RIWARA.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis informasi terbaru aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di Flores pasca gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026.
Hingga 30 hari pasca gempa tersebut, terjadi sebanyak 15.722 gempa susulan dengan magnitudo M0,9 - M6,2.
Hasil survei lapangan di 7 kabupaten terdampak, juga menunjukkan guncangan maksimum skala VII MMI, indikasi likuifaksi, serta jejak tsunami dengan run-up tertinggi mencapai 2,68 meter.
Meskipun terjadi banyak gempa susulan, BMKG menyebut jika frekuensi gempa tersebut menunjukkan pola penurunan dan telah memasuki fase peluruhan.
"Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis data gempa terkini, frekuensi gempa susulan menunjukkan pola penurunan dan menuju fase peluruhan," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip Riwara.id dari akun Instagram @infobmkg, Selasa 15 September 2026.
Menurutnya, sebagian besar gempa berkekuatan di bawah M3,0 yang umumnya hanya terdeteksi oleh seismograf. Sementara, gempa di atas M5,0 semakin jarang terjadi.
"Estimasi peluruhan ini bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi gempa berikutnya. Masyarakat diimbau tetap waspada karena karakteristik wilayah NTT yang memang memiliki tingkat kegempaan tinggi," ungkap Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.
Peringatan Tsunami
Pasca gempa utama M7,7, BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami dalam 2 menit 16 detik. Dari hasil pemantauan 16 tsunami gauge mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah dengan ketinggian hingga 1,61 meter di Reo.
Hasil survei tsunami menemukan jejak tsunami sepanjang pantai utara Flores, dengan run-up tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama dan jangkauan genangan terjauh 145 meter di Nampar Sepang.
Tsunami merusak 23 rumah, namun tidak menimbulkan korban jiwa karena masyarakat segera melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini.
BMKG juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir, terutama karena waktu kedatangan tsunami di wilayah Flores Back-Arc Thrust dapat berlangsung sangat cepat.
"Sebaik-baiknya peringatan dini adalah adanya kesadaran masyarakat dalam merespons potensi tsunami. Maka, penting membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir utara NTT untuk evakuasi mandiri," jelas Kepala Pusat Standarisasi Instrumen Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, Rahmat Triyono.
Semua hasil pemantauan BMKG tersebut menjadi masukan teknis bagi pemerintah dalam rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak secara aman dan berkelanjutan.
Saat ini, BMKG masih terus memantau perkembangan kondisi di NTT. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi baik dari BMKG atau pemerintah daerah setempat.
BMKG merilis aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di Flores pasca gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026. Masyarakat diimbau tetap waspada.