Revolusi Pertahanan: DragonFire, Senjata Laser Inggris Seharga 'Segelas Kopi' yang Mampu Jatuhkan Rudal Canggih

  • Ari Kristyono
  • Sabtu, 28 Maret 2026 | 18:02 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Ilustrasi senjata laser Dragonfire dibuat dengan bantuan AI
Ilustrasi senjata laser Dragonfire dibuat dengan bantuan AI (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.id – Militer dunia sedang berada di ambang revolusi teknologi pertahanan. Inggris baru-baru ini sukses menguji coba sistem senjata energi terarah (Directed Energy Weapon/DEW) yang dijuluki DragonFire. Senjata laser bertenaga tinggi ini tidak hanya menawarkan akurasi presisi, tetapi juga menjanjikan kehancuran total bagi sistem pertahanan berbasis rudal mahal yang selama ini mendominasi palagan perang.

Keunggulan utama DragonFire bukanlah pada kekuatan destruktifnya, melainkan pada aspek ekonomis yang ekstrem. Selama uji coba di Hebrides Range, senjata ini mampu menjatuhkan target udara dari jarak beberapa kilometer dengan biaya operasional yang sangat rendah.

Menembak dengan Biaya 'Segelas Kopi'

"Mengoperasikan senjata laser DragonFire hanya membutuhkan biaya sek itar £10 (sekitar Rp200.000) per satu kali tembakan," tulis laporan militer dari defensenews.com.

Ini adalah angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan penggunaan rudal pencegat konvensional (seperti sistem Patriot atau Sea Viper) yang biaya per unitnya bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Penggunaan DragonFire untuk menjatuhkan drone atau rudal musuh, secara teori, bisa menghemat anggaran pertahanan dalam jumlah yang sangat fantastis.

Akurasi Tingkat Tinggi

Selain murah, DragonFire juga menawarkan tingkat akurasi yang menakjubkan. Senjata ini mampu memfokuskan berkas cahaya laser pada target sekecil uang logam dari jarak satu kilometer, secara intensif membakar dan meledakkan komponen penting seperti hulu ledak, sensor, atau tangki bahan bakar target.

Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa DragonFire adalah senjata masa depan yang akan mengubah pola peperangan. "Ini adalah pengubah permainan. Daripada meluncurkan rudal mahal ke drone murah, kami kini bisa melumpuhkan ancaman tersebut dengan kecepatan cahaya dan biaya yang sangat minimal," ungkap pernyataan resmi tersebut.

Tantangan Medan Perang Nyata

Meski menjanjikan, DragonFire masih memiliki tantangan besar sebelum bisa benar-benar menggantikan rudal. Senjata laser sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca (seperti kabut tebal, hujan, atau debu) yang bisa melemahkan dan membiaskan berkas cahayanya. Selain itu, sistem ini membutuhkan sumber daya listrik yang sangat besar untuk bisa beroperasi secara kontinu di medan perang.

Dengan tuntasnya uji coba ini, Inggris mempercepat upaya untuk mengintegrasikan teknologi DragonFire ke dalam armada kapal perang Royal Navy dalam beberapa tahun ke depan. Di kancah global, perlombaan senjata laser ini sedang berlangsung dengan AS, Tiongkok, dan Rusia juga terus mengembangkan sistem energi terarah mereka sendiri. (*)

Inggris uji coba DragonFire, senjata laser energi terarah yang jatuhkan rudal mahal dengan biaya hanya Rp200.000 (setara £10). Simak detailnya.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News