Utang Luar Negeri Indonesia Capai 453,4 Miliar Dolar AS, Sehatkah Perekonomian Kita? Simak Penjelasannya di Sini

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:33 WIB
Ilustrasi - Bank Indonesia Merilis Jumlah Utang Luar Negeri Indonesia Capai 453,4 Miliar Dolar AS
Ilustrasi - Bank Indonesia Merilis Jumlah Utang Luar Negeri Indonesia Capai 453,4 Miliar Dolar AS (Foto: Dibuat dengan AI Chat GPT)

RIWARA.id - Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 453,4 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh 4,4% (yoy).

Naiknya ULN tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah adanya kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah.

Berdasarkan data di Bank Indonesia, posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS, atau tumbuh 2,9% (yoy).

Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8% (yoy).

Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang masih terjaga.

Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang dengan tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, serta fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien.

Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN.

Dilansir Riwara.id dari laman bi.go.id, Selasa 18 Agustus 2026, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, Jaminan Sosial Wajib (20,6%), Jasa Pendidikan (16,2%), Konstruksi (11,5%), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).

Terkait hal tersebut, Bank Indonesia menyebut jika posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali karena merupakan utang jangka panjang.

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen, terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Hal itu sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kini kembali meningkat.

Bank Indonesia menyatakan jika struktur ULN Indonesia tetap sehat karena didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Hal ini terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,6% pada triwulan II 2026, dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah berupaya memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.

Bank Indonesia akan mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan pemerintah dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Bank Indonesia merilis posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 453,4 miliar dolar AS. Utang tersebut untuk instrumen pembiayaan APBN.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories