Keraton Kilen Disiapkan untuk Revitalisasi, Menimbang Pelestarian dan Pemanfaatan

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 27 Maret 2026 | 05:04 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

 

Kondisi Keraton Kilen di Keraton Surakarta sebelum revitalisasi KPH Eddy Witabhumi dan KGPA Tedjowulan orang mengamati area terbuka.
Kondisi Keraton Kilen di Keraton Surakarta sebelum revitalisasi KPH Eddy Witabhumi dan KGPA Tedjowulan orang mengamati area terbuka. (Foto: Dok. Riwara.id)

RIWARA.id - Kawasan barat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dikenal sebagai Keraton Kilen, tidak banyak terlihat dari jalur utama kunjungan. Letaknya berada di bagian dalam kompleks, dengan akses yang relatif terbatas bagi publik.

Pada Kamis, 26 Maret 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau langsung area tersebut bersama sejumlah pejabat dan perwakilan keraton. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi bangunan sekaligus menyiapkan rencana revitalisasi yang tengah disusun.

Di sejumlah titik, tampak bangunan lama dan lingkungan yang membutuhkan penataan. Pemerintah menyatakan kawasan ini menjadi salah satu bagian yang dipertimbangkan dalam program pelestarian dan pengembangan keraton.

“Ini bisa menjadi salah satu prioritas kita,” kata Fadli Zon.

Keraton Kilen merupakan salah satu bagian penting dalam struktur Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kawasan ini diketahui pernah menjadi kediaman Pakubuwono X sejak 1932 hingga akhir hayatnya.

Perpindahan tempat tingga l raja ke kawasan tersebut menandai perubahan tata ruang di lingkungan keraton pada masa itu. Selain sebagai tempat tinggal, Keraton Kilen juga menjadi bagian dari pengaturan ruang yang lebih luas dalam kehidupan internal keraton.

Ketua Lembaga Dewan Adat sekaligus Pengageng Sasana Wilapa, GKR Koes Murtiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, menjelaskan bahwa sebelum menempati Keraton Kilen, Pakubuwono X tinggal di bagian depan kompleks keraton.

“Setelah 1932 beliau pindah ke sini, dan tinggal sampai wafat,” ujarnya.

Menurut dia, kawasan tersebut pada masa lalu dikenal sebagai taman yang dipenuhi berbagai jenis tanaman dan burung. Salah satu tanaman yang disebut memiliki makna simbolik dalam tradisi keraton adalah bunga gambir.

Selain fungsi estetika, keberadaan taman dalam lingkungan keraton memiliki dimensi filosofis yang berkaitan dengan tata ruang dan simbolisme kekuasaan. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa sebagian elemen tersebut tidak lagi terlihat secara utuh.

Di sisi lain, kawasan Keraton Kilen juga menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan peristiwa global. Di area tersebut terdapat struktur bunker yang dibangun pada masa Perang Dunia II. Keberadaan bunker ini menunjukkan bahwa keraton tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika sejarah dunia pada masa itu.

Berdasarkan hasil peninjauan, sejumlah bagian bangunan dan lingkungan Keraton Kilen dinilai memerlukan penataan dan perbaikan. Pemerintah berencana melakukan revitalisasi dengan tetap memperhatikan prinsip pelestarian cagar budaya.

“Nanti dikembalikan seperti semula,” kata Fadli Zon.

Ia menjelaskan bahwa proses revitalisasi ti dak hanya mencakup perbaikan fisik bangunan, tetapi juga penataan kembali lingkungan, termasuk taman dan tata ruang yang menjadi bagian dari karakter kawasan tersebut.

Dalam rencana pengembangannya, kawasan Keraton Kilen juga dipertimbangkan untuk dibuka kepada publik sebagai bagian dari destinasi wisata budaya. Fadli Zon menyebut kemungkinan penerapan konsep museum terbuka atau open air museum.

“Seluruh keraton ini sebenarnya sebuah museum,” ujarnya.

Konsep museum terbuka memungkinkan pengunjung untuk memahami sejarah tidak hanya melalui koleksi benda, tetapi juga melalui pengalaman langsung di ruang yang memiliki nilai historis. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya pelestarian yang tidak hanya berfokus pada objek, tetapi juga pada konteks.

Meski demikian, pelaksanaan revitalisasi tidak akan dilakukan secara langsung. Fadli Zon menegaskan bahwa prosesnya harus melalui tahapan kajian, pemetaan, serta perencanaan teknis.

“Perlu kajian dulu, ada mapping, perencanaan, pengukuran,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan tahap awal revitalisasi dapat dimulai pada tahun ini, sebagai bagian dari program Kementerian Kebudayaan dalam pelestarian keraton, istana, dan museum di berbagai daerah.

Program tersebut mengacu pada kebijakan pelestarian cagar budaya yang bertujuan menjaga nilai sejarah sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya sebagai sarana edukasi dan pariwisata.

Namun, revitalisasi kawasan cagar budaya tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Terdapat sejumlah faktor lain yang perlu diperhatikan, termasuk keberlanjutan pengelolaan dan keterlibatan berbagai pihak.

Dalam konteks Keraton Surakarta, pengelolaan kawasan tidak terlepas dari peran keluarga keraton serta lembaga adat yang selama ini menjadi bagian dari struktur internal. Karena itu, koordinasi antara pemerintah dan pihak keraton menjadi aspek yang penting dalam proses revitalisasi.

Selain itu, pembukaan akses kawasan kepada publik juga memerlukan perencanaan yang matang. Akses yang lebih luas dapat meningkatkan potensi wisata, tetapi sekaligus memerlukan pengaturan agar tidak mengganggu nilai historis dan simbolik yang melekat.

Pengalaman di berbagai situs cagar budaya menunjukkan bahwa keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan menjadi salah satu tantangan utama. Pengelolaan yang tidak tepat berpotensi mengurangi nilai autentik kawasan.

Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam revitalisasi perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari konservasi fisik, interpretasi sejarah, hingga pengelolaan pengunjung.

Dalam konteks yang lebih luas, upaya revitalisasi Keraton Kilen juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya nasional. Keraton sebagai institusi budaya memiliki peran dalam menjaga kesinambungan tradisi, sekaligus menjadi sumber pengetahuan sejarah.

Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan fungsi keraton sebagai ruang budaya.

Di sisi lain, keberadaan Keraton Surakarta sebagai destinasi wisata budaya telah lama dikenal. Namun, sebagian kawasan di dalamnya belum sepenuhnya dapat diakses atau dimanfaatkan secara optimal.

Revitalisasi Keraton Kilen membuka peluang untuk memperluas ruang interaksi antara masyarakat dan warisan budaya. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menjadi sarana edukasi yang memperkaya pemahaman publik terhadap sejarah dan budaya Jawa.

Meski demikian, pelaksanaan program revitalisasi tetap memerlukan waktu. Tahapan kajian dan perencanaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut.

Dal am situasi seperti ini, kesinambungan kebijakan dan komitmen pelaksanaan menjadi faktor yang menentukan. Tanpa itu, rencana revitalisasi berpotensi tidak berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Keraton Kilen saat ini berada dalam kondisi yang menunjukkan perlunya penanganan. Namun, di saat yang sama, kawasan ini juga menyimpan potensi besar sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat dikembangkan.

Upaya revitalisasi yang direncanakan pemerintah menjadi langkah awal dalam mengembalikan fungsi kawasan tersebut. Namun, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada pelaksanaan di lapangan serta koordinasi antar pihak yang terlibat.

Dengan pendekatan yang tepat, Keraton Kilen di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diharapkan dapat kembali tertata sebagai bagian dari sistem budaya yang hidup. Kawasan ini tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga ruang yang dapat diakses dan dipahami oleh masyarakat luas.*

 

Revitalisasi Keraton Kilen di Keraton Surakarta disiapkan dengan konsep museum terbuka. Pemerintah lakukan kajian sebelum pelaksanaan dimulai tahun ini.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News