Zaman Edan di Era Digital: Ketika Kebenaran Tak Lagi Dicari, Tapi Diciptakan

  • Inung R Sulistyo
  • Kamis, 19 Maret 2026 | 00:34 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi Seorang pria tampak tertekan di tengah derasnya arus informasi digital yang dipenuhi hoaks dan disinformasi di media sosial, menggambarkan fenomena “zaman edan” di era banjir konten yang memicu kecemasan publik.
Ilustrasi Seorang pria tampak tertekan di tengah derasnya arus informasi digital yang dipenuhi hoaks dan disinformasi di media sosial, menggambarkan fenomena “zaman edan” di era banjir konten yang memicu kecemasan publik. (Foto: Ilustrasi di buat menggunakan teknologi buatan AI)

 

RIWARA.id - Pukul 07.12 WIB, sebuah video berdurasi 47 detik beredar di berbagai platform media sosial. Dalam video itu, seorang pejabat terlihat mengucapkan pernyataan kontroversial. Dalam waktu kurang dari satu jam, video tersebut telah ditonton ratusan ribu kali, dibagikan tanpa henti, dan memicu perdebatan sengit.

Sebagian percaya. Sebagian meragukan. Sebagian lainnya tidak peduli, tetapi tetap ikut menyebarkan.

Dua jam kemudian, muncul klarifikasi: video itu telah dipotong. Pernyataan aslinya berbeda.

Namun klarifikasi itu tenggelam.

Di titik inilah, realitas menjadi kabur. Fakta bukan lagi soal apa yang benar-benar terjadi, tetapi apa yang dipercaya orang telah terjadi.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia adalah gejala zaman.

Lebih dari satu abad lalu, Ronggowarsito telah menuliskannya dalam Serat Kalatidha—tentang sebuah era yang ia sebut sebagai “zaman edan”.

Hari ini, istilah itu terasa semakin nyata.

Kebenaran yang Kehilangan Otoritas

Dalam tradisi klasik, kebenaran memiliki otoritas. Ia menjadi rujukan bersama. Dalam hukum, ia menjadi dasar keadilan. Dalam agama, ia menjadi pedoman hidup. Dalam ilmu pengetahuan, ia menjadi tujuan pencarian.

Namun modernitas menggeser posisi itu.

Filsuf Prancis Michel Foucault berargumen bahwa kebenaran tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu terkait dengan kekuasaan. Siapa yang berkuasa, memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang dianggap benar.

Dalam dunia kontemporer, kekuasaan itu tidak hanya berada di tangan negara atau institusi. Ia juga berada di tangan platform digital, algoritma, dan bahkan individu.

Kebenaran tidak lagi bersifat tunggal.

Ia terfragmentasi.

Ekonomi Perhatian dan Produksi Kebenaran

Dalam lanskap digital, perhatian adalah mata uang utama.

Platform media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma bekerja dengan cara yang sederhana: menampilkan konten yang paling mungkin membuat pengguna bertahan.

Menurut laporan Reuters Institute for the Study of Journalism, lebih dari 60% pengguna internet global mengakses berita melalui media sosial. Ini mengubah cara berita dikonsumsi dan juga diproduksi.

Konten yang menarik perhatian biasanya memiliki karakteristik tertentu:

Emosional

Provokatif

Sederha na

Mudah dibagi kan

Masalahnya, kebenaran sering kali tidak memiliki karakteristik tersebut.

Akibatnya, terjadi distorsi.

Yang menarik belum tentu benar. Yang benar belum tentu menarik.

Data yang Mengungkap Realitas

Penelitian dari MIT menemukan bahwa berita palsu menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan berita benar di platform digital.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa sistem informasi saat ini cenderung memperkuat disinformasi.

Sementara itu, studi dari University of Oxford menyebutkan bahwa kita hidup dalam era post-truth, di mana fakta objektif kurang berpengaruh dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi.

Dalam konteks ini, kebenaran menjadi relatif.

Rasionalitas yang Berubah Fungsi

Secara teoritis, manusia adalah makhluk rasional. Namun dalam praktiknya, rasionalitas sering kali digunakan untuk membenarkan keyakinan, bukan untuk mengujinya.

Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan confirmation bias—hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya.

Media sosial memperkuat kecenderungan ini melalui algoritma.

Akibatnya, terbentuklah echo chamber.

Dalam ruang ini:

Pandangan diperkuat

Perbedaan ditolak

Dialog terhambat

Politik dalam Era Post-Truth

Dalam politik, fenomena ini menjadi semakin kompleks.

Narasi menjadi alat utama. Fakta sering kali disusun untuk mendukung narasi, bukan sebaliknya.

Seorang analis dari Harvard University menyebut bahwa dalam era modern, persepsi publik sering lebih menentukan daripada fakta objektif.

Ini menciptakan ruang bagi manipulasi.

Membaca Ulang “Zaman Edan”

Dalam Serat Kalatidha, Ronggowarsito menggambarkan kondisi sosial yang penuh kekacauan.

Ia menulis tentang:

Pemimpin yang kehilangan arah

Sistem yang tidak berfungsi

Masyarakat yang terjebak dalam dilema

Salah satu baitnya berbunyi:

“Melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni, ora keduman melik...”

Bait ini menggambarkan dilema moral yang masih relevan hingga hari ini.

Indonesia dalam Cermin Zaman

Di Indonesia, fenomena disinformasi menjadi tantangan serius.

Data dari Kominfo mencatat ribuan hoaks beredar setiap tahun.

Sementara itu, survei Katadata Insight Center menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat masih bervariasi.

Ini menciptakan kondisi yang rentan terhadap manipulasi informasi.

Spiritualitas sebagai Alternatif

Di tengah krisis ini, konsep eling lan waspada yang diajukan Ronggowarsito menjadi relevan.

Eling berarti sadar.
Waspada berarti berhati-hati.

Dalam konteks modern, ini dapat diartikan sebagai:

Kesadaran kritis

Kehati-hatian dalam menerima informasi

Kemampuan un tuk menahan diri

Kesadaran sebagai Bentuk Perlawanan

Dalam dunia yang penuh manipulasi, kesadaran menjadi bentuk perlawanan.

Ia memungkinkan manusia untuk:

Tidak mudah terpengaruh

Memahami konteks

Menolak narasi yang menyesatkan

Ini adalah inti dari resistensi terhadap “zaman edan”.

 Pilihan yang Tersisa

Pada akhirnya, manusia dihadapkan pada pilihan.

Mengikuti arus, atau melawan.

Menerima narasi, atau mencari kebenaran.

Dalam dunia yang semakin kompleks, pilihan ini tidak mudah.

Namun seperti yang diingatkan oleh Ronggowarsito:

“Luwih begja kang eling lan waspada.”

Yang lebih beruntung adalah mereka yang sadar dan waspada.*

 

Mengupas disinformasi, media sosial, politik post-truth, serta relevansi pemikiran Ronggowarsito dalam menghadapi zaman edan modern.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News