RIWARA.id - Dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi perhatian khusus Kementerian Agama (Kemenag).
Wakil Menteri Agama (Wamenag), Romo Muhammad Syafii, meminta dugaan keracunan MBG di Sidoarjo, Jawa Timur untuk diinvestigasi lebih lanjut sehingga bisa memastikan penyebabnya.
Hal itu disampaikan Wamenag saat mengunjungi santri korban keracunan MBG yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Wamenag mengatakan saat ini masih ada delapan pasien yang sedang menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, lima pasien diperbolehkan pulang, sementara tiga lainnya masih memerlukan perawatan.
Menurutnya, keluhan yang disampaikan para santri adalah gangguan pada perut dan rasa mual. "Jadi anak-anak yang masih dirawat ini mengeluhkan perutnya mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag dikutip Riwara.id dari laman kemenag.go.id, Jumat 4 September 2026.
Wamenag menyebut penyebab kejadian ini belum dapat disimpulkan sepenuhnya. Sebab, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama, telah menyalurkan MBG bagi para santri selama hampir satu tahun tanpa permasalahan.
"Sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai MBG untuk anak-anak ini, dan baru sekarang terjadi masalah. Tentu kita perlu investigasi apa penyebab yang sebenarnya,” ungkapnya.
Wamenag menjelaskan keluhan para santri banyak yang berkaitan dengan dua menu, yakni telur dan sayuran. Namun, hal tersebut masih perlu ditelusuri, termasuk kemungkinan kesalahan dalam proses memasak maupun waktu konsumsi makanan yang tidak sesuai ketentuan.
Untuk memastikan penyebabnya, SPPG yang memasok makanan kepada para santri tersebut dihentikan sementara untuk evaluasi. Wamenag mengatakan di dalam evaluasi, perlu melihat secara menyeluruh kemungkinan persoalan yang terjadi di dapur penyedia MBG.
Di sisi lain, Wamenag menyatakan kebutuhan santri terhadap program MBG tetap tinggi. Para santri selama ini menyambut baik program tersebut.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Kemenag terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN), untuk memperluas cakupan MBG bagi pesantren dan madrasah.
Saat ini Kemenag bersama Direktorat Pesantren juga mempercepat komunikasi dengan BGN agar semakin banyak pesantren dan madrasah yang mendapatkan program tersebut, termasuk di daerah terpencil.
"Kita sedang berusaha dengan Pak Direktur Pesantren agar tidak ada pesantren yang tidak mendapatkan MBG, termasuk madrasah,” imbuh Wamenag.
Kemenag berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah maupun pesantren yang belum mendapatkan MBG.
Wamenag Minta Kasus Keracunan MBG di Sidoarjo untuk diinvestigasi sehingga bisa memastikan penyebabnya