan pertama prototipe pada Juli 2022. Pada Mei 2023, KF-21 secara sementara dinilai "layak untuk pertempuran."

Bayangan Kabur Keterlibatan Indonesia

Bagaimana tentang Indonesia yang mendampingi Korea Selatan mewujudkan KF-21 Boramae sejak awal gagasan, yang telah dibicarakan sejak era Presiden SBY ?

Program KF-21 dimulai pada tahun 2000 dengan tujuan mengembangkan pesawat tempur canggih secara mandiri untuk menggantikan armada lama seperti F-4 dan F-5, serta menyesuaikan dengan kebutuhan perang modern sebagai pesawat tempur generasi 4.5.

Dalam proses panjang yang telah berlalu, Indonesia beberapa kali terpaksa menegosiasi ulang mengenai jumlah biaya yang harus ditanggung, karena kesulitan kemampuan bayar.

Bahkan pihak Korsel sempat menuduh insyinyur Indonesia yang bergabung dalam kerja sama itu mencuri sejumlah data sensitif, yang hingga kini belum jelas langkah penyelesaian yang dilakukan kedua negara.

Sebelumnya, dalam perjanjian awal disepakati Korea Selatan menanggung 60 persen, Indonesia 20 persen sedangkan 20 persen sisanya ditanggung Korea Aerospace Industries (KAI) sebagai produsen.

Terakhir, disebutkan Indonesia memutuskan untuk membayar 16 unit pesawat dari rencana semula sebanyak 48 unit.

Namun, kesepakatan untuk itu belum ditandatangani oleh kedua negara.

Hingga kemarin, media Korsel KBS World menyebut finalisasi perjanjian itu akan ditandatangani saat Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Korsel pada akhir Maret.

Selain perjanjian penjualan pesawat tempur, Prabowo direncanakan akan membicarakan kerja sama di bidang lain seperti industri dan kebuda y a an.

Korsel luncurkan produksi massal KF-21 Boramae. Intip progres jet tempur canggih ini dan kelanjutan kerja sama dengan Indonesia.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News