Kontroversi Belum Usai, Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat Tetap Digelar Meriah, 4 Gunungan Jadi Rebutan Warga

Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:34 WIB
Dua Gunungan Dikirab dalam Rangka Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026
Dua Gunungan Dikirab dalam Rangka Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026 (Foto: Riwara.id/Inung R Sulistyo)

RIWARA.id – Di tengah kontroversi perebutan tahta kepemimpinan di Karaton Surakarta Hadiningrat, acara Garebeg Maulud yang merupakan agenda tahunan untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, tetap disambut meriah oleh masyarakat.

Garebeg Maulud yang merupakan puncak acara Sekaten tersebut digelar pada Rabu 26 Agustus 2026 mulai pukul 09.30 WIB. Ada kirab pusaka beserta 2 pasang gunungan (total 4 gunungan) yang diarak dari Karaton Surakarta Hadiningrat menuju ke Masjid Agung Karaton.

Gunungan di Garebeg Maulud adalah persembahan berupa susunan hasil bumi, makanan, atau jajanan pasar yang dibentuk menyerupai gunung, sebagai lambang rasa syukur kepada Tuhan. Satu pasang gunungan terdiri dari Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan).

Gunungan Jaler berisi sayuran seperti kacang panjang, terong, cabai merah, wortel, timun, tebu, telur asin, serta nasi bancakan. Sementara, Gunungan Estri berisi makanan siap saji atau olahan beras ketan seperti rengginang, intip, krasikan, jadah, dan wajik.

Gunungan ini memiliki makna sebagai wujud rasa syukur Karaton Sura karta Hadiningrat atas limpahan rezeki dari Tuhan. Masyarakat pun memperebutkan isi gunungan tersebut karena percaya dapat membawa keselamatan dan keberkahan.

Pengageng Sasono Wilopo sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, mengatakan ada yang istimewa dalam Garebeg Maulud tahun ini yaitu Abdi Dalem Wireng yang bertugas sebagai pengiring gunungan.

Abdi Dalem Wireng adalah abdi dalem Karaton yang memiliki tugas khusus dalam bidang seni tari keprajuritan (laki-laki). Dalam kirab ini, mereka mereka menjadi pengiring atau penyutro yang berjalan dan sesekali berhenti untuk menari, lalu berjalan lagi.

“Alhamdulillah, acara hari ini (Rabu, 26 Agustus) berjalan lancar dan tidak ada halangan apapun. Tadi Sinuwun (PB XIV Hangabehi) datang di Karaton Surakarta pukul 09.15 WIB sebelum prosesi kirab,” ujarnya saat ditemui tim Riwara.id di sela-sela acara.

PB XIV Hangabehi Menghadiri Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026
PB XIV Hangabehi Menghadiri Garebeg Maulud di Karaton Surakarta Hadiningrat, Rabu 26 Agustus 2026 (Foto: Riwara.id/Inung R Sulistyo)

Disinggung mengenai adanya 2 kloter dalam perayaan Garebeg Maulud tersebut, GKR Koes Moertiyah Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng ini enggan menanggapinya.

Tudingan Gusti Moeng Mencuri Gamelan

Di sisi lain, permasalahan perebutan tahta di Karaton Surakarta Hadiningrat kian memanas, bahkan sempat ada tudingan jika Gusti Moeng mencuri 3 set gamelan.

“Tuduhan itu tidak benar. Saya mengeluarkan gamelan dari ruangan penyimpanannya karena akan ada revitalisasi pada bulan Agustus ini. Selain itu, 2 set gamelan juga dikeluarkan untuk ditabuh di Masjid Agung sebagai rangkaian perayaan Sekaten,” jelasnya.

Pemindahan gamelan itu, lanjut dia, dilakukan oleh abdi dalem Karaton Surakarta dan diketahui oleh perwakilan dari cagar budaya yang sedang mendata bangunan untuk keperluan revitalisasi.

Di tengah kontroversi, Garebeg Maulud yang merupakan agenda tahunan di Karaton Surakarta Hadiningrat tetap disambut meriah oleh masyarakat.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories