“IHSG Berbalik Anjlok Setelah Sempat Naik 1%, Saham Energi dan Tambang Rontok

  • Inung R Sulistyo
  • Kamis, 12 Maret 2026 | 08:45 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pelemahan ke level 7.389 pada penutupan perdagangan 11 Maret 2026
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pelemahan ke level 7.389 pada penutupan perdagangan 11 Maret 2026 (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, indeks komposit melemah 0,69 persen ke level 7.389,39.

Pelemahan tersebut dipicu oleh tekanan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor energi dan pertambangan. Beberapa saham yang menjadi pemberat utama indeks antara lain saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak cukup volatil. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.527,31 dan terendah di 7.380,8. Padahal pada sesi pertama perdagangan, IHSG sempat menguat lebih dari 1 persen sebelum akhirnya berbalik melemah pada penutupan pasar.

Nilai Transaksi Tembus Rp15,7 Triliun

Aktivitas perdagangan saham di pasar domestik terbilang cukup ramai. Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp15,71 triliun.

Total saham yang diperdagangkan mencapai 32,2 miliar lembar dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,84 juta kali jual–beli.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 312 saham berhasil menguat. Namun, tekanan pasar membuat 366 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, sebanyak 139 saham tercatat tidak mengalami perubahan atau stagnan.

Sektor Energi dan Barang Baku Tekan IHSG

Sejumlah sektor menjadi penyumbang utama pelemahan indeks. Sektor barang baku, energi, dan perindustrian menjadi yang paling tertekan.

Sektor barang baku tercatat melemah hingga 2,02 persen, diikuti sektor energi yang turun 2,01 persen. Sementara sektor perindustrian mengalami pelemahan sebesar 1,33 persen.

Tekanan dari sektor-sektor tersebut membuat laju IHSG kembali ke zona negatif menjelang akhir perdagangan.

Saham LQ45 Jadi Pemberat Utama

Pelemahan IHSG juga dipicu oleh tekanan dari saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45.

Salah satu yang mengalami koreksi tajam adalah saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Saham ini anjlok lebih dari 7 persen hingga menyentuh level Rp9.625 per saham.

Koreksi saham AADI disebut memberikan kontribusi penurunan terhadap IHSG hingga sekitar 4,81 persen.

Selain itu, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga mengalami penurunan cukup dalam dengan koreksi sebesar 6,33 persen.

Sementara saham PT Bumi Resources Tbk tercatat melemah 5,84 persen sehingga turut menekan kinerja indeks komposit.

Tekanan Jual Investor Asing< /strong>

Head of Department BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani mengatakan secara teknikal pergerakan IHSG masih tertahan di bawah level psikologis penting.

Menurutnya, kondisi tersebut juga diperparah oleh aksi jual investor asing di pasar saham domestik.

“Pergerakan IHSG masih tertahan di bawah level psikologis dengan disertai net foreign sell sekitar Rp730 miliar, yang mengindikasikan adanya tekanan distribusi dari investor asing,” ujarnya dalam riset yang dikutip Kamis (12/3/2026).

Aksi jual investor asing tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan penguatan IHSG dalam beberapa waktu terakhir.

Dipengaruhi Ketidakpastian Global

Selain faktor teknikal, pasar saham domestik juga dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian global.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran disebut turut memengaruhi sentimen pasar global.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Banyak investor yang memilih strategi trading jangka pendek untuk meminimalkan risiko di tengah situasi global yang belum stabil.

Selain itu, pelaku pasar juga cenderung menerapkan sikap wait and see menjelang periode libur panjang Lebaran.

Proyeksi Pergerakan IHSG

Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan selanjutnya.

Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak di area support pada kisaran 7.335 hingga 7.200.

Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada rentang 7.440 hingga 7.500.

Pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, arus dana asing, serta kinerja saham-saham berkapitalisasi besar di pasar domestik.

Daftar Saham Pemberat IHSG

Berikut 10 saham yang menjadi pemberat terbesar IHSG:

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membebani 14,2 poin

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 9,89 poin

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membebani 6,5 poin

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membebani 3,67 poin

PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) membebani 3,51 poin

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membebani 3,42 poin

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membebani 3,82 poin

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membebani 2,47 poin

PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP) membebani 2,37 poin

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani 2,33 poin

Secara keseluruhan, tekan an dari saham-saham besar tersebut membuat IHSG gagal mempertahankan penguatan yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.*

IHSG ditutup melemah 0,69% ke level 7.389,39 pada perdagangan 11 Maret 2026. Saham AMMN, BUMI, hingga ENRG menjadi pemberat utama indeks di tengah tekanan jual investor asing.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News