Perang Timur Tengah Memasuki Satu Bulan: Stok Rudal AS dan Israel Dilaporkan Menipis Drastis

  • Ari Kristyono
  • Minggu, 29 Maret 2026 | 18:18 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Ilustrasi perang Timur Tengah dibuat dengan bantuan AI
Ilustrasi perang Timur Tengah dibuat dengan bantuan AI (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.id – Satu bulan sejak pecahnya perang besar di Timur Tengah, kekuatan militer Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini mulai mencapai titik nadir. Konflik yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 lalu, kini berubah menjadi perang urat syaraf yang menguras gudang persenjataan ketiga negara.

Data terbaru menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya berada di bawah tekanan hebat. Laporan dari Royal United Services Institute (RUSI) menyebutkan bahwa dalam 16 hari pertama saja, AS dan sekutunya telah menghabiskan 11.294 amunisi dengan biaya fantastis mencapai 26 miliar dolar AS atau sekitar Rp410 triliun.

Krisis Amunisi Pencegat Israel

Kondisi paling kritis dialami oleh Israel. Sistem pertahanan udara andalan mereka, Arrow 2 dan Arrow 3, diproyeksikan bakal hab is total pada 27 Maret 2026.

Data menunjukkan 81 persen stok rudal pencegat tersebut sudah ludes digunakan untuk menghalau gempuran Iran.

Tak hanya itu, stok rudal David’s Sling diperkirakan habis pada 6 April, disusul rudal supersonik Rampage yang diprediksi hanya bertahan hingga 9 April mendatang.

Para ahli memperingatkan bahwa militer Israel kini berada di ambang kolaborasi akibat kekurangan pasukan dan ketiadaan strategi jangka panjang yang jelas.

Ketahanan Iran dan Stok Drone 'Kamikaze'

Di pihak lawan, Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone sejak awal konflik.

Meski gudang senjatanya ikut menyusut, Teheran diyakini masih menyimpan kekuatan besar. Peneliti senior Ibrahim Jalal menyebut Iran b aru menggunakan sekitar 30-40 persen dari total stok senjatanya.

Senjata andalan Iran, drone "kamikaze" Shahed-136, menjadi ancaman paling nyata karena biaya produksinya yang murah namun mematikan.

Per awal 2026, Iran dilaporkan memiliki stok hingga 80.000 unit drone Shahed dengan kapasitas produksi harian yang terus berjalan.

 AS Mulai Lakukan Penjatahan

Tekanan serupa juga dirasakan Washington. Dalam empat minggu pertama, AS telah meluncurkan lebih dari 500 rudal Tomahawk.

Ironisnya, untuk mengganti jumlah rudal yang sudah ditembakkan tersebut, dibutuhkan waktu produksi selama lima tahun.

Analis dari RANE Network, Ryan Bohl, mengungkapkan b ah wa sistem pertahanan udara dan amunisi Amerika kini mulai dijatah (rasionisasi).

Selain itu, banyak pangkalan AS di kawasan tersebut yang rusak akibat gempuran Iran, sehingga personel militer terpaksa dievakuasi atau dipencarkan ke lokasi yang lebih aman.

Dikutip dari aa.com, perang ini kini bergeser dari operasi militer cepat menjadi konfrontasi berkepanjangan yang menguji siapa yang paling kuat bertahan dalam "perang logistik" dan ketersediaan amunisi. (*)

Stok rudal pertahanan Israel & AS dilaporkan menipis drastis setelah satu bulan perang lawan Iran. Simak analisis krisis amunisi Timur Tengah.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News