JOMBANG, RIWARA.ID- Atmosfer menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur terasa kian hangat. Di tengah berbagai agenda strategis organisasi, isu mengenai bursa calon Ketua Umum PBNU menjadi salah satu perbincangan paling hangat, baik di arena akar rumput (grassroots) maupun linimasa media sosial.
Wajar saja, publik—khususnya warga Nahdliyin—tentu penasaran mengenai sosok yang bakal menahkodai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini untuk kurun lima tahun ke depan. Narasi bursa calon tak sekadar menampilkan persaingan figur, melainkan menjadi panggung benturan gagasan: antara keberlanjutan program, penguatan tradisi pesantren, dan desakan regenerasi kepemimpinan.
Meski di media sosial sempat beredar belasan nama tanpa konfirmasi resmi, namun Majalah Risalah NU (Edisi Khusus Muktamar, Agustus 2026) mencatat bursa kandidat kini makin mengkristal pada 7 tokoh utama.
Ketujuh figur tersebut terbagi ke dalam tiga klaster berdasarkan latar belakang dan visi kepemimpinan:
1. Klaster Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas
Klaster ini diisi oleh figur-figur berkaliber nasional dengan rekam jejak birokrasi serta diplomasinya yang kuat.
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Lahir pada 16 Februari 1966, petahana Ketum PBNU ini secara resmi menyatakan kesiapannya untuk kembali memimpin. Gus Yahya mengusung narasi keberlanjutan (kontinuitas) lewat gagasan "Merawat Jagat, Membangun Peradaban". Pendekatannya berfokus pada kemandirian organisasi serta penguatan posisi tawar NU dalam kancah diplomasi internasional.
Prof. KH Nasaruddin Umar
Tokoh kelahiran 23 Juni 1959 yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal. Mewakili kombinasi ulama dan teknokrat, beliau mengusung pesan harmoni keumatan. Dukungan dari berbagai pengurus cabang di luar Pulau Jawa menjadikan namanya simbol desentralisasi kepemimpinan NU.
2. Klaster Episentrum Pesantren Tradisional
Klaster ini dihuni oleh para pengasuh pesantren kawakan yang memegang teguh otoritas keilmuan klasik (kitab kuning) dan menyerap aspirasi warga nahdliyin dari bawah.
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Lahir pada 17 Agustus 1958, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang ini merepresentasikan simbol penjaga tradisi murni NU. Otoritas historis Tebuireng yang melekat padanya membuat beliau sangat dihormati oleh kiai-kiai sepuh dan warga NU.
KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang berusia 53 tahun ini telah mendapat dukungan dari puluhan PCNU di Jawa Tengah. Gus Yusuf membawa aspirasi grassroots agar PBNU lebih responsif terhadap isu-isu populis, ekonomi warga, dan dakwah kultural.
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Menyatakan kesiapan bertarung sejak pertengahan 2026, Gus Rozin menawarkan paradigma pendidikan adaptif. Fokus utamanya adalah menjembatani keilmuan kitab kuning dengan tuntutan dunia akademis dan profesionalisme modern.
3. Klaster Poros Regenerasi
Klaster ini membawa energi baru lewat figur-figur berusia relatif muda namun matang secara kapasitas keilmuan dan keorganisasian.
KH Zulfa Mustofa
Lahir pada 7 Agustus 1977, Wakil Ketua Umum PBNU ini masyhur dengan penguasaan ilmu fikih mendalam serta kepiawaiannya melempar syair bahasa Arab secara spontan. Beliau menjadi perpaduan antara kapasitas intelektual klasik dan kelincahan tata kelola organisasi masa kini.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang berusia 49 tahun ini dikenal vokal menyuarakan pentingnya fungsi check and balances internal. Gus Salam menekankan agar PBNU tak terjebak dalam pragmatisme politik dan tetap konsisten membela prinsip keadilan serta kemaslahatan umat. ***
Membedah 7 figur calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang. Simak pembagian 3 klaster mulai dari petahana, kiai pesantren, hingga poros regenerasi.