PC-24: Jet "Off-Road" yang Menuai Kontroversi, Antara Kebutuhan Taktis dan Kemewahan VIP

  • Ari Kristyono
  • Jumat, 10 April 2026 | 14:04 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono

 

 

Pesawat PC-24 yang mampu mendarat di landasan tanah pendek
Pesawat PC-24 yang mampu mendarat di landasan tanah pendek (Foto: Pilatus Aircraft)

 

RIWARA.id – ANALISIS. Publik belakangan ini diramaikan oleh kabar pembelian 12 unit pesawat jet Pilatus PC-24 oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI. Meski Kemenhan telah memberikan klarifikasi bahwa status saat ini baru sebatas Letter of Intent (LoI) dan bukan pembelian final, gelombang kritik telanjur dan terus muncul. 

Banyak pihak mempertanyakan urgensi pengadaan jet asal Swiss ini di tengah deretan pesawat angkut VIP yang sudah dimiliki TNI Angkatan Udara.

Spesifikasi PC-24: Sang "Super Versatile Jet" Pilatus PC-24 bukan jet bisnis biasa. Ia dijuluki sebagai "Super Versatile Jet" karena kemampuannya yang unik: satu-satunya jet di dunia yang mampu mendarat di landasan pacu pendek, tidak beraspal, bahkan tanah sekalipun (ruway rumput atau kerikil).

Dengan kecepatan jelajah 815 km/jam dan jangkauan hingga 3.300 km, PC-24 menggabungkan kepraktisan pesawat turboprop (seperti Hercules) dengan kecepatan mesin jet.

Inilah alasan kuat di balik ketertarikan Kemenhan; pesawat ini diproyeksikan untuk menjangkau wilayah pelosok Indonesia yang memiliki landasan pacu terbatas, namun tetap membutuhkan mobilita s cepat untuk pejabat tinggi atau evakuasi medis darurat.

Pesawat ini memang cukup praktis, meski dibalut dengan interior mewah seperti jok kulit, minibar dan lain-lain, tapi ada pintu besar yang membuatnya bisa diubah menjadi pesawat kargo atau ambulans udara.

Perbandingan: PC-24 vs Falcon dan Boeing 737 Jika dibandingkan dengan Dassault Falcon 7X/8X atau Boeing 737-700/800 yang sudah lebih dulu memperkuat Skadron Udara 17, PC-24 menempati ceruk yang berbeda.

Falcon dan Boeing adalah jet strategis yang membutuhkan landasan pacu panjang, beraspal mulus, dan fasilitas bandara yang mapan. Keduanya dirancang untuk kenyamanan maksimal dan jarak jauh (lintas benua).

Sebaliknya, PC-24 adalah jet taktis. Ia tidak semewah Falcon, namun ia bisa mendarat di bandara perintis yang tidak mungkin didarati oleh Boeing atau Falcon.

Secara biaya operasional, PC-24 jauh lebih ekonomis dibandingkan menggerakkan Boeing 737 hanya untuk membawa sedikit personel ke wilayah terpencil.

Nostalgia Jenderal M. Jusuf: Hercules vs Modernitas

Kritik juga sering menyerempet sisi historis, membandingkan era saat ini dengan masa kepemimpinan Menhankam/Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf (1978 - 1983). Sosok legendaris tersebut dikenal sangat sederhana; ia lebih sering menggunakan C-130 Hercules atau CASA 212 untuk kunjungan kerja ke daerah.

Di era tersebut, "kemewahan" adalah hal tabu, dan kedekatan dengan prajurit ditunjukkan dengan berbagi ruang di perut pesawat kargo yang bising.

Namun, tantangan zaman telah berubah. Mobilitas pimpinan militer saat ini menuntut kecepatan reaksi dan kerahasiaan komunikasi yang sering kali tidak dimiliki oleh pesawat angkut taktis tua.

Keamanan dan efisiensi waktu menjadi parameter utama, meskipun nilai-nilai kesederhanaan Jenderal Jusuf tetap menjadi standar moral yang dirindukan publik.

Nasib Karya Anak Bangsa: Mengapa Bukan CN-235?

Pertanyaan krusial lainnya adalah mengapa tidak menggunakan CN-235 buatan PTDI? CN-235 sebenarnya memiliki kemampuan mendarat di landasan pendek yang serupa dengan PC-24. 

Namun, perbedaan mendasar terletak pada kecepatan. CN-235 adalah pesawat turboprop yang jauh lebih lambat.

Untuk misi yang menuntut kecepatan "menit ke menit"—seperti penanganan krisis atau pengamanan VVIP—mesin jet PC-24 menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki CN- 235.

Meski demikian, bagi banyak pengamat, mengoptimalkan produk dalam negeri tetap dianggap lebih strategis untuk membangun kemandirian industri pertahanan (indhan) nasional, meski harus mengorbankan sedikit aspek kecepatan. (*)

 

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News