Ribuan Orang Berebut Gunungan Kraton Surakarta, Ternyata Ini Makna Sebenarnya di Baliknya

  • Inung R Sulistyo
  • Minggu, 22 Maret 2026 | 01:04 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta
Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

RIWARA.id - Pagi itu belum sepenuhnya terang ketika gelombang manusia mulai bergerak menuju pelataran Kraton Surakarta. Jalan-jalan sempit di sekitar alun-alun berubah menjadi lautan manusia. Anak-anak duduk di pundak ayahnya. Ibu-ibu menggenggam tas plastik kosong. Para pria berdiri siaga, menatap ke arah dalam keraton dengan penuh harap.

Mereka semua menunggu satu hal yang sama,  gunungan.

Di tengah dunia yang semakin modern, pemandangan ini terasa seperti potongan waktu yang menolak bergerak. Ribuan orang berkumpul, bukan untuk konser, bukan untuk kampanye, tetapi untuk sesuatu yang tampak sederhana—tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung.

Namun bagi masyarakat Jawa, gunungan bukan sekadar benda. Ia adalah simbol. Ia adalah doa yang dipadatkan. Ia adalah berkah yang bisa disentuh.

Dan ketika pintu keraton terbuka, semuanya berubah.

 Saat Gunungan Keluar

Barisan Prajurit Kraton Surakarta
Bari san Prajurit Kraton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Barisan prajurit dengan seragam tradisional melangkah keluar terlebih dahulu. Gerakannya ritmis, nyaris seperti tarian. Di belakang mereka, perlahan muncul gunungan tinggi, padat, penuh warna dari sayuran, buah, dan hasil bumi lainnya.

Suasana yang semula hening berubah menjadi riuh.

Orang-orang maju. Barisan mulai rapat. Beberapa bahkan sudah bersiap berlari.

Tak ada aba-aba resmi. Tak ada hitungan mundur.

Namun semua tahu kapan waktunya tiba.

Begitu gunungan diletakkan, kerumunan pecah.

Tangan-tangan terulur. Tubuh saling dorong. Dalam hitungan menit, gunungan yang megah itu berubah menjadi serpihan kecil yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Bagi orang luar, ini mungkin tampak seperti kekacauan.

Namun bagi mereka yang hadir, ini adalah momen sakral.

Berkah yang Diperebutkan

“Kalau dapat, disimpan di rumah. Biar rezeki lancar.”

Kalimat seperti itu sering terdengar dari mereka yang berhasil membawa pulang bagian dari gunungan.

Sebagian masyarakat menaruh hasil gunungan di dapur. Sebagian lainnya menyimpannya di lumbung atau bahkan menanamnya di sawah.

Keyakinannya sederhana: apa yang berasal dari Kraton, yang telah didoakan, membawa berkah.

Tradisi ini dikenal sebagai ngalap berkah—mencari berkah melalui benda yang dianggap memiliki nilai spiritual.

Dan gunungan, dalam konteks Garebeg Maulud, adalah salah satu simbol berkah paling kuat dalam budaya Jawa.

Jejak Sejarah

Gamelan Carabalen Keraton Surakarta Era Paku Buwana X atau PB X
Gamelan Carabalen Keraton Surakarta Era Paku Buwana X atau PB X (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

Namun gunungan tidak selalu seperti yang kita lihat hari ini.

Pada masa Paku Buwana III hingga Paku Buwana X, Garebeg Maulud adalah panggung besar kekuasaan.

Raja bukan hanya pemimpin politik. Ia adalah pusat kosmos. Segala sesuatu berpusat padanya, termasuk kesejahteraan rakyat.

Gunungan menjadi simbol nyata dari peran itu.

Jumlahnya luar biasa:

24 gunungan besar
24 gunungan anakan
24 ancak-cantoko

Total puluhan gunungan yang dibagikan kepada rakyat.

Dalam konteks itu, gunungan bukan sekadar sedekah. Ia adalah pernyataan politik.

Raja menunjukkan bahwa ia mampu memberi. Bahwa ia adalah sumber kesejahteraan. Bahwa ia layak dihormati.

Namun sejarah tidak pernah diam.

Ketika Kekuasaan Memudar, Tradisi Bertahan

Memasuki abad ke-20, situasi berubah drastis.

Kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga lahirnya Republik Indonesia menggeser posisi Kraton.

Pada masa Paku Buwana XI dan seterusnya, kekuasaan raja tidak lagi mutlak.

Dampaknya langsung terasa.

Penyelenggaraan Garebeg Maulud tidak lagi semegah sebelumnya. Jumlah gunungan berkurang drastis. Biaya m en jadi kendala.

Namun yang menarik, tradisi ini tidak hilang.

Ia beradaptasi.

Dari simbol kekuasaan, gunungan berubah menjadi simbol pelestarian budaya.

Dari alat legitimasi politik, ia menjadi identitas kultural.

Dan justru dalam bentuk yang lebih sederhana, ia tetap hidup hingga hari ini.

Bahasa Simbol yang Tidak Pernah Usang

Gunungan bukan hanya benda. Ia adalah sistem simbol yang kompleks.

Gunungan Lanang

Gunungan Lanang
Gunungan Lanang (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Bentuknya tinggi, menjulang. Ia melambangkan laki-laki sebagai pemimpin.

Dalam prosesi, ia selalu berada di depan.

Pesannya jelas: tanggung jawab ada di pundak laki-laki.

Gunungan Wadon: Penyeimbang

Lebih pendek, lebih lembut. Ia melambangkan perempuan.

Namun perannya tidak kalah penting.

Ia adalah penjaga harmoni. Pengasuh. Penyeimbang kehidupan.

Gun u ngan Anakan

Terletak di antara keduanya.

Ia melambangkan anak—masa depan keluarga.

Dalam filosofi Jawa:
“mikul dhuwur mendhem jero”

Anak adalah penerus yang harus menjaga nama baik orang tua.

Ancak-Cantoko

Gunungan kecil ini melambangkan kehidupan yang cukup.

Sandang, pangan, papan.

Namun juga lebih dari itu: keseimbangan antara jasmani dan rohani.

Canthang Balung

Cantang Balung
Cantang Balung

Di tengah kesakralan, muncul sosok aneh.

Canthang balung.

Berpenampilan lucu, bahkan menjijikkan. Bergerak mendekat dan menjauh dari kerumunan.

Sekilas tampak seperti hiburan.

Namun maknanya dalam.

Ia melambangkan godaan.

Dalam kehidupan manusia, godaan selalu ada. Bahkan dalam menjalankan tugas suci sekalipun.

Jika seseorang masih tergoda, berarti ia belum sepenuhnya ikhlas.

Pesan ini sederhana, tetapi relevan hingga hari ini.

Strategi Dakwah yang Nyaris Tak Terlihat

Abdi Dalem Konco Kaji Kraton Surakarta Hadiningrat
Abdi Dalem Konco Kaji Kraton Surakarta Hadiningrat (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

 

Untuk memahami gunungan, kita tidak bisa mengabaikan peran Walisongo.

Khususnya Sunan Kalijaga.

Berbeda dengan pendekatan dakwah yang keras, para wali memilih jalan yang halus.

Mereka tidak menghapus budaya lama.

Mereka mengisinya.

Gamelan tetap dimainkan. Tradisi tetap dijalankan. Namun maknanya diubah.

Sekaten, yang menjadi bagian dari Garebeg, berasal dari Syahadatain—dua kalimat syahadat.

Dua gamelan pusaka:

Tradisi Sekaten Keraton Surakata
Tradisi Sekaten Keraton Surakata (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Kyai Gunturmadu
Kyai Guntursari

melambangkan tauhid dan rasul.

Masyarakat yang datang, yang mendengar, yang ikut dalam ritual, secara perlahan diperkenalkan pada Islam.

Tanpa paksaan.

Tanpa konflik.

Ini ada lah strategi yang cerdas.

Dan terbukti berhasil.

Antara Kepercayaan dan Rasionalitas

Ribuan orang memadati halaman Masjid Gede atau Masjid Agung Keraton Solo untuk merebutkan Gunungan Sekaten 2025
Ribuan orang memadati halaman Masjid Gede atau Masjid Agung Keraton Solo untuk merebutkan Gunungan Sekaten 2025 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Dalam perspektif modern, praktik seperti memperebutkan gunungan mungkin menimbulkan pertanyaan.

Apakah ini sekadar tradisi?

Atau benar-benar diyakini membawa berkah?

Jawabannya tidak sederhana.

Bagi sebagian orang, ini adalah simbol budaya.

Bagi yang lain, ini adalah keyakinan spiritual.

Dan bagi banyak orang, ini adalah kombinasi keduanya.

Dalam antropologi, fenomena ini bisa dilihat sebagai cara masyarakat memberi makna pada kehidupan.

Menghubungkan yang terlihat dengan yang tidak terlihat.

Menghubungkan dunia nyata dengan dunia simbolik.

Kerumunan, Kekacauan, dan Keteraturan yang Tersembunyi

Dari luar, perebutan gunungan terlihat kacau.

Namun jika diamati lebih dekat, ada pola.

Orang-orang yang lebih tua biasanya tidak ikut berebut secara agresif.

Mereka menunggu.

Seri ngkali, mer eka justru mendapatkan bagian dari orang lain yang berbagi.

Ada solidaritas.

Ada kebersamaan.

Di balik kerumunan, ada nilai sosial yang bekerja.

Gunungan di Era Digital

Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta
Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

Di era media sosial, Garebeg Maulud mendapatkan dimensi baru.

Video perebutan gunungan viral.

Foto-foto menyebar luas.

Tradisi yang dulu bersifat lokal kini dikenal secara global.

Namun ini juga membawa tantangan.

Apakah makna spiritualnya tetap terjaga?

Ataukah berubah menjadi sekadar tontonan?

Pertanyaan ini masih terbuka.

Mengapa Tradisi Ini Tidak Pernah Mati

Banyak tradisi hilang ditelan zaman.

Namun gunungan tetap bertahan.

Mengapa?

Jawabannya mungkin terletak pada kemampuannya beradaptasi.

Ia tidak kaku.

Ia berubah meng ikuti zaman, te tapi tetap mempertahankan inti.

Ia juga menyentuh banyak aspek sekaligus:

spiritual
sosial
budaya
bahkan ekonomi

Dan yang terpenting, ia melibatkan masyarakat.

Selama masyarakat masih merasa memiliki, tradisi akan tetap hidup.

Gunungan sebagai Cermin Peradaban

Gunungan Garebeg Maulud bukan sekadar ritual tahunan.

Ia adalah cermin.

Cermin dari:

sejarah panjang Jawa
pertemuan budaya dan agama
perubahan kekuasaan
dan cara manusia mencari makna

Di tengah dunia yang semakin rasional, gunungan mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari logika.

Ada ruang untuk simbol.

Ada ruang untuk kepercayaan.

Ada ruang untuk harapan.

Dan mungkin, itulah sebabnya setiap tahun, ribuan orang tetap datang.

Menunggu.

Berharap.

Dan berebut.*

 

 

Gunungan Garebeg Maulud di Kraton Surakarta bukan sekadar tradisi tahunan. Dari simbol kekuasaan raja hingga media dakwah Islam, inilah makna mendalam di balik perebutan yang selalu ramai.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News