RIWARA.id – Militer India resmi memulai babak baru kemandirian alutsistanya dengan pengiriman perdana Senapan Mesin Ringan (LMG) 'Prahar' kaliber 7.62x51 mm pada pertengahan April 2026.
Senjata ini bukan sekadar produk lokal biasa, melainkan hasil kolaborasi strategis antara raksasa Adani Group (PLR Systems) dengan raksasa pertahanan Israel, Israel Weapon Industries (IWI).
Keputusan New Delhi untuk "menikahi" teknologi Israel ketimbang mengembangkan desain mandiri sepenuhnya didasari oleh kebutuhan mendesak di medan tempur yang kompleks. Berikut adalah alasan-alasan krusial di balik lahirnya proyek Prahar, sebagaimana dikutip dari Janes Defence Weekly:
Kegagalan Sistem INSAS dan Kebutuhan Kaliber Besar
Selama dekade terakhir, Angkatan Darat India merasa tidak puas dengan LMG INSAS kaliber 5.56 mm buatan dalam negeri yang dianggap kurang andal dan kurang mematikan di medan pegunungan tinggi atau hutan lebat.
India membutuhkan transisi ke kaliber 7.62 mm yang memiliki daya hancur (stopping power) lebih besar d an jara k tembak lebih jauh.
IWI memiliki platform Negev NG-7, yang diakui secara global sebagai salah satu senapan mesin ringan terbaik di kelasnya.
Dengan menggandeng Israel, India mendapatkan akses instan ke senjata yang mampu menembakkan 600 hingga 750 butir peluru per menit dengan akurasi tinggi di medan ekstrem.
Status 'Battle-Proven' Teknologi Israel
Militer India tidak ingin berjudi dengan desain baru yang belum teruji. Senjata buatan IWI telah teruji dalam berbagai konflik intens di Timur Tengah melalui Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
"Prahar adalah versi modifikasi dari Negev yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional spesifik Angkatan Darat India," ungkap Shuki Schwartz, CEO IWI.
Modifikasi ini mencakup ketahanan terhadap debu ekstrem dan suhu rendah di wilayah perbatasan Himalaya.
Ambisi 'Atmanirbhar Bharat' melalui Alih Teknologi (ToT)
Alasan utama lainnya adalah skema Alih Teknologi (Transfer of Technology). India tidak ingin sekadar membeli, mereka ingin memiliki pabriknya.
Melalui PLR Systems, IWI memberikan lisensi produksi yang saat ini sudah mencapai tingkat kandungan lokal 50% dan ditargetkan mencapai 100%.
Ini memberikan India kendali penuh atas rantai pasokan tanpa h arus berga ntung pada pengiriman dari luar negeri di masa depan, sekaligus memposisikan mereka sebagai pusat manufaktur senjata ringan Israel untuk pasar global.
Efisiensi Waktu dan Biaya
Mengembangkan senjata dari nol membutuhkan waktu belasan tahun dan biaya riset miliaran dolar. Dengan menggandeng Israel, India memangkas siklus pengembangan tersebut.
Hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak persetujuan dewan akuisisi pada 2023, unit pertama sudah bisa dikirim ke pasukan di lapangan.
Analisis Dampak: Sinyal Bagi Industri Regional
Bagi Indonesia, langkah agresif India ini adalah pengingat. Jika PT Pindad bertumpu pada kedaulatan desain lokal yang memerlukan waktu riset panjang, India memilih "akselerasi" melalui kolaborasi global.
Keberhasilan LMG Prahar membuktikan bahwa integrasi teknologi asing ke dalam manufaktur domestik bisa menjadi cara tercepat untuk merajai pasar senjata ringan dunia. (*)
Ari Kristyono




Terungkap! Inilah alasan utama militer India gandeng Israel produksi LMG Prahar kaliber 7.62 mm. Dari kegagalan INSAS hingga kehebatan teknologi Negev.