KH Ma’ruf Amin soal Calon Ketum PBNU di Muktamar NU 2026: Bukan Tokoh Pemicu Konflik, Sindir Siapa?

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:17 WIB
Mustasyar PBNU KH Maruf Amin
Mustasyar PBNU KH Maruf Amin (Foto: setneg)

JAKARTA, RIWARA.ID– Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyita perhatian publik. Di tengah santernya bursa nama kandidat pemimpin masa depan NU, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin angkat bicara mengenai kriteria ideal sosok yang layak menahkodai jam'iyah keagamaan terbesar di Indonesia ini.

Menurut Kiai Ma’ruf, calon Ketua Umum PBNU mendatang wajib dibekali kemampuan manajerial serta keahlian teknokratis yang mumpuni. Pasalnya, peran Ketua Umum PBNU pada hakikatnya adalah sebagai pelaksana utama (eksekutor) dari berbagai arahan dan garis kebijakan yang ditetapkan oleh Rais Aam.

Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf dalam tayangan Menjadi Indonesia edisi ke-48 bertajuk “Di Balik Turun Gunungnya Kiai-Kiai Sepuh Jelang Muktamar ke-35 NU”.

"Ketua Umum itu harus punya manajerial, skill atau kemampuan mengelola, lalu secara teknis memang bisa menggerakkan roda organisasi. Harus seperti itu, yang dipilih harus sosok terbaik," tegas Kiai Ma’ruf dikutip dari NU Online, Selasa, 25 Agustus 2026.

Dua Pilar Fungsi Islah Bagi Kepemimpinan NU

Tak sekadar pandai mengelola organisasi secara teknis, Wakil Presiden RI periode 2019–2024 ini juga menekankan bahwa kepemimpinan NU yang ideal harus mampu mengeksekusi prinsip al-islah wal-ishlah (perbaikan dan perdamaian).

Ia membagi fungsi islah ini ke dalam dua pilar utama:  

1. Menyutradarai Perdamaian dan Menyatukan Potensi

Fungsi islah yang pertama adalah menyatukan seluruh elemen warga Nahdliyin serta mendamaikan pihak-pihak yang berselisih. Kiai Ma’ruf mengingatkan beratnya amanat yang dipikul NU di berbagai lini—mulai dari dimensi keagamaan, kemasyarakatan, sosial, hingga politik dan pendidikan.

"Tugas NU itu sangat berat, jadi tidak mungkin kalau organisasinya malah terpecah-pecah. Kekuatan NU harus menyatu. Tugas pimpinan itu menyatukan semua potensi, bukan malah memecah belah," ujarnya mengingatkan pesan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

2. Melakukan Perbaikan Arah Gerakan (Harakah)

Fungsi islah kedua menyasar pada pembenahan internal agar seluruh pergerakan organisasi tetap berada di koridor fikrah dan manhaj murni Nahdliyah, bukan berlandaskan pemikiran atau kepentingan segelintir figur individual.

Jangan Terjebak Konflik Internal

Selain itu, Kiai Ma’ruf memberikan peringatan keras agar NU tidak sampai terjebak dalam konflik internal berkepanjangan hingga menghentikan roda organisasi (sukutul ulama).

"Jangan sampai mandek dan tidak mau bergerak. Kalau NU tidak bergerak hanya karena konflik internal, itu situasi yang sangat berbahaya. Tugas-tugas besar yang dicanangkan oleh Hadratussyekh bisa-bisa sama sekali tidak berjalan," pungkas mantan Wakil Presiden RI tersebut. ***

 

Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU harus memiliki kemampuan manajerial, teknokratis, serta mampu menjalankan fungsi islah.

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories