
Riwara.id — Keputusan Iran membuka penuh Selat Hormuz selama masa gencatan senjata disambut positif oleh Amerika Serikat. Namun di saat yang sama, Washington tetap mempertahankan blokade laut terhadap Teheran—menciptakan sinyal ganda di tengah proses damai yang belum tuntas.
Langkah Iran membuka jalur vital energi dunia itu sempat memicu optimisme pasar global. Namun keputusan lanjutan dari AS menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Dengan negosiasi yang masih berlangsung dan tekanan militer tetap aktif, situasi kini bergerak di antara dua arah: menuju perdamaian, atau kembali memanas.
Iran Buka Jalur, Dunia Menyambut
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat menyatakan bahwa lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz kini dibuka sepenuhnya selama periode gencatan senjata.
“Mengingat gencatan senjata di Lebanon, lalu lintas bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz dinyatakan dibuka sepenuhnya selama waktu gencatan senjata yang tersisa,” tulisnya melalui media sosial X.
Ia menegaskan bahwa jalur pelayaran yang digunakan telah dikoordinasikan sesuai dengan rute resmi yang diumumkan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Iran.
Pembukaan ini menjadi krusial, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi global yang selama ko nflik menjadi titik rawan gangguan.
In line with the ceasefire in Lebanon, the passage for all commercial vessels through Strait of Hormuz is declared completely open for the remaining period of ceasefire, on the coordinated route as already announced by Ports and Maritime Organisation of the Islamic Rep. of Iran.
— Seyed Abbas Araghchi (@araghchi) April 17, 2026
Trump Apresiasi, Tapi Blokade Tetap Berlaku
Presiden AS, Donald Trump, awalnya menyambut langkah Iran tersebut.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa selat itu terbuka sepenuhnya dan siap untuk lalu lintas penuh. Terima kasih!” tulis Trump di platform Truth Social.
Namun, tak lama berselang, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap akan diberlakukan.
“Blokade laut akan tetap diberlakukan secara penuh terhadap Iran, hingga saat di mana transaksi dengan Iran 100 persen selesai,” katanya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada sinyal positif, AS masih menggunakan tekanan militer sebagai alat negosiasi.
Negosiasi Alot, Putaran Kedua Menanti
Upaya diplomasi antara Iran dan AS masih menghadapi jalan terjal. Putaran pertama negosiasi yang berlangsung di Pakistan pada 11 April dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan.
Wakil Presiden AS, J. D. Vance, yang memimpin delegasi, menyatakan bahwa pembicaraan berakhir tanpa hasil konkret.
Kegagalan tersebut mendorong AS mengerahkan Angkatan Laut untuk melakukan blokade terhadap jalur strategis, termasuk di sekitar Selat Hormuz.
Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa putaran kedua negosiasi dijadwalkan kembali berlangsung pada 19 April di Islamabad, membuka peluang baru bagi kesepakatan.
Gencatan Senjata Lebanon Jadi Kunci
Situasi ini juga berkaitan erat dengan dinamika konflik di Lebanon. Sebelumnya, AS memediasi kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel di Washington DC.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan penting bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, sekaligus sebagai sinyal keseriusan menuju de-eskalasi konflik kawasan.
Dunia Menunggu Arah Akhir
Meski pasar sempat merespons positif dengan turunnya harga minyak, ketidakpastian masih membayangi.
Di satu sisi, jalur energi global kembali terbuka. Namun di sisi lain, tekanan m iliter dan kegagalan negosiasi awal menunjukkan bahwa perdamaian belum sepenuhnya terjamin.
Kini, dunia menanti hasil putaran berikutnya: apakah langkah-langkah ini akan benar-benar mengakhiri konflik, atau justru menjadi bagian dari strategi tekanan yang lebih besar.*
Inung R Sulistyo




Iran membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata, namun AS tetap melanjutkan blokade laut. Negosiasi masih alot, dunia menunggu arah konflik.