RIWARA.id – Keberhasilan kapal tanker asal China, Rich Starry, menembus blokade maritim Amerika Serikat di Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026) mengungkap celah besar dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury.
Meski militer AS telah menyiagakan kapal perusak untuk menutup akses energi bagi Iran sejak 13 April lalu, taktik navigasi dan pertimbangan risiko perang nuklir disinyalir menjadi alasan utama kapal tersebut gagal ditahan.
Blokade terbatas ini merupakan langkah ekstrem pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memaksa denuklirisasi Iran pasca-kegagalan perundingan di Islamabad.
Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, menyatakan bahwa AS tidak menutup selat untuk dunia, melainkan memutus akses bagi rezim Iran yang dituding melakukan pemerasan internasional melalui "biaya tol" ilegal di jalur pelayaran tersebut.
Namun, insiden lolosnya Rich Starry menunjukkan bahwa blokade tersebut belum sepenuhnya kedap air.
Pengamat militer dan pertaha nan, Dr. Connie Rahakundini Bakrie, dalam berbagai kesempatan sebelumnya telah menyoroti risiko eskalasi di kawasan tersebut. Dia menilai blokade ini berpotensi melanggar prinsip kebebasan navigasi.
Jika Iran membalas dengan menutup total selat, konflik tidak lagi bersifat terbatas, melainkan bisa menyeret kekuatan besar seperti China dan Rusia ke dalam pusaran perang regional.
"Ada instruksi Rules of Engagement (ROE) yang ketat bagi komandan lapangan AS untuk meminimalkan konfrontasi fisik dengan aset negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Menembak atau menahan paksa kapal China bisa memicu eskalasi konflik regional menjadi perang terbuka yang menyeret kekuatan besar seperti Rusia," jelas Connie.
Secara teknis, kapal Rich Starry juga memanfaatkan "celah komoditas" dengan mengangkut metanol, bukan minyak mentah yang menjadi target utama pencegatan. Kapal ini dilaporkan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) dan mengabaikan peringatan radio dari USS Michael Murphy.
Karena tidak menunjukkan ancaman militer langsung, kapal perang AS tidak memiliki legitimasi untuk melakukan serangan mematikan terhadap kargo komersial tersebut di bawah hukum internasional.
Dampak dari ketegangan di titik sempit ini telah memicu lonjakan har ga minyak mentah Brent hingga melampaui US$ 100 per barel. Budi Santoso, pengamat energi dari Energy Watch Indonesia, memperingatkan dampak sistemik bagi domestik.
"Indonesia sebagai net importer minyak menghadapi ancaman serius pada APBN. Jika blokade dan aksi penerobosan ini terus memicu volatilitas, subsidi energi kita bisa membengkak di luar kendali," tegasnya. Saat ini, dunia menanti hasil mediasi darurat di Pakistan sebelum masa gencatan senjata teknis berakhir pekan depan. (*)
Ari Kristyono





Terungkap! Inilah alasan strategis dan teknis mengapa kapal tanker China mampu menembus blokade ketat militer AS di Selat Hormuz.