Di Balik Rompi Antipeluru: Mengapa Prajurit Modern Tetap Memelihara Takhayul di Medan Laga?

  • Ari Kristyono
  • Senin, 13 April 2026 | 09:39 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Ilustrasi prajurit di medan tempur, dibuat dengan bantuan ChatGPT AI
Ilustrasi prajurit di medan tempur, dibuat dengan bantuan ChatGPT AI (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.id – ANALISIS. Dunia militer abad ke-21 identik dengan logika, data presisi, dan alutsista super canggih. Namun, masuklah ke dalam barak atau kendaraan tempur di garis depan, maka Anda akan menemukan sisi lain yang jauh dari kesan teknokratis.

Di tengah desing peluru, para prajurit sering kali masih memegang teguh berbagai pantangan dan takhayul kuno yang dianggap sebagai "kontrak tidak tertulis" dengan nasib agar tetap selamat.

Misteri Batang Rokok Ketiga

Salah satu pantangan paling legendaris yang masih bertahan hingga hari ini adalah “Three on a Match” atau larangan menyalakan tiga batang rokok dari satu korek api yang sama. 

Secara logika militer, aturan ini lahir dari pengalaman pahit Perang Dunia I. Api yang menyala terlalu lama akan memberi waktu bagi penembak jitu (sniper) musuh untuk membidik dan melepas tembakan tepat pada orang ketiga.

Meski kini teknologi pengintai malam sudah sangat maju, banyak prajurit tetap menolak menjadi "orang ketiga" yang menyalung api, sebuah bentuk penghormatan terhadap keselamatan rekan satu tim.

Permen Pembawa Sial dan Surat yang Menggantung

Di kalangan kru tank dan kendaraan lapis baja, pantangan bisa muncul dari hal sepele seperti makanan. Selama bertahun-tahun, prajurit kavaleri AS sangat anti memakan permen apricot dari jatah ransum mereka karena dianggap membawa kerusakan mesin atau ranjau.

Selain itu, ada tradisi emosional yang sering dilakukan prajurit sebelum misi besar: tidak menyelesaikan surat terakhir untuk keluarga. 

Ada keyakinan psikologis bahwa jika surat tersebut belum selesai atau belum tertutup rapat, takdir masih memberikan mereka alasan untuk pulang dan menyelesaikannya. "Utang" pada kehidupan ini menjadi dorongan mental yang kuat untuk bertahan hidup di tengah keputusasaan.

Jembatan Tradisi: Dari Keraton hingga Era Digital

Fenomena ini membuktikan bahwa secanggih apa pun teknologi medis atau sistem senjata, perang tetaplah urusan manusia yang penuh ketidakpastian. Di Nusantara, jejak ini bisa kita temukan pada prajurit Mataram ang sangat memperhatikan weton dan hari naas sebelum bergerak.

Takhayul militer modern bukanlah bentuk kemunduran berpikir, melainkan mekanisme pertahanan psikologis untuk mengelola stres yang luar biasa. Dengan menaati pantangan kecil, seora ng prajurit merasa memiliki sedikit kendali atas nasibnya di tempat di mana maut bisa datang kapan saja tanpa permisi. (*)

 

Di balik rompi antipeluru dan teknologi canggih, prajurit modern masih memegang teguh pantangan unik. Simak rahasia "kontrak psikologis" di medan laga.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News