RIWARA.id - Di negeri yang terlalu sering memuliakan kesetiaan tanpa bertanya kepada siapa kesetiaan itu diberikan, sebuah naskah lama terasa seperti peringatan yang datang terlalu dini—atau mungkin, justru terlalu terlambat.
Naskah itu tidak panjang. Hanya tujuh bait. Tidak pula ditulis untuk mengguncang kekuasaan. Ia lahir dari dalam lingkungan istana, dari tangan seorang raja Jawa abad ke-18, KGPAA Mangkunegara IV.
Namun justru karena itulah, Serat Tripama menjadi menarik. Ia bukan kritik dari luar. Ia adalah kegelisahan dari dalam.
Dan kegelisahan itu terasa semakin relevan hari ini.
Kesetiaan yang Terlalu Mudah Diucapkan
Di ruang publik Indonesia, kata “loyalitas” sering terdengar seperti nilai yang tidak perlu dijelaskan. Ia dianggap otomatis baik. Tidak perlu dip ertanyakan.
Pejabat dituntut loyal.
Bawahan harus loyal.
Elite politik berbicara tentang loyalitas seolah itu adalah puncak moralitas.
Namun dalam praktiknya, loyalitas sering kehilangan arah.
Ia tidak lagi menjadi komitmen pada nilai, melainkan pada individu.
Ia tidak lagi berdiri di atas prinsip, melainkan di atas kepentingan.
Dalam situasi seperti ini, Tripama hadir sebagai gangguan yang tenang. Ia tidak berteriak. Ia tidak menuduh. Tetapi ia memperlihatkan sesuatu yang sulit dihindari:
tidak semua kesetiaan layak dipertahankan.
Bait yang Membuka Jalan
Mangkunegara IV membuka Tripama dengan ajakan sederhana:
“Yogyanira kang para prajurit,
Lamun bisa samya anulada…”
Seyogianya para prajurit meneladani.
Ini bukan sekadar pembuka. Ini adalah perintah moral.
Namun yang menarik: ia tidak langsung memberi jawaban. Ia justru menghadirkan tiga contoh—tiga tokoh dengan tiga jalan hidup yang berbeda.
Pilihan diserahkan kepada pembaca.
Standar yang Mulai Hilang
Tokoh pertama adalah Patih Suwanda.
Dalam Tripama, Suwanda digambarkan sebagai prajurit yang memiliki tiga kualitas utama: guna, kaya, purun.
Dalam tafs ir klasik Jawa:
guna → kemampuan berpikir
kaya → kecakapan bertindak
purun → keberanian mengambil risiko
Tiga hal ini membentuk satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan.
Namun jika dilihat dalam realitas hari ini, ketiganya justru sering tercerai.
Banyak yang memiliki jabatan, tetapi tidak memiliki “guna”.
Banyak yang memiliki posisi, tetapi tidak memiliki “kaya”.
Dan banyak yang tampak berani, tetapi keberaniannya hanya berlaku ke bawah, bukan ke atas.
Dalam birokrasi, dalam politik, bahkan dalam dunia korporasi, Suwanda terasa seperti standar yang terlalu tinggi—atau mungkin terlalu tidak nyaman untuk diingat.
Padahal, tanpa tiga hal itu, pengabdian berubah menjadi formalitas.
Kritik yang Tidak Didengar
Tokoh kedua adalah Kumbakarna.
Ia tidak sempurna. Ia bukan simbol moral yang bersih. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Ia berani mengkritik. Ia menegur Rahwana. Ia melihat kesalahan.
Namun ia tetap maju ke medan perang.
Banyak yang membaca ini sebagai kontradiksi. Tetapi dalam tafsir yang lebih dalam, ini adalah realitas kekuasaan.
Tidak semua orang memiliki kebebasan untuk keluar.
Tidak semua orang bisa memilih posisi ideal.
Namun yang membedakan adalah kesadaran.
Kumbakarna sadar. Ia tidak membenarkan kesalahan. Ia hanya memilih untuk tetap melindungi negerinya.
Di Indonesia hari ini, suara seperti Kumbakarna sering ada—tetapi tidak selalu terdengar.
Di internal lembaga, kritik sering dibungkam.
Di partai politik, perbedaan dianggap pengkhianatan.
Di pemerintaha n , dissent dianggap ancaman.
Dalam situasi seperti itu, Tripama mengingatkan:
kritik bukan lawan dari loyalitas. Ia bagian darinya.
Wajah yang Paling Nyata
Tokoh terakhir adalah Adipati Karna.
Dan mungkin, ini adalah bagian yang paling dekat dengan kenyataan.
Karna adalah sosok yang tahu. Ia tidak naif. Ia tidak tersesat.
Namun ia terikat.
Ia terikat oleh hutang budi.
Ia terikat oleh sejarah hidupnya.
Ia terikat oleh hubungan personal.
Dalam politik modern, ini adalah pola yang sangat familiar.
Jabatan diberikan sebagai balas jasa.
Kesetiaan dibangun melalui kedekatan.
Keputusan diambil bukan berdasarkan benar atau salah, tetapi siapa yang memberi.
Karna tidak jatuh karena tidak tahu.
Ia jatuh karena tidak bisa melepaskan.
Dan di situlah tragedinya.
Tripama sebagai Cermin yang Tidak Nyaman
Yang membuat Tripama bertahan bukan karena keindahan bahasanya saja.
Tetapi karena ia memaksa pembacanya untuk bercermin.
Ia tidak memberi jawaban.
Ia memberi kemungkinan.
Dan dari tiga kemungkinan itu, kita bisa melihat diri kita sendiri—atau sistem tempat kita berada.
Apakah kita membangun sistem seperti Suwanda?
Apakah kit a memberi ruang bag i suara seperti Kumbakarna?
Atau justru kita memproduksi lebih banyak Karna?
Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari
Pada akhirnya, Tripama bukan tentang masa lalu.
Ia tentang sekarang.
Tentang bagaimana kita memahami kesetiaan.
Tentang bagaimana kita memilih untuk berdiri.
Dan mungkin, pertanyaan paling penting yang diajukan oleh naskah ini adalah:
ketika kebenaran dan kesetiaan tidak lagi berjalan bersama, kita akan memilih yang mana?*
Inung R Sulistyo






Serat Tripama karya KGPAA Mangkunegara IV yang membedah krisis kesetiaan dan integritas elite Indonesia masa kini melalui tiga tokoh wayang: Patih Suwanda, Kumbakarna, dan Adipati Karna. Analisis tajam ala Tempo, lengkap dengan tafsir sastra dan kritik sosial-politik kontemporer.