RIWARA.id – Markas Besar TNI Angkatan Laut bergerak cepat menyiapkan pengawak untuk kapal induk pertamanya. Sebanyak 100 prajurit pilihan dipastikan terbang ke Italia pada 10 Juli 2026 mendatang guna menguasai teknologi dan pengoperasian kapal induk Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan ke Indonesia.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menegaskan, pengiriman komando ratusan personel ini krusial sebagai langkah pendahulu sebelum kapal perang raksasa tersebut resmi menyeberangi samudra menuju tanah air. Para prajurit akan dilebur ke dalam satuan tugas khusus penjemputan.
"Untuk kesiapan mengawaki kapal induk, kita menyiapkan 100 orang. Nanti terdiri dari satgas dan dari pengawak pendahuluan," ujar Laksamana Muhammad Ali sebagaimana dilansir web tnial.mil.id
Langkah taktis matra laut ini berkejaran dengan waktu. TNI AL mematok target tinggi agar kapal induk dengan kemampuan peluncuran pesawat sayap tetap (fixed-wing) ini sudah bersandar di dermaga Indonesia sebelum peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada 5 Oktober 2026.
Meski jadwal keberangkatan satgas pengawak telah dikunci pada medio Juli, Mabesal menyatakan tetap memantau dinamika lapangan. Dinamika proses administrasi hibah dan kesiapan teknis kapal di galangan Italia akan menjadi faktor penentu final pelepasan pasukan.
Kehadiran Giuseppe Garibaldi otomatis akan mengubah doktrin dan konstelasi kekuatan maritim Indonesia di kawasan regional. Kapal perang yang mengabdi puluhan tahun untuk kekuatan NATO di Laut Mediterania ini dinilai masih memiliki taji yang mematikan.
Terkait identitas baru alutsista raksasa ini, internal TNI AL mulai menggodok sejumlah nama besar. Nama tokoh pemersatu nusantara era Majapahit, Mahapatih Gadjah Mada, serta Panglima Besar Jenderal Soedirman mencuat sebagai kandidat kuat nama KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) tersebut.
"Memang salah satunya itu, salah satu usulannya. Ada Gadjah Mada, ada Panglima Soedirman, ada mungkin yang lain," kata Laksamana Muhammad Ali menjelaskan nama pengganti Giuseppe Garibaldi, sosok bapak bangsa yang menyatukan daratan Italia pada abad ke-19.
Walau nama-nama legendaris tersebut telah menggelinding di meja komando, keputusannya berada di tangan pimpinan tertinggi negara. TNI AL menyerahkan otoritas penuh penamaan KRI berjenis light aircraft carrier ini kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan.
"Kami menunggu. Mungkin dari Bapak Presiden atau dari Pak Menhan akan memberikan usulan namanya," jelas orang nomor satu di matra laut tersebut secara diplomatis.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi bahwa seluruh dokumen legalitas dan proses birokrasi pengalihan hak milik alutsista ini sudah mendekati babak akhir. Persiapan fisik kapal untuk berlayar jarak jauh sedang dikerjakan secara intensif di Italia.
"Kapal induk Garibaldi itu proses hibah, sedang berjalan dan sudah dalam proses tahapan untuk persiapan pengiriman ke Indonesia," ungkap Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait.
Kemhan RI optimistis kapal perang dengan panjang 180,2 meter ini mendarat di perairan nusantara tahun ini. Namun, situasi global yang memanas di Timur Tengah diakui menjadi tantangan besar dalam kalkulasi rute pelayaran logistik antarbenua tersebut.
"Ya dengan kondisi Selat Hormuz, yang konflik juga di sana ya, jadi mungkin ada keterbatasan distribusi, waktu pengiriman dan sebagainya," aku Jenderal bintang satu tersebut terkait kendala geopolitik yang berpotensi menahan laju pengiriman.
Secara teknis, Giuseppe Garibaldi bukan kapal perang sembarangan. Kapal seberat belasan ribu ton ini mampu melesat hingga kecepatan 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam, disokong oleh sistem pertahanan udara rudal Sea Sparrow dan sistem antikapal jarak dekat Otomat Mk 2 SSM. (*)
TNI AL kirim 100 prajurit ke Italia 10 Juli 2026 untuk mengawak kapal induk Giuseppe Garibaldi. Target tiba sebelum HUT TNI!