JOMBANG, RIWARA.ID - Menjelang pergelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tensi pencalonan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terasa makin dinamis. Di tengah bermunculannya sejumlah kandidat, nama KH Abdul Ghaffar Rozin—atau yang akrab disapa Gus Rozin—kini melesat menjadi salah satu figur yang paling banyak diperbincangkan. Dukungan untuknya terus mengalir deras dari berbagai jaringan NU di daerah.
Langkah politik dan konsolidasi Gus Rozin memang makin intensif. Lewat rangkaian silaturahmi ke berbagai pelosok, ia telah mengetuk pintu para kiai, masyayikh, serta jajaran pengurus PWNU, PCNU, hingga tokoh pesantren. Menariknya, setiap kali berkunjung, Gus Rozin selalu menerapkan gaya khas: duduk, mendengar, dan mencatat setiap aspirasi warga NU di akar rumput.
Pendekatan rendah hati ini membuahkan respons amat positif. Dukungan hangat mengalir mulai dari PWNU Aceh, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Sulawesi. Tak hanya itu, dua tokoh penting NU juga secara terbuka merestui ikhtiar Gus Rozin.
Sebut saja KH Said Aqil Siradj. Mantan Ketum PBNU dua periode ini merestui penuh langkah Gus Rozin dalam bursa pencalonan.
Kemudian KH Muhammad Faisal Anwar juga mendukung. Cicit Syaikhona Cholil Bangkalan sekaligus Rais PCNU Bangkalan ini bahkan secara simbolis mengalungkan sorban peninggalan sang ulama kharismatik kepada Gus Rozin sebagai perlambang doa dan restu.
Modal Lengkap: Kombinasi Pesantren, Akademis, dan Organisasi
Mengapa nama Gus Rozin begitu diperhitungkan? Jawabannya ada pada rekam jejaknya yang sangat solid. Tumbuh besar dalam tradisi pesantren Kajen, Pati, ia memiliki fondasi keilmuan agama yang amat kokoh.
Namun, wawasannya tak berhenti di situ. Gus Rozin menempa pendidikan akademisnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, meraih gelar master dari Monash University Australia, hingga menuntaskan program doktoral di UIN Walisongo Semarang.
Di ranah keorganisasian, jam terbangnya terbilang sangat matang:
- Menggembleng diri sejak di IPNU, GP Ansor, hingga LP Ma'arif NU.
- Dipercaya menjadi Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU dan sukses mencetuskan program fenomenal seperti Gerakan Nasional Ayo Mondok serta Liga Santri Nusantara.
- Saat ini aktif mengemban amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029.
Gagasan Utama: Penguatan Akar Rumput dan Kemandirian Jam'iyyah
Memasuki abad kedua NU, Gus Rozin membawa gagasan segar. Ia menekankan bahwa kehebatan NU tidak boleh hanya terpusat di Jakarta (PBNU), melainkan harus berakar kuat di cabang, pesantren, dan jamaah daerah. Praktik baik (best practices) dari PCNU atau pesantren di satu daerah harus bisa ditularkan ke wilayah lain.
Selain itu, ia mengusung pesan kemandirian jam'iyyah. Menurutnya, mandiri bukan berarti berseberangan dengan pemerintah. NU tetap bisa bermitra erat dengan negara, namun harus tetap independen dan berani mengambil sikap demi maslahat jamaah.
Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Bagi para pendukungnya, Gus Rozin hadir sebagai figur alternatif atau "poros tengah" yang menyejukkan. Bagi Gus Rozin sendiri, Muktamar bukan sekadar ajang berebut kursi Ketum, melainkan momentum bersama untuk menata arah masa depan dan merawat persatuan NU. ***
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) kian menguat di bursa Ketum PBNU jelang Muktamar ke-35. Simak profil, rekam jejak, dan gagasan besarnya untuk NU