Saat Pasukan Majapahit Menjarah Giri, Ribuan Lebah Misterius Tiba-Tiba Menyerang

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 16 Maret 2026 | 05:07 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi kisah dalam Serat Centhini ketika pasukan Majapahit diserang kawanan lebah setelah makam Sunan Giri dibuka.
Ilustrasi kisah dalam Serat Centhini ketika pasukan Majapahit diserang kawanan lebah setelah makam Sunan Giri dibuka. (Foto: Ilustrasi di buat menggunakan teknologi buatan AI)

 

RIWARA.id - Sebuah kisah menarik dari naskah sastra Jawa kuno menceritakan peristiwa dramatis ketika pasukan Majapahit menyerang wilayah Giri. Namun serangan itu berakhir tidak terduga setelah muncul kawanan lebah yang menyerang pasukan kerajaan hingga mereka melarikan diri.

Kisah tersebut terdapat dalam pupuh Megatruh yang menceritakan konflik antara kekuasaan Majapahit dan pusat keagamaan Giri yang dipimpin para wali.

Sebagaimana dikutip riwara.id pada Senin, 26 Maret 2026, kisah ini merujuk pada teks dalam buku Serat Centhini koleksi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (1991), Penerbit Yayasan Centhini.

Kemarahan Raja Majapahit

Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Raja Majapahit yang disebut sebagai Prabu dari Majalangu mendengar kabar tentang kuatnya pengaruh Sunan Giri di tanah Jawa. Kepemimpinan spiritual itu kemudian diteruskan oleh Sunan Prapen.

Kabar tersebut membuat sang raja merasa khawatir kekuasaan kerajaan akan terganggu oleh pengaruh para wali. Karena itu ia memerintahkan pasukan besar untuk menyerang wilayah Giri.

Pasukan Besar Bergerak ke Giri

Perintah kerajaan segera dilaksanakan oleh para panglima dan bangsawan Majapahit. Pasukan besar diberangkatkan menuju Giri dengan kekuatan yang digambarkan seperti gelombang laut yang meluap.

Sunan Prapen yang mengetahui rencana tersebut mencoba menghadapi serangan itu. Namun jumlah pasukan Majapahit jauh lebih besar sehingga pertempuran berlangsung sengit.

Dalam pertempuran tersebut pasukan Giri akhirnya mengalami kekalahan. Banyak prajurit yang gugur, sementara sebagian lainnya melarikan diri untuk menyelamatkan diri.

Sunan Prapen bersama keluarga dan para pengikutnya kemudian meninggalkan wilayah Giri.

Kota Giri Dibumihanguskan

Setelah berhasil menguasai wilayah tersebut, pasukan Majapahit membumihanguskan kota Giri. Bangunan dihancurkan dan harta benda dijarah hingga kota itu berubah menjadi puing dan abu.

Tidak berhenti di situ, pasukan Majapahit kemudian menuju makam Sunan Giri, seorang wali besar yang telah wafat sebelumnya.

Di makam tersebut hanya ada dua orang penjaga yang setia merawat tempat peristirahatan sang wali.

Makam Sunan Giri Dibuka Paksa

Pasukan Majapahit memerintahkan kedua penjaga makam untuk menggali dan membuka makam tersebut. Mereka bahkan mengancam akan membunuh penjaga makam jika menolak perintah.

Karen a terpaksa, kedua penjaga itu akhirnya menggali makam hingga penutupnya sedikit terbuka.

Namun sesuatu yang tak terduga kemudian terjadi.

Ribuan Lebah Menyerang Pasukan Majapahit

Ketika penutup makam dibuka, tiba-tiba keluar ribuan lebah dari dalam makam tersebut.

Kawanan lebah itu langsung menyerang pasukan Majapahit. Sengatan lebah membuat para prajurit panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Pasukan yang sebelumnya gagah berani berubah menjadi kacau. Banyak di antara mereka menjatuhkan senjata dan melarikan diri.

Serangan lebah bahkan terus mengejar hingga ke wilayah Majapahit.

Raja Majapahit Ketakutan

Peristiwa tersebut membuat Raja Majapahit sangat gugup karena tidak mampu menghentikan serangan lebah yang terus mengejar pasukannya.

Akhirnya sang raja memilih meninggalkan istana bersama para pengikutnya.

Setelah kota menjadi kosong, kawanan lebah itu perlahan menghilang dan keadaan kembali tenang.

Peristiwa tersebut dalam kisah Jawa lama dianggap sebagai tanda kesaktian dan kemuliaan Sunan Giri, bahkan setelah beliau wafat.

Janji Tidak Mengganggu Giri

Kisah tersebut juga menyebut bahwa setelah kejadian itu Raja Majapahit berjanji tidak akan lagi mengganggu para ulama di Giri.

Ia menyadari bahwa kekuatan spiritual para wali tid a k dapat dilawan dengan kekuatan militer semata.

Sementara dua penjaga makam Sunan Giri yang setia menjaga makam sang wali kemudian disebut memperoleh anugerah karena kesetiaan mereka.

Kisah ini menjadi bagian dari tradisi sastra Jawa yang menggambarkan masa peralihan kekuasaan dari era Majapahit menuju munculnya pengaruh besar Islam di tanah Jawa.*

 

Kisah dalam Serat Centhini menceritakan serangan Majapahit ke Giri dan munculnya ribuan lebah dari makam Sunan Giri yang membuat pasukan kerajaan panik dan melarikan diri.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News