Harga Minyak Anjlok 11%, Iran Buka Selat Hormuz: Sinyal Damai atau Jeda Perang?

  • Inung R Sulistyo
  • Sabtu, 18 April 2026 | 02:47 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

 

Riwara.id — Harga minyak dunia langsung anjlok lebih dari 11 persen dalam hitungan jam setelah Iran membuka penuh Selat Hormuz—jalur vital energi global yang selama ini menjadi titik panas konflik.

Langkah ini bukan sekadar pembukaan jalur pelayaran, tetapi juga sinyal kuat meredanya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang sebelumnya mengguncang pasar energi dan memicu lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara.

Dengan gencatan senjata yang masih berlangsung, dunia kini menunggu apakah ini menjadi awal menuju perdamaian permanen—atau hanya jeda sementara dari konflik yang belum benar-benar berakhir.

Selat Hormuz Dibuka Selama Gencatan Senjata

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jalur pelayaran kini sepenuhnya aman untuk kapal komersial.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka,” tulisnya.

Ia menegaskan bahwa kapal-kapal dapat melintas melalui rute yang telah dikoordinasikan oleh otoritas pelabuhan dan maritim Iran.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur paling strategis di dunia, dilalui oleh sekitar sepertiga perdagangan minyak global. Gangguan di wilayah ini selama konflik se belumnya sempat memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan energi dunia.

 

Trump Sambut Positif, Tekanan Politik Mereda

Presiden AS, Donald Trump, menyambut baik langkah Iran tersebut. Ia menyebut jalur itu kini “sepenuhnya terbuka dan siap untuk lalu lintas penuh.”

Pembukaan Selat Hormuz menjadi isu penting bagi Trump, terutama setelah lonjakan harga BBM di dalam negeri sempat menjadi tekanan politik.

Negara-negara sekutu AS di Asia dan Eropa juga terdampak oleh krisis energi ini, sehingga stabilitas jalur tersebut menjadi kepentingan bersama.

Gencatan Senjata Lebanon Jadi Kunci

Perkembangan ini tidak lepas dari gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel yang diumumkan sebelumnya.

Israel diketahui tengah berkonflik dengan Hizbullah, kelompok yang menjadi sekutu dekat Iran. Teheran mendorong penghentian konflik ini sebagai bagian d ari upaya mencapai kesepakatan damai yang lebih luas dengan Washington.

Gencatan senjata tersebut masih berlangsung dan menjadi momentum penting dalam proses negosiasi.

Harga Minyak Turun Tajam

Pasar energi merespons cepat perkembangan ini. Minyak mentah Brent tercatat turun lebih dari 11 persen menjadi sekitar US$88 per barel dalam perdagangan di London.

Penurunan ini memangkas lonjakan harga sejak konflik dimulai pada akhir Februari, yang sebelumnya sempat mencapai kenaikan hingga 21 persen.

Analis menilai stabilitas di Selat Hormuz menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan pasar energi global, mengingat peran vitalnya dalam distribusi minyak dunia.

Negosiasi Damai Terus Berlangsung

Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel sejak 28 Februari dipicu oleh tuduhan terkait program nuklir dan pengembangan rudal Iran.

Namun kini, peluang untuk mengakhiri konflik disebut semakin terbuka. Trump bahkan menyatakan bahwa kesepakatan damai “nyaris tercapai”.

Negosiasi antara Iran dan AS dilaporkan berlangsung melalui jalur diplomatik di Pakistan sepanjang pekan ini, dengan gencatan senjata dijadwalkan berakhir pada 21 April.

Israel sendiri memberi sinyal akan mengikuti keputusan AS terkait perpanjangan gencatan senjata atau kemungkinan kesepakatan damai.

Dampak Global dan Harapan Pasar

Pembukaan Selat Hormuz membawa dampak luas bagi ekonomi global:

  1. Harga energi berpotensi stabil
  2. Tekanan inflasi dapat mereda
  3. Pasar global mulai pulih dari ketidakpastian

Meski demikian, situasi masih dinamis. Dunia kini menanti apakah momentum ini benar-benar menjadi titik balik menuju perdamaian, atau hanya jeda sementara dalam konflik geopolitik yang lebih besar.*

 

Iran resmi membuka Selat Hormuz untuk kapal komersial selama gencatan senjata. Harga minyak dunia langsung turun tajam, memicu harapan berakhirnya konflik.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News