RIWARA.id – ANALISIS. Januari 1991, di tengah berkecamuknya Perang Teluk, seorang prajurit elite SAS Inggris bernama Chris Ryan mencatatkan sejarah pelarian paling mustahil.
Terjebak sendirian setelah timnya disergap tentara Irak, Ryan satu-satunya yang berhasil kabur. Dia berjalan kaki sejauh 300 kilometer melintasi gurun yang membakar menuju perbatasan Suriah.
Tanpa air memadai dan terus diburu patroli musuh, ia berhasil lolos setelah delapan hari bertaruh nyawa.
Rahasia di balik keberhasilannya bukan hanya fisik yang prima, melainkan disiplin ketat dari sebuah protokol militer yang disebut SERE.
Apa Itu SERE?
SERE merupakan akronim dari Survival (Bertahan Hidup), Evasion (Penghindaran), Resistance (Perlawanan), dan Escape (Melarikan Diri).
Ini adalah program pelatihan tingkat tinggi yang wajib dikuasai oleh pilot tempur dan pasukan khusus.
Inti dari SERE adalah membekali personel militer agar mampu bertahan hidup jika jatuh atau terjebak di wilayah yang dikuasai musuh.
Prajurit dilatih untuk mencari sumber air di medan ekstrem, bergerak senyap di malam hari agar tidak terdeteksi radar dan patroli (Evasion), hingga teknik menghadapi interogasi brutal jika tertangkap (Resistance).
Bagian terakhir, Escape, melatih mereka mencari celah sekecil apa pun untuk meloloskan diri dari penawanan.
Latihan yang Menguji Batas Kemanusiaan Pelatihan SERE dikenal sebagai salah satu kurikulum militer paling menyiksa secara mental.
Dalam fase simulasi penawanan, siswa sering kali diperlakukan sebagai tawanan perang sungguhan.
Mereka ditempatkan di sel sempit, terpapar suara bising terus-menerus, hingga teknik manipulasi psikologis untuk memaksa mereka membocorkan rahasia.
Tujuannya satu: membangun "benteng" di dalam pikiran prajurit agar tetap teguh pada sumpah prajurit meski raga sedang dihancurkan.
Relevansi pada Konflik F-15 di Iran Pentingnya kemampuan SERE kembali menjadi sorotan dalam ketegangan di Timur Tengah saat ini. Jika seorang pilot jet tempur F-15 tertembak jatuh di wilayah Iran yang memiliki topografi pegunungan Zagros yang keras, ia harus segera mengaktifkan protokol SERE.
Di tengah kecanggihan sistem pertahanan udara Iran, seorang pilot tidak bisa hanya mengandalkan bantuan tim penyelamat (CSAR) yang mungkin terhambat.
Ia harus mampu melakukan evasi mandiri di darat dan menjaga ketahanan mental jika menghadapi interogasi dari pihak lawan yang sering kali menggunakan tawanan untuk kepentingan propaganda global.
Pada akhirnya, peperangan modern membuktikan bahwa secanggih apa pun alutsista yang digunakan, faktor manusia tetap menjadi penentu utama.
Kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan, mengatur ritme jantung di tengah ketakutan, dan terus melangkah dalam kesunyian adalah "senjata pamungkas" yang diajarkan dalam kurikulum SERE. (*)
Ari Kristyono





Kisah Chris Ryan berjalan 300 km di gurun Irak menjadi bukti vitalnya pelatihan SERE. Simak bagaimana prajurit bertahan di belakang garis musuh.