Riwara.id – Perang yang masih terjadi antara Iran dan Amerika tidak hanya berdampak pada krisis energi BBM tapi juga berpengaruh pada pasokan bahan baku utama pupuk Indonesia.
Indonesia pun mulai mencari alternatif bahan baku pupuk dari wilayah lain untuk menggantikan pasokan dari Timur Tengah.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan pemerintah berencana mengalihkan sumber impor bahan baku pupuk dari negara-negara Asia Tengah, seperti Kazakhstan hingga Uzbekistan.
"Ya pupuk kita mau ngambil, sebenarnya kita impor dari Eropa Timur kan banyak. Ya kaya dari Kazakhstan, Uzbekistan, negara-negara Eurasia. Itu banyak, ya bisa dialihkan dari situ," ujar Budi dikutip dari laman Kemendag, Sabtu, 28 Maret 2026.
Namun sampai saat ini Budi mengaku belum mendapatkan keluhan terkait sulitnya mendapatkan bahan baku pupuk dari PT Pupuk Indonesia (Persero) selaku BUMN produsen pupuk. Hal ini menjadi sinyal bahwa stok dan jalur pengadaan masih relatif aman.
"Sampai sekarang sih belum ada ya dari pihak BUMN belum ngobrol ke kita. Artinya dari pihak BUMN belum ada keluhan ya ke kami. Saya kira mungkin teman-teman di BUMN belum ada masalah. Mudah-mudahan sih nggak ada masalah," tuturnya.
Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan pupuk nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopoliti k yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk bagi petani.
"Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani. Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk," ungkap Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira.
Saat ini kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,5 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk. Khusus untuk pupuk urea, kapasitas produksi Pupuk Indonesia bahkan mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik.
Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
Adapun bahan baku pupuk lainnya yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S) yang berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait. Meski demikian, sumber pasokan sulfur (S) bagi Pupuk Indonesia juga tersedia dari negara lain, seperti Kanada, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diantisipasi.*** span>






Perang Iran dan Amerika yang belum berakhir mempengaruhi pasokan bahan baku utama pupuk Indonesia