Ruwatan Buka Rangkaian Upacara Bertahtanya SISKS Pakoe Boewono XIV di Keraton Surakarta

Jumat, 04 September 2026 | 19:33 WIB
Upacara Adat Ruwatan PB XIV di Keraton Surakarta Hadinigrat Jumat 4 September 2026
Upacara Adat Ruwatan PB XIV di Keraton Surakarta Hadinigrat Jumat 4 September 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

SURAKARTA, Riwara.id – Rangkaian upacara bertahtanya Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIV atau PB XIV di Keraton Surakarta Hadiningrat diawali dengan prosesi ruwatan pada Jumat (4/9/2026) sore.

Prosesi ruwatan tersebut dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dan menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian adat menyambut perjalanan Pakoe Boewono XIV sebagai raja Keraton Surakarta Hadiningrat.

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, mengatakan ruwatan memiliki makna penting sebelum seorang raja menjalankan amanahnya.

"Sore hari ini, mulai pukul 15.00 WIB, telah dilaksanakan ruwatan. Yang diruwat adalah Sinuwun Tinkuono. Alhamdulillah, beliau sudah hadir," ujar Gusti Moeng, Jumat (4/9/2026).

Menurut Gusti Moeng, pelaksanaan ruwatan menjadi pembuka rangkaian upacara bertahtanya seorang raja di Keraton Surakarta. Rangkaian tersebut berlangsung mulai Jumat hingga Sabtu dan merupakan bagian dari tradisi Keraton Surakarta yang berakar pada tradisi Mataram.

Ruwatan untuk Menghilangkan Sukerta

Pakoe Boewono XIV atau PB XIV menjalani prosesi adat ruwatan
Pakoe Boewono XIV atau PB XIV menjalani prosesi adat ruwatan (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Gusti Moeng menjelaskan, dalam tradisi Jawa, ruwatan pada dasarnya dimaksudkan untuk menghilangkan sukerta, yakni segala sesuatu yang dipandang kurang baik atau dapat menjadi penghalang dalam perjalanan kehidupan seseorang.

Karena itu, ruwatan ditempatkan sebagai bagian penting dalam mengawali perjalanan Sinuwun sebelum menjalankan tanggung jawab dan amanah sebagai seorang raja.

"Ruwatan pada dasarnya dimaksudkan untuk menghilangkan sukerta, yaitu segala sesuatu yang dianggap tidak baik atau dapat menjadi penghalang dalam perjalanan kehidupan seseorang," jelasnya.

Ia berharap prosesi tersebut menjadi ikhtiar adat agar perjalanan Sinuwun dalam menjalankan tugasnya dapat berlangsung tanpa berbagai aral dan gangguan.

"Karena itu, ruwatan ini menjadi bagian penting dalam menapaki perjalanan Sinuwun, agar dalam menjalankan amanahnya tidak ada aral melintang, tidak ada gangguan, dan segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik," lanjut Gusti Moeng.

Sinuwun Diharapkan Menjadi Panutan dan Pengayom

Lebih jauh, Gusti Moeng menekankan bahwa makna utama dari rangkaian tersebut bukan semata-mata pelaksanaan sebuah prosesi adat, melainkan juga harapan terhadap sosok raja yang akan menjalankan amanahnya.

Sinuwun diharapkan mampu menjadi panutan dan pengayom bagi lingkungan keraton, termasuk para sentana dan abdi dalem, serta menjalankan tanggung jawab yang melekat pada kedudukannya sebagai seorang raja.

"Yang paling utama, Sinuwun diharapkan dapat menjadi panutan dan pengayom bagi para sembahan dan abdi dalemnya, serta mampu menjalankan tanggung jawab dan amanah sebagai seorang raja," kata Gusti Moeng.

Harapan tersebut menjadi bagian penting dari pesan yang menyertai prosesi ruwatan. Kedudukan seorang raja dalam tradisi keraton tidak hanya berkaitan dengan simbol kekuasaan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral, adat, dan pengayoman.

Dalang Tengkleng Pimpin Prosesi Ruwatan

Dalang  KI Sri Susilo
Dalang KI Sri Susilo (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Dalam pelaksanaan ruwatan kali ini, prosesi dipimpin melalui pagelaran oleh KI Sri Susilo, yang dikenal dengan sebutan Dalang Tengkleng.

Menurut Gusti Moeng, keberadaan Dalang Tengkleng dalam prosesi tersebut juga berkaitan dengan kesinambungan tradisi ruwatan di lingkungan Keraton Surakarta.

"Untuk pelaksanaan ruwatan kali ini, dalangnya adalah Sri Susilo yang dikenal dengan Dalang Tengkleng," ujarnya.

Ia menambahkan, Dalang Tengkleng merupakan bagian dari tradisi ruwatan dan masih memiliki garis keturunan atau hubungan trah dengan lingkungan Keraton.

Keterlibatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur-unsur tradisi dan hubungan kekerabatan dengan lingkungan keraton tetap menjadi bagian dalam pelaksanaan upacara adat.

Mengawali Perjalanan Pakoe Boewono XIV

Ruwatan pada Jumat sore menjadi pembuka rangkaian upacara bertahtanya Pakoe Boewono XIV yang digelar di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rangkaian tersebut memiliki arti penting karena menandai dimulainya perjalanan seorang Sinuwun dalam menjalankan amanah sebagai raja.

Dalam konteks tradisi Jawa, prosesi ruwatan mengandung harapan agar seseorang terbebas dari berbagai hal yang dianggap sebagai penghalang sehingga dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik.

Bagi Keraton Surakarta Hadiningrat, prosesi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Dengan diawali ruwatan, rangkaian upacara bertahta Pakoe Boewono XIV diharapkan berlangsung lancar, tertib, dan sesuai dengan tata adat yang menjadi bagian dari tradisi Keraton Surakarta Hadiningrat.

Seluruh rangkaian upacara bertahta kemudian berlanjut pada tahapan berikutnya pada Sabtu (5/9/2026), sebagai bagian dari prosesi pengukuhan dan perjalanan adat seorang raja di Keraton Surakarta Hadiningrat.*

Ruwatan mengawali rangkaian upacara bertahtanya SISKS Pakoe Boewono XIV di Keraton Surakarta, Jumat (4/9/2026). Gusti Moeng menjelaskan makna ruwatan dan harapan bagi Sinuwun.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories