RIWARA.id – Pada Selasa Malam, 8 September 2026, Karaton Surakarta Hadiningrat menerima tamu kesenian dari negara Jepang. Mereka membawa misi kesenian yang telah menjadi agenda tahunan, dalam Diplomasi Budaya antara Karaton Surakarta Hadiningrat dengan Jepang.
Acara diplomasi internasional tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah puncak upacara adat Jumenengan (kenaikan tahta) SISKS Pakubuwono XIV (PB XIV) Hangabehi yang digelar pada Sabtu 5 September 2026.
Saat itu, Jepang dan Karaton Surakarta Hadiningrat bergantian menampilkan tarian klasik masing-masing. Dari Jepang menampilkan Tarian Istana, sedangkan Karaton Surakarta Hadiningrat menampilkan Tari Bondoyudo.
“Acara malam ini (Selasa 8 September 2026) merupakan agenda misi kesenian yang sudah dirancang satu tahun yang lalu. Kegiatan ini untuk mempererat hubungan antara Karaton Surakarta dengan kerajaan Jepang,” kata Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadingrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, saat ditemui awak media di sela-sela acara.
GKR Koes Moertiyah Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng ini mengungkapkan jika pada 9 November 2025 waktu PB XIII wafat, pihaknya juga mengirimkan kelompok kesenian ke Jepang dengan misi yang sama. Saat itu, ada ada 4 orang penari dan 1 orang perias yang berangkat ke Jepang.
“Acara malam ini terasa sangat sakral karena menjadi pertanda hubungan Karaton Surakarta dengan Jepang sudah 1.000 tahun lebih. Perwakilan dari Jepang menampilkan tarian klasik yang merupakan hasil alkulturasi dengan budaya China dan Korea,” ujar Gusti Moeng.
Sementara, Karaton Surakarta Hadiningrat menampilkan Tari Bondoyudo yang terinspirasi dari Beksan Lawung Ageng. Beksan atai tari ini adalah tarian pusaka klasik yang menggambarkan suasana Latihan perang dan adu ketangkasan prajurit.
Tari Bondoyudo
Tarian klasik ini adalah salah satu genre tari keprajuritan (wireng) putra karakter gagah, yang berasal dari tradisi tari klasik gaya Surakarta. Dalam sejarah tari klasik Jawa, tari keprajuritan ini berkarakter gagah dan menggunakan senjata tameng serta gada/pedang.
Ada 4 karakteristik Tari Bondoyudo, yaitu:
- Tarian ini masuk dalam kategori Beksan Wireng Gagah dengan gerakan sangat dinamis, kokoh, bergas (bertenaga), dan mencerminkan ketangkasan prajurit di medan perang.
- Kata Bondo (bandha) berarti mengikat atau membawa, sedangkan Yudo (yuda) berarti perang. Jadi, tarian ini menggambarkan kesiapan para prajurit yang terikat dalam kewajiban membela kerajaan di medan laga.
- Tarian ini menggunakan properti perang yang umumnya berupa tameng (perisai) dan gada atau pedang, yang membedakannya dengan tari wireng lainnya.
- Saat ini Tari Bondoyudo tidak hanya dipentaskan di lingkungan Karaton Surakarta, tetapi juga diajarkan sebagai materi tari putra gagah di lembaga seni seperti ISI Surakarta, serta menjadi atraksi budaya bagi para wisatawan.
Acara yang digelar di Bangsal Maligi, Karaton Surakarta Hadiningrat ini juga disaksikan langsung oleh PB XIV Hangabehi.
Karaton Surakarta Hadiningrat menerima kedatangan delegasi dari Kerajaan Jepang, yang membawa misi kesenian pada Rabu malam, 8 September 2026.