RIWARA.id - Di era ketika semua orang bisa menjadi “guru” dan setiap opini menemukan panggungnya sendiri, batas antara pengetahuan dan kesombongan kian kabur. Kata-kata diproduksi tanpa jeda, kebenaran diklaim tanpa proses, dan kebijaksanaan direduksi menjadi sekadar retorika. Dalam riuhnya suara yang saling berebut perhatian, justru yang paling sunyi—yakni kedalaman laku—perlahan menghilang.
Keganjilan ini bukan semata gejala zaman digital. Berabad silam, Sri Susuhunan Pakubuwana IV telah menangkap ironi serupa dalam Serat Wulangreh. Ia menulis tentang manusia yang fasih berbicara namun miskin pemahaman, tentang mereka yang merasa telah sampai padahal belum benar-benar berjalan. Sebuah potret yang hari ini terasa bukan sekadar relevan, melainkan kian nyata di hadapan kita.
Pada bait pembuka, tersirat kegelisahan yang dalam terhadap fenomena manusia yang gemar tampil bijak tanpa fondasi yang kokoh.
“Cumantaka aniru pujangga, dahat muda ing batine… basa kang kalantur, turur kang katula-tula.”
Kutipan ini menggambarkan sosok yang berusaha meniru pujangga pandai merangkai kata, fasih berbicara, namun miskin kedalaman batin. Bahasa menjadi alat pencitraan, bukan cermin kebenaran. Dalam konteks hari ini, fenomena tersebut menjelma dalam berbagai bentuk: dari opini instan di media sosial hingga ceramah yang lebih mengedepankan retorika daripada substansi.
Lebih jauh, Serat Wulangreh menyinggung persoalan yang lebih mendasar: hilangnya pemahaman akan “rasa sejati”. Dalam tradisi Jawa, “rasa” bukan sekadar perasaan, melainkan kesadaran batin terdalam yang menjadi inti kebijaksanaan.
“Akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu.”
Banyak yang merasa telah mencapai pemahaman tertinggi, padahal belum menyentuh hakikat rasa itu sendiri. Klaim kebenaran menjadi mudah diucapkan, tetapi sulit dipertanggungjawabkan secara batin. Inilah yang menjadikan kehidupan tampak rapuh—tidak memiliki pijakan yang kokoh.
Dimensi spiritual dalam Serat Wulangreh juga mengandung peringatan keras. Kebenaran sejati, disebutkan, berakar pada Al-Qur'an. Namun, akses terhadap kebenaran itu tidak otomatis menjamin pemahaman yang benar.
“Jroning Quran nggoning rasa yekti… nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan.”
Tanpa tuntunan yang tepat, pemahaman yang serampangan justru berujung pada kesesatan. Dalam konteks modern, hal ini tampak pada maraknya tafsir instan—potongan ayat yang digunakan untuk membenarkan kepentingan tertentu, tanpa melalui proses pemahaman ya ng utuh.
Di titik ini, Serat Wulangreh menekankan pentingnya otoritas guru. Namun, guru yang dimaksud bukan sekadar sosok yang pandai berbicara, melainkan yang memiliki integritas moral, kedalaman ilmu, dan keteladanan dalam laku.
“Amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum.”
Guru sejati adalah mereka yang hidup dalam ajaran yang disampaikannya, bukan yang sekadar menjual kata-kata. Namun, di sinilah problem zaman muncul. Otoritas keilmuan tidak lagi selalu ditentukan oleh kedalaman, melainkan oleh popularitas.
Serat Wulangreh mengingatkan agar setiap ajaran tidak diterima secara mentah. Tradisi intelektual menuntut adanya proses penyaringan.
“Saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang: dalil, hadis, ijma’, lan qiyas.”
Prinsip ini mencerminkan etika berpikir kritis yang telah lama hidup dalam khazanah keilmuan. Namun, di era kecepatan informasi, proses ini kerap diabaikan. Kepercayaan diberikan bukan karena kebenaran, melainkan karena viralitas.
Kritik menjadi semakin tajam ketika menyentuh fenomena kesombongan spiritual—sebuah kondisi di mana seseorang merasa telah “sampai”, lalu meninggalkan dasar-dasar ajaran.
“Banjure mbuwang sarengat, batal haram nora nganggo den rawati, bubrah sakehing tata.”
Dalam konteks ini, kesombongan bukan hanya persoalan moral pribadi, tetapi juga ancaman bagi tatanan sosial. Ketika aturan ditinggalkan atas nama “pemahaman tinggi”, yang terjadi bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan.
Puncak kritik dalam Pupuh Dhandhanggula terletak pada gambaran tentang perubahan relasi antara guru dan murid.
“Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru ingkang golek sabat… Kyai guru narutuk ngupaya murid.”
Sebuah ironi yang tajam: jika dahulu murid bersusah payah mencari guru, kini justru guru yang mencari murid. Pergeseran ini tidak sekadar menunjukkan perubahan zaman, tetapi juga transformasi nilai. Ilmu tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai jalan menuju kebijaksanaan, melainkan sebagai instrumen untuk membangun pengaruh dan legitimasi sosial.
Fenomena ini menemukan relevansinya dalam realitas kontemporer. Di tengah kompetisi perhatian, otoritas sering kali dibangun melalui citra, bukan substansi. Popularitas menjadi tolok ukur, sementara kedalaman perlahan terpinggirkan.
Serat Wulangreh, dalam hal ini, tidak hanya berbicara kepada individu, tetapi juga kepada masyarakat secara keseluruhan. Ia mengingatkan bahwa krisis terbesar bukanlah kurangnya ilmu, melainkan hilangnya kejujuran dalam mengamalkan ilmu tersebut.
Bahwa tidak semua yang fasih berbicara layak diikuti. Bahwa tidak semua yang tampak religius benar-benar memahami. Dan bahwa tidak semua yang populer memiliki kedalaman.
Dalam lanskap yang kian bising oleh klaim kebenaran, ajaran klasik ini menawarkan satu jalan sunyi: kembali pada kejernihan rasa, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam belajar.
Pada akhirnya, Serat Wulangreh menegaskan satu hal yang sederhana namun mendasar:
bahwa ilmu sejati tidak diukur dari seberapa banyak ia diucapkan, melainkan dari seberapa dalam ia dihidupi.*
Inung R Sulistyo






Refleksi mendalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV tentang krisis moral, kesombongan ilmu, dan fenomena guru mencari murid di era modern yang sarat opini namun miskin laku.