RIWARA.id - Sebuah bayi dimasukkan ke dalam peti lalu dihanyutkan ke laut. Tak seorang pun menyangka, anak yang dibuang dari istana Balambangan itu kelak tumbuh menjadi tokoh besar dalam sejarah Islam Jawa. Dalam naskah Serat Centhini, kisah tersebut dikenang sebagai awal perjalanan hidup Sunan Giri, seorang wali yang kemudian dikenal sebagai raja pandita dan pemimpin spiritual di Giri Kedaton.
Di antara ratusan manuskrip sastra Jawa yang diwariskan dari masa lampau, Serat Centhini sering disebut sebagai salah satu karya terbesar. Ia bukan sekadar kumpulan cerita, melainkan sebuah ensiklopedia kebudayaan Jawa yang mencatat beragam aspek kehidupan: agama, kesenian, perjalanan spiritual, hingga sejarah tokoh-tokoh penting dalam perkembangan Islam di Jawa.
Di dalam tembang-tembang macapatnya, terdapat kisah panjang mengenai perjalanan hidup seorang tokoh yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri, seorang wali yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.
Sebagaimana dikutip riwara.id pada Senin, 26 Maret 2026, kisah ini merujuk pada teks dalam buku Serat Centhini koleksi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktor at Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (1991), Penerbit Yayasan Centhini.
Dalam teks yang ditulis dalam bentuk tembang macapat—diawali pupuh Sinom dan dilanjutkan pupuh Kinanti—cerita ini menuturkan perjalanan spiritual yang penuh drama. Ia dimulai dari kisah seorang ulama dari tanah Arab, pernikahan dengan putri kerajaan di ujung timur Jawa, kelahiran seorang bayi yang dihanyutkan ke laut, hingga berdirinya pusat dakwah Islam yang kelak dikenal sebagai Giri Kedaton.
Kisah ini bergerak seperti kronik sejarah yang bercampur legenda. Namun justru dalam perpaduan itulah terletak kekuatan tradisi sastra Jawa.
Ulama dari Jeddah
Cerita dalam Serat Centhini dimulai dengan tokoh bernama Seh Walilanang. Ia digambarkan sebagai seorang ulama dari Jeddah, kota pelabuhan di tanah Arab yang sejak lama menjadi pintu gerbang perjalanan haji dan perdagangan dunia Islam.
Dalam narasi serat tersebut, Walilanang datang ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam. Perjalanan itu menggambarkan bagaimana jaringan ulama pada masa lampau sudah terhubung antara Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Setibanya di Jawa, Walilanang terlebih dahulu singgah di Ngampel, sebuah pusat pembelajaran Islam yang pada masa itu dipimpin oleh ulama besar yang dikenal dalam tradisi Jawa sebagai Sunan Ampel.
Di tempat itu ia berdiskusi dengan para ulama mengenai berbagai ajaran agama, mulai dari syariat hingga tasawuf. Pertemuan itu mencerminkan dinamika intelektual dunia Islam di Nusantara pada masa awal penyebarannya.
Namun Walilanang tidak lama tinggal di Ngampel. Ia melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Tujuannya adalah Balambangan, sebuah kerajaan yang pada masa lampau berada di ujung timur Pulau Jawa.
Kerajaan di Ujung Timur
Balambangan pada masa itu dikenal sebagai salah satu kerajaan penting di wilayah timur Jawa. Dalam berbagai sumber sejarah, wilayah ini sering digambarkan sebagai daerah yang masih mempertahankan tradisi lama ketika pengaruh Islam mulai menyebar di Jawa bagian barat dan tengah.
Ketika Walilanang tiba di sana, kerajaan tersebut sedang diliputi kegelisahan. Putri raja mengalami penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh para tabib istana.
Segala cara telah dicoba, tetapi tidak ada yang berhasil.
Dalam keadaan itulah seorang pejabat kerajaan bernama Patih Samboja menghadap raja. Ia menyampaikan kabar bahwa di wilayah kerajaan terdapat seorang ulama asing yang memiliki kemampuan luar biasa.
Menurut sang patih, ulama tersebut adalah Seh Walilanang, seorang tokoh dari tanah Arab.
Raja akhirnya memerintahkan agar Walilanang dipanggil ke istana.
Penyembuhan Sang Putri
Walilanang datang ke istana Balambangan dan diterima dengan penuh kehormatan. Setelah mendengar kisah tentang penyakit sang putri, ia kemudian diminta untuk mengobatinya.
Dalam cerita Serat Centhini, penyembuhan itu digambarkan berlangsung cepat. Sang putri kembali sehat setelah Walilanang memberikan pengobatan dan doa.
Raja Balambangan sangat bersyukur atas kesembuhan anaknya.
Sebagai tanda terima kasih, raja kemudian mengambil keputusan besar: ia menikahkan putrinya dengan Walilanang.
Pernikahan itu mengikat hubungan antara ulama dari tanah Arab dengan keluarga kerajaan Jawa.
Namun kisah ini belum berakhir.
Perbedaan Keyakinan
Setelah menikah, Walilanang mulai mengajak raja Balambangan untuk memeluk agama Islam. Ia berharap kerajaan tersebut dapat mengikuti ajaran Nabi Muhammad.
Namun raja menolak ajakan tersebut.
Perbedaan keyakinan ini menjadi sumber ketegangan.
Walilanang akhirnya memutuskan meninggalkan Balambangan dan melanjutkan perjalanan menuju Malaka, sebuah pelabuhan penting yang pada masa itu menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara.
Keputusan itu diambil ketika istrinya sedang mengandung.
Perpisahan tersebut menjadi salah satu bagian paling tragis dalam kisah ini.
Bayi yang Dihanyutkan ke Laut
Ketika waktu kelahiran tiba, sang putri melahirkan seorang bayi laki-laki.
Namun raja Balambangan mengambil keputusan yang sangat keras.
Bayi tersebut diperintahkan untuk dibuang ke laut.
Para abdi kerajaan melaksanakan perintah tersebut. Bayi itu dimasukkan ke dalam sebuah peti dan dihanyutkan ke samudra.
Peristiwa ini menjadi salah satu adegan paling dramatis dalam cerita Serat Centhini.
Namun takdir berkata lain.
Ditemukan oleh Saudagar
Peti yang berisi bayi itu ditemukan oleh seorang saudagar yang sedang berlayar di laut.
Saudagar tersebut terkejut melihat isi peti itu. Ia kemudian membawa bayi tersebut ke wilayah Giri dan menyerahkannya kepada seorang perempuan kaya yang dikenal sebagai Nyi Randha Sugih.
Wanita ini tidak memiliki anak.
Ketika melihat bayi itu, hatinya langsung tergerak. Ia mengangkat bayi tersebut sebagai anaknya sendiri.
Bayi itu diberi nama Santrigiri.
Masa Kecil Santrigiri
Santrigiri tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Nyi Randha Sugih merawatnya seperti anak kandung.
Sejak kecil Santrigiri menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia memiliki ketertarikan besar terhadap ilmu agama.
Ketika usianya cukup, ibu angkatnya menyarankan agar ia menuntut ilmu kepada seorang ulama besar di Jawa.
Ulama itu adalah Sunan Ampel di Ngampel.
Santrigiri kemudian berangkat untuk belajar agama di sana.
Persahabatan dengan Sunan Bonang
Di pesantren Ngampel, Santrigiri bertemu dengan seorang murid lain yang kelak menjadi sahabatnya: Santri Bonang, putra Sunan Ampel.
Kedua pemuda itu belajar bersama. Mereka mempelajari berbagai ilmu agama, dari tafsir hingga tasawuf.
Kecerdasan mereka membuat para guru kagum.
Setelah menyelesaikan pendidikan, keduanya memutuskan melanjutkan perjalanan ilmu ke Mekah.
Pertemuan di Malaka
Dalam perjalanan menuju Mekah, Santrigiri dan Santri Bonang singgah di Malaka.
Di kota pelabuhan itu mereka bertemu dengan seorang ulama yang ternyata adalah Seh Walilanang.
Pertemuan ini menjadi titik balik dalam cerita.
Walilanang melihat bakat besar dalam diri kedua pemuda tersebut. Ia kemudian memberikan berbagai ajaran spiritual kepada mereka.
Namun ketika mereka ingin melanjutkan perjalanan ke Mekah, Walilanang justru meminta mereka kembali ke Jawa.
Ia percaya masa depan dakwah Islam di Jawa berada di tangan mereka.
Berdirinya Giri Kedaton
Setelah kembali ke Jawa, Santrigiri menetap di wilayah Giri.
Di sana ia membangun pusat pendidikan agama yang kemudian berkembang pesat. Banyak orang datang dari berbagai daerah untuk belajar .
Wilayah Giri digambarkan dalam Serat Centhini sebagai tempat yang makmur dan damai.
Sunan Giri kemudian dikenal sebagai raja pandita, seorang pemimpin spiritual yang dihormati oleh masyarakat.
Konflik dengan Majapahit
Menurut cerita dalam serat tersebut, Raja Majapahit Brawijaya mendengar bahwa banyak rakyat yang tunduk kepada Sunan Giri.
Ia khawatir pengaruh Giri akan mengancam kekuasaan kerajaan.
Akhirnya ia mengirim pasukan untuk menyerang Giri.
Namun dalam cerita tersebut digambarkan terjadi sebuah keajaiban.
Sunan Giri yang sedang menulis Al-Qur’an kemudian berdoa kepada Tuhan. Pena yang digunakannya berubah menjadi senjata yang menyerang pasukan Majapahit.
Pasukan kerajaan ketakutan dan melarikan diri.
Akhir Kehidupan Sunan Giri
Setelah bertahun-tahun memimpin Giri sebagai pusat dakwah, Sunan Giri akhirnya jatuh sakit.
Ketika wafat, masyarakat Giri berduka. Ia dimakamkan di Giri dan meninggalkan banyak murid serta keturunan.
Kepemimpinan Giri kemudian diteruskan oleh anak-anaknya.
Kisah dalam Serat Centhini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memandang para wali sebagai tokoh spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam perubahan sosial dan budaya.
Melalui tembang macapat, sejarah disampaikan dalam bentuk cerita yang mudah diin gat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Perjalanan Sunan Giri dalam serat ini tidak hanya menggambarkan penyebaran agama, tetapi juga perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Dan seperti banyak kisah besar dalam sejarah Nusantara, semuanya bermula dari sebuah peristiwa kecil yang tak terduga:
seorang bayi yang dihanyutkan ke laut.*
Inung R Sulistyo






Kisah Sunan Giri dalam Serat Centhini: dari bayi yang dihanyutkan ke laut di Balambangan hingga menjadi raja pandita dan pemimpin spiritual di Giri Kedaton.