RIWARA.id – Peta persaingan industri senjata ringan di kawasan Asia kini memasuki babak baru yang bisa jadi mengusik Indonesia sebagai negara produsen senjata infanteri di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.
Keberhasilan TSM-PLR Systems, perusahaan patungan Adani Group India dan Israel Weapon Industries (IWI), mengirimkan batch pertama senapan mesin ringan (LMG) 'Prahar' ke Angkatan Darat India pada pertengahan April 2026, menjadi sinyal kewaspadaan bagi pemain lama seperti PT Pindad.
Langkah India yang mengadopsi teknologi Israel melalui skema produksi dalam negeri secara otomatis memposisikan mereka sebagai kompetitor tangguh di pasar ekspor regional, terutama bagi Indonesia yang selama ini menjadi salah satu macan industri pertahanan Asia Tenggara.
Strategi 'Make in India' vs Kedaulatan Desain Pindad
Perbedaan mendasar kedua negara terletak pada filosofi pengembangannya. India, melalui PLR Systems, mengambil jalan pintas dengan melakukan Alih Teknologi (ToT) murni dari IWI Israel.
Produk seperti LMG Prahar (versi modifik asi Negev 7.62mm) adalah senjata yang sudah teruji tempur di berbagai konflik global.
Di sisi lain, PT Pindad (BUMN di bawah holding Defend ID) bertumpu pada kedaulatan desain mandiri. Produk unggulan seperti seri SS (Senapan Serbu) dikembangkan dari evaluasi medan tropis dan telah berulang kali merajai kompetisi menembak internasional seperti AASAM dan BISAM.
Kelebihan dan Kekurangan: Head-to-Head
Dalam pertempuran industri ini, masing-masing produsen membawa kekuatan dan kelemahan yang spesifik:
PLR Systems (India)
Kelebihan: Mengusung teknologi battle-proven dengan menggunakan desain Israel yang mutakhir. Selain itu, mereka memiliki kapasitas produksi raksasa karena didukung oleh modal besar dari Adani Group.
Kekurangan: Masih memiliki ketergantungan lisensi. Meski mengejar target 100 persen konten lokal, mereka tetap terikat pada hak kekayaan intelektual Israel, terutama untuk melakukan modifikasi desain yang radikal.
PT Pindad (Indonesia)
Kelebihan: Unggul dalam akurasi dan adaptasi medan. Senjata Pindad dikenal sangat andal di lingkungan tropis atau hutan. Selain itu, Pindad memiliki ekosistem amunisi yang sangat kuat dan mandiri.
Kekurangan: Tantangan pada kapasitas produksi. Skala produksi Pindad saat ini dinilai masih berada di bawah kapasitas pabrikan raksasa India yang didorong oleh kebutuhan jutaan personel militer di negaranya.
Ancaman di Pasar Regional
Budi Santoso, pengamat energi dan pertahanan, menilai bahwa jika India berhasil menekan biaya produksi hingga 100 persen lokal, mereka bisa menawarkan senjata berspesifikasi NATO-Israel dengan harga yang sangat kompetitif.
"Ini adalah tantangan bagi Pindad. Kita tidak lagi hanya bersaing soal kualitas, tapi soal skala ekonomi dan kecepatan suplai teknologi ke pasar ekspor seperti Afrika dan Asia Tenggara," ujarnya kepada RIWARA.id.
Namun, Pindad memiliki keunggulan diplomasi pertahanan yang lebih cair. Produk Indonesia sering kali dianggap lebih "netral" secara politik bagi beberapa negara pembeli dibandingkan senjata yang memiliki keterkaitan teknologi langsung dengan Israel, terutama di pasar negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.
Kesimpulan: Inovasi atau Mati
Munculnya LMG Prahar sebagai pesaing baru membuktikan bahwa industri pertahanan tidak bisa hanya mengandalkan kejayaan masa lalu.
Jika Pindad ingin tetap memimpin di pasar regional, percepatan inovasi pada platform senjata mesin dan peningkatan kapasitas pabrik menjadi harga mati untuk mengimbangi agresivitas 'Make in India'.
Situasi di Selat Hormuz yang sedang memanas juga diprediksi akan mempercepat tren negara-negara untuk mandiri secara persenjataan, membuat persaingan antara Pindad dan PLR Systems semakin sengit di masa depan. (*)
Ari Kristyono


India mulai kirim LMG Prahar buatan lokal, ancam posisi PT Pindad? Simak analisis perbandingan teknologi dan pasar senjata regional di RIWARA.id.