RIWARA.id – Kementerian Kesehatan RI bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi baru melalui Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari di Jakarta.
Simulasi skala besar ini dirancang untuk menguji kecepatan respons nasional dalam mengembangkan dan memproduksi vaksin hanya dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.
Langkah strategis tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia, setelah Korea Selatan dan Rwanda, yang menguji rantai respons pandemi secara menyeluruh bersama CEPI.
Sebanyak lebih dari 120 pakar dari kementerian, lembaga, akademisi, industri farmasi, hingga otoritas regulasi terlibat aktif dalam simulasi yang berlangsung selama dua hari tersebut.
Para peserta diuji untuk merespons skenario fiktif wabah "Nipah-X", sebuah patogen mutasi yang digambarkan dapat menular cepat dari hewan ternak ke manusia lalu menyebar antarmanusia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman wabah harus dipandang sebagai bagian dari investasi pertahanan negara yang krusial.
Budi mengingatkan bahwa catatan sejarah membuktikan dampak mematikan dari wabah penyakit sering kali jauh melampaui dahsyatnya konflik bersenjata.
"Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II," ujar Budi.
Oleh karena itu, Budi menekankan pentingnya berinvestasi di sektor kesehatan secara serius layaknya membangun benteng pertahanan demi menyelamatkan nyawa masyarakat.
Menurutnya, Misi 100 Hari merupakan target global untuk memangkas durasi pengembangan vaksin agar respons cepat dapat dilakukan sebelum penyakit meluas.
Guna mengejar target tersebut, Indonesia mulai mengintegrasikan ekosistem deteksi dini dari tingkat pelayanan kesehatan primer hingga daerah.
Penguatan ini mencakup pengembangan perangkat uji cepat portabel (Point-of-Care Testing) serta peningkatan kapasitas sekuensing genom di berbagai wilayah.
Sektor produksi juga terus diperkuat dengan menggandeng produsen vaksin nasional seperti PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals.
Keterlibatan industri lokal ini bertujuan agar manufaktur vaksin skala besar dapat langsung berjalan begitu ancaman pandemi terdeteksi.
Sementara itu, Direktur Utama CEPI Dr. Richard Hatchett menilai Indonesia memegang peran vital dalam memperkuat ketahanan kesehatan di tingkat regional.
Hatchett menyebut kemajuan riset, kapasitas manufaktur, serta sistem regulasi di Indonesia menjadi modal kuat untuk mendukung pencapaian target Misi 100 Hari.
Dari sisi pengawasan, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memastikan percepatan izin vaksin darurat tetap memprioritaskan keamanan masyarakat.
BPOM kini mematangkan skema persetujuan bersyarat untuk melengkapi mekanisme Persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization).
Taruna menegaskan bahwa percepatan inovasi medis tidak boleh mengurangi standar mutu, khasiat, dan keselamatan pasien sedikit pun. (*)
Indonesia gelar simulasi Misi 100 Hari bareng CEPI untuk uji kecepatan produksi vaksin hadapi potensi wabah Penyakit X.