JOMBANG, RIWARA.ID – Suasana khidmat meliputi kompleks makam salah satu pendiri (muassis) Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah, di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Rabu, 25 Agustus 2026. Di tempat bersejarah tersebut, sekelompok warga Nahdliyin berkumpul menggelar aksi deklarasi dukungan untuk pengasuh Pondok Pesantren Madrosatul Qur’an Tebuireng, KH Musta’in Syafi’ie, atau yang akrab disapa Yai Tain.
Gerakan moral ini mencuat menjelang perhelatan Muktamar NU ke-35 di Jombang yang akan dibuka besok 27 Agustus 2026. Mengenakan kaus putih bersimbolkan "KPK NU", para peserta menegaskan komitmen mereka untuk mengawal marwah organisasi agar forum tertinggi NU itu tetap berpijak pada nilai-nilai persaudaraan, integritas, dan keteladanan para muassis.
Sebelum membacakan pernyataan sikap, massa terlebih dahulu memanjatkan doa dan tawassul di pusara Mbah Wahab. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan mendalam sekaligus memohon keberkahan bagi perjuangan mereka.
Menolak Kriminalisasi Kritik Moral
Koordinator aksi, Solihin, menjelaskan bahwa gerakan dukungan ini lahir menyusul langkah hukum berupa somasi serta pelaporan Yai Tain ke Bareskrim Polri oleh tim kuasa hukum Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar, atas dugaan pencemaran nama baik.
Menurut Solihin, pandangan yang dilontarkan Yai Tain bukanlah serangan personal, melainkan bentuk otokritik moral atas dinamika kepemimpinan PBNU saat ini.
"Bagi kami, narasi Yai Tain adalah refleksi yang semestinya diterima sebagai pengingat oleh pengurus PBNU. Ini soal standar moral seorang Rais Aam dan soal bagaimana NU kembali kepada kesederhanaan yang diwariskan para muassis," ujar Solihin di lokasi.
Ia menyayangkan adanya respons hukum terhadap kritik internal organisasi. Menurutnya, pesan moral yang bertujuan menjaga marwah jam'iyyah seharusnya disikapi dengan bijak, bukan malah digiring ke ranah pidana.
"Bagaimana mungkin sebuah gerakan moral, pengingat akhlak, dan pesan untuk menjaga marwah NU justru dianggap mencemarkan nama baik?" cetusnya.
Ia menambahkan, tekanan hukum yang dihadapi Yai Tain justru semakin memperkuat konsolidasi warga Nahdliyin yang peduli pada masa depan NU.
Seruan untuk PWNU dan PCNU: Jaga Kesucian Muktamar
Dari pelataran makam Mbah Wahab, kelompok ini menyampaikan pesan menohok kepada seluruh pengurus Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia menjelang Muktamar ke-35.
Mereka mendesak agar muktamar tidak ternodai oleh praktik money politics maupun transaksi kekuasaan yang berpotensi merusak independensi NU.
"Kami meminta kepada PWNU dan PCNU, tolong jaga Muktamar NU ini. Jangan jadikan Muktamar sebagai ajang politik transaksional. Malu kepada Mbah Wahab. Malu kepada para muassis yang membangun NU dengan keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan," tegas Solihin.
Guna memastikan jalannya muktamar tetap bersih, relawan KPK NU menyatakan siap memantau jalannya proses musyawarah dari dekat. Mereka berikrar akan mencatat dan mengumpulkan bukti jika menemukan dugaan pelanggaran atau manuver politik yang mencederai norma organisasi.
Langkah ini, tegas Solihin, bukan untuk mengintimidasi pihak mana pun, melainkan demi memastikan Muktamar NU ke-35 berlangsung secara transparan, bermartabat, dan berakhlakul karimah. Kritik, baginya, adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi amar ma'ruf nahi munkar untuk menjaga perjalanan jam'iyyah NU tetap berada di rel perjuangan para pendirinya. ***
Sejumlah warga Nahdliyin menggelar deklarasi dukungan terhadap KH Musta'in Syafi'ie (Yai Tain) di makam KH Abdul Wahab Chasbullah Jombang. Mereka menyuarakan kritik moral dan menolak politik transaksional di Muktamar NU ke-35