RIWARA.id – Upaya diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).
Kegagalan perundingan di Islamabad, Pakistan ini dikonfirmasi setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, terlihat meninggalkan lokasi dan menaiki pesawat Air Force Two tak lama setelah pembicaraan resmi ditutup tanpa pernyataan damai.
Mengutip laporan The Guardian, kegagalan ini memicu ketegangan baru di tingkat tertinggi. Meski Presiden AS Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi terkait bumbunya perundingan tersebut.
Ia memberikan sinyal keras melalui unggahan di platform Truth Social. Trump membagikan sebuah artikel berjudul “The Trump card the president holds if Iran won’t bend: a naval blockade”.
Artikel yang dibagikan Trump tersebut mengutip analisis para pakar yang menyarankan agar Washington melakukan blokade laut secara total.
Langkah ini dianggap sebagai kartu as untuk membalas tindakan Iran yang sebelumnya sempat menyandera jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Jika ancaman ini terwujud, maka ruang gerak armada laut Iran akan terkunci sepenuhnya oleh kekuatan angkatan laut AS.
John Solomon, jurnalis veteran di balik artikel tersebut, menyebutkan bahwa Trump memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan dengan melakukan "blokade tandingan".
Skenario ini diprediksi akan mencekik jalur ekonomi Iran jauh lebih hebat daripada sekadar sanksi administratif, terutama jika Teheran tetap menolak untuk berkompromi dalam poin-peralihan senjata di kawasan.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Selat Hormuz masih tegang menyusul kegagalan kesepakatan di Islamabad.
Dunia kini menanti langkah konkret dari Gedung Putih, apakah ancaman blokade laut tersebut akan benar-benar dieksekusi atau sekadar gertakan diplomasi untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. (*)
Ari Kristyono





Perundingan damai AS-Iran di Islamabad gagal total. Donald Trump lempar sinyal lakukan blokade laut jika Iran tetap keras kepala.