RIWARA.id – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) resmi memperkenalkan armada kepresidenan sementara berbasis Boeing 747-8 yang diberi nama Boeing VC-25B "Bridge" di Joint Base Andrews, Maryland, pada Jumat (19/6/2026). Langkah strategis pengadaan pesawat modifikasi militer ini diambil guna menjamin kelancaran operasional angkutan udara presiden, menyusul penundaan parah pengerjaan proyek jangka panjang dua unit pesawat utama Air Force One oleh korporasi Boeing.
Dikutip dari Scrumble, penyerahan armada sementara bernomor konstruksi c/n 37075 tersebut langsung diintegrasikan ke dalam jajaran skuadron Presidential Airlift Group di bawah kendali Wing Penyelamat Udara ke-89 (89th Airlift Wing).
Sebelum diterjunkan dalam misi penerbangan kepresidenan aktif, pesawat yang diduga kuat memegang nomor registrasi militer 25-3300 ini jika merujuk pada data teknis, dijadwalkan menjalani serangkaian uji coba terbang berkala (commissioning flights) untuk memastikan seluruh fungsionalitas sistem berjalan sempurna.
Hadirnya pesawat versi bridge atau jembatan ini menjadi solusi krusial bagi pemerintah Amerika Serikat di tengah situasi mendesak terkait armada udara kepresidenan. Dua uni t pesawat kepresidenan utama tipe VC-25A yang berbasis pada badan pesawat tipe Boeing 747-200 telah menunjukkan gejala penuaan yang signifikan. Kedua burung besi tua tersebut telah aktif beroperasi sejak era pemerintahan tahun 1990 dan membutuhkan penanganan khusus agar tetap layak terbang.
Faktor usia operasional yang telah melewati batas tiga dekade berimplikasi langsung pada membengkaknya biaya perawatan periodik serta meningkatnya durasi siklus pemeliharaan berat di hanggar.
Lebih dari itu, kerentanan teknis pada sistem pesawat tua ini kian mengkhawatirkan, sebagaimana tecermin dari insiden kegagalan sistem kelistrikan yang menimpa penerbangan kepresidenan menuju forum ekonomi di Davos pada awal tahun ini.
Kondisi darurat tersebut memaksa otoritas militer mencari jalan keluar cepat, mengingat pesanan pesawat Air Force One generasi baru dari Boeing terus mengalami keterlambatan hingga bertahun-tahun.
Hambatan produksi di pabrik Boeing dipicu oleh disrupsi parah pada rantai pasok komponen global serta kendala akut pemenuhan tenaga kerja ahli yang wajib memiliki izin sertifikat keamanan tingkat tinggi (security clearance).
Di tengah kebuntuan birokrasi dan manufaktur tersebut, keberadaan unit Boeing 747-8 yang awalnya dibangun sebagai varian mewah Boeing Business Jet (BBJ) ini menjadi penyelamat berharga.
Pesawat tersebut mulanya dikirimkan untuk melayani dinas penerbangan resmi Kerajaan Qatar (Qatar Amiri Flight) pada April 2012, sebelum akhirnya sempat dialihkan kepemilikannya ke maskapai Global Jet Isle of Man pada Juni 2023.
Titik balik kepemilikan terjadi pada tahun 2025 ketika Pemerintah Qa tar secara resmi menghibahkan pesawat berbadan lebar tersebut sebagai hadiah cuma-cuma tanpa syarat kepada Presiden Donald Trump. Hibah bernilai tinggi ini langsung dimanfaatkan oleh Pentagon untuk dikonversi menjadi platform eksekutif militer yang aman, tangguh, dan siap pakai dalam waktu relatif singkat.
Proses modifikasi militer skala penuh terhadap pesawat eks Qatar ini diserahkan kepada kontraktor pertahanan terkemuka, L3Harris. Pengerjaan konversi tersebut berhasil diselesaikan secara kilat hanya dalam kurun waktu 10 bulan dengan memakan anggaran di bawah angka 400 juta dolar AS. Nilai ini diklaim jauh lebih ekonomis dan efisien dibandingkan dengan anggaran pembangunan unit baru dari nol.
Selama proses konversi di hanggar militer, fokus perubahan diarahkan pada instalasi pertahanan tingkat tinggi, proteksi radiasi elektromagnetik, serta pemasangan pusat komando komunikasi terenkripsi. Berdasarkan preferensi khusus dari Presiden Trump, tampilan eksterior pesawat kini telah dicat ulang menggunakan kombinasi warna tegas, yakni merah, putih, dan biru gelap, menggantikan corak bawaan sebelumnya.
Berdasarkan cetak biru perencanaan taktis USAF, pesawat VC-25B versi bridge ini diproyeksikan akan mengemban tugas operasional kepresidenan sementara selama kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Pesawat ini ditargetkan mulai aktif bertugas penuh menerbangkan kepala negara pada Juli 2026, bertepatan dengan momentum historis perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang ke-250 pada 4 Juli.
Masa bakti pesawat temporer ini akan berakhir begitu dua unit pesawat Air Force One utama yang sedang dibangun oleh Boeing selesai dikerjakan dan diserahkan kepada militer. Hingga saat ini, pihak berwenang belum menetapkan tanggal pasti terkait peluncuran final sepasang pesawat utama tersebut, namun estimasi pengoperasiannya diprediksi baru berjalan normal menjelang tahun 2028.
Setelah sepasang armada utama VC-25B resmi masuk kedinasan aktif, USAF akan segera mempensiunkan pesawat versi bridge ini dari seluruh penugasan kenegaraan. Donald Trump sendiri telah menyampaikan opsi masa depan bagi pesawat tersebut, di mana unit jet historis ini rencananya akan didonasikan untuk menjadi bagian dari koleksi museum di Perpustakaan Kepresidenan Donald J. Trump (Donald J. Trump Presidential Library) yang berlokasi di Miami, Florida. (*)
Dikutip dari Scrumble, USAF resmi perkenalkan pesawat kepresidenan VC-25B Bridge eks Qatar guna atasi keterlambatan manufaktur Boeing.