Mengenal Bom Posfor Putih, Mengapa Penggunanya Layak Disebut Tak Punya Nurani

  • Ari Kristyono
  • Kamis, 26 Maret 2026 | 07:55 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Ilustrasi dampak mengerikan penggunaan bom posfor putih dibuat dengan bantuan AI
Ilustrasi dampak mengerikan penggunaan bom posfor putih dibuat dengan bantuan AI (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.ID – Di jagat militer, ia dijuluki sebagai "Willie Pete". Tampak cantik saat meledak di langit, menyerupai kembang api putih yang menjuntai ke bumi.

Namun, bagi siapa pun yang berada di bawahnya, kembang api ini adalah maut yang tak terelakkan. Inilah posfor putih (white phosphorus), senjata yang kembali memicu debat moral global setelah penggunaannya terendus di wilayah Lebanon Selatan baru-baru ini.

Zat kimia ini bukan sekadar alat perang. Ia adalah mimpi buruk yang membakar hingga ke tulang.

Mengapa penggunanya sering kali dianggap telah menanggalkan nurani? Jawabannya ada pada cara kerja zat ini: posfor putih akan terus terbakar saat terpapar oksigen. 

Jika mengenai kulit, ia tidak bisa dipadamkan dengan air. Ia akan teru s menggerogoti daging manusia selama oksigen masih tersedia, bahkan hingga menembus sumsum tulang.

Celah Hukum yang Mematikan

Secara internasional, penggunaan pospor putih diatur dalam Konvensi Senjata Konvensional Tertentu (CCW) melalui Protokol III.

Secara teknis, zat ini tidak dilarang total. Militer di berbagai negara, termasuk produsen besar seperti Amerika Serikat, Rusia, hingga Israel, sering berdalih menggunakannya sebagai "tabir asap" (smokescreen) untuk menutupi pergerakan pasukan atau sebagai penanda target.

Namun, di sinilah letak standar ganda hukum perang. Di bawah payung "tabir asap", senjata ini sering kali dijatuhkan di kawasan padat penduduk.

Saat percikan apinya yang mencapai suhu 800 derajat Celsius menghujani permukiman, warga sipil—termasuk anak-anak—menjadi korban dari senjata yang secara teknis "legal" secara fungsional, namun kriminal secara kemanusiaan.

Jejak Kelam di Berbagai Belahan Dunia

Sejarah mencatat penggunaan posfor putih sebagai senjata yang sangat ditakuti. 

Militer AS pernah menggunakannya dalam taktik "shake and bake" di Fallujah, Irak (2004), untuk memaksa musuh keluar dari lubang persembunyian sebelum akhirnya ditembaki.

Sebelumnya, di Vietnam, zat ini menjadi momok bagi pasukan Viet Cong.

Israel juga memiliki catatan panjang, mulai dari Perang Lebanon Kedua (2006), Operasi Cast Lead di Gaza (2008–2009) yang bahkan mengenai markas PBB, hingga serangan di pelabuhan Gaza dan perbatasan Lebanon pada Oktober 2023. 

Di tempat lain, Rusia dituduh menggunakan zat serupa di Grozny (Chechnya) serta di Mariupol dan Bakhmut selama invasi ke Ukraina.

Bumi Hangus yang Meracuni Masa Depan

Tak hanya manusia, posfor putih adalah agen perusak lingkungan yang brutal. Ia sanggup menghanguskan ribuan hektare hutan dan lahan pertanian dalam sekejap.

Residu kimianya mencemari tanah dengan logam berat seperti kadmium dan timbal, mematikan kesuburan tanah, dan meracuni sumber air.

Bagi para petani yang kembali ke lahan pasca-perang, ancaman tetap ada. Posfor putih yang tertimbun tanah bisa kembali menyala secara spontan saat terangkat oleh cangkul dan terpapar udara.

Menggunakan senjata yang efeknya tidak pandang bulu dan melampaui waktu perang ini bukan lagi soal strategi militer, melainkan soal hilangnya empati kemanusiaan di balik kokpit pesawat dan moncong artileri. (***)

Mengenal bom posfor putih, senjata kimia yang membakar hingga tulang. Simak sejarah kelam dan alasan mengapa penggunaannya dianggap melanggar nurani.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News