Mengintip Belanja Pertahanan Tetangga: Australia Kucurkan Rp3.200 Triliun untuk Perisai Maritim dan Rudal Jarak Jauh

  • Ari Kristyono
  • Jumat, 17 April 2026 | 20:08 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Kapal perang Australia HMAS Sidney menembakkan rudal serang dalam latihan Rimpac 2024
Kapal perang Australia HMAS Sidney menembakkan rudal serang dalam latihan Rimpac 2024 (Foto: Australian Defence Force)

RIWARA.id – Tetangga Indonesia di selatan, Australia resmi merilis Strategi Pertahanan Nasional (NDS) 2026 dengan komitmen anggaran fantastis mencapai A$425 miliar (sekitar Rp3.200 triliun) untuk sepuluh tahun ke depan. 

Fokus utama belanja pertahanan Canberra kali ini tertuju pada tiga pilar strategis: penolakan akses laut (sea denial), mobilitas udara, dan efek serangan jarak jauh (long-range strike) guna menghadapi dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Seperti dikutip dari Airforce Technology, investasi besar-besaran ini mencakup lebih dari 60 persen dari total anggaran pertahanan Australia. 

Langkah ini diambil sebagai percepatan dari strategi tahun 2024, di mana kondisi geografis Australia menuntut penguatan armada laut dan kemampuan serangan udara yang mampu menjangkau lawan jauh sebelum menyentuh daratan kedaulatan mereka.

Kekuatan Bawah Laut dan "Hiu Hantu"

Sektor peperangan bawah laut menjadi segmen terbesar dalam anggaran ini, terutama untuk memenuhi komitmen aliansi AUKUS , yakni pakta pertahanan antara Australia dengan Inggris dan Amerika Serikat. Salah satu hal penting yang dalam pakta tersebut adalah mendorong pemilikian kapal selam nuklir untuk Australia pada tahun 2030.

Namun, yang menarik perhatian adalah investasi pada kendaraan maritim nirawak (UMV). 

Australia telah mengontrak Anduril Australia untuk pengembangan Ghost Shark XLAUV, sebuah drone bawah laut raksasa yang dijuluki "peluru perak" untuk mengatasi keterbatasan jumlah personel dibandingkan luas wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang harus dijaga.

Selain itu, Angkatan Laut Australia (RAN) berencana menggandakan jumlah armada kapal permukaan mereka. 

Fokus utamanya adalah pengadaan 11 unit kapal fregat kelas Mogami baru yang memiliki daya jelajah hingga 10.000 mil laut dan dilengkapi dengan 32 sel sistem peluncuran vertikal (VLS).

Transformasi Serangan Jarak Jauh: Jangkauan hingga 2.500 Km

Belajar dari konflik di Ukraina dan Timur Tengah, Pasukan Pertahanan Australia (ADF) kini mengejar peningkatan drastis dalam jarak jangkau serangan mereka di berbagai domain:

  • Serangan Berbasis Laut: Meningkat dari 120 km menja di 2.500 km.
  • Serangan Berbasis Darat: Meningkat dari 40 km menuju target 1.000 km.
  • Serangan Berbasis Udara: Meningkat dari 370 km menjadi 1.000 km.

Rudal-rudal mumpuni seperti Tomahawk, Naval Strike Missile (NSM), dan Precision Strike Missile (PrSM) menjadi prioritas pengadaan untuk memastikan militer Australia mampu memberikan efek getar terhadap lawan di luar wilayah teritorial mereka.

Mobilitas Udara dan Pangkalan Utara

Di sektor udara, Canberra mengalokasikan hingga A$41 miliar untuk operasi ekspedisi. 

Ini mencakup pengadaan 20 unit pesawat angkut medium C-130J Hercules baru dan pemeliharaan armada F-35A serta F/A-18F hingga tahun 2040. 

Sebagian dana juga digunakan untuk memperkuat pangkalan udara di wilayah Utara Australia, termasuk pembangunan bunker pesawat yang tahan serangan serta penyimpanan bahan bakar dan amunisi cadangan.

Langkah berani Australia ini menunjukkan pergeseran permanen menuju strategi pertahanan ofensif yang berbasis pada teknologi tinggi dan jangkauan jauh, sebuah manuver yang diprediksi akan mengubah peta kekuatan militer di kawasan selatan Indonesia. (*)

 

Australia kucurkan Rp3.200 triliun untuk pertahanan! Fokus pada rudal jarak jauh, drone bawah laut Ghost Shark, dan fregat Mogami. Cek detailnya di RIWARA.id.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News