
RIWARA.id - Suasana di dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tampak lengang. Sejumlah abdi dalem berjalan pelan di halaman, sementara rombongan kecil bergerak menuju bagian barat kompleks keraton, kawasan yang selama ini jarang tersorot, Keraton Kilen.
Di lokasi itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berhenti cukup lama. Ia mengamati bangunan tua dengan dinding yang mulai kusam, halaman yang tak lagi tertata, serta sisa-sisa lanskap yang menandai jejak masa lalu.
“Ini bisa menjadi salah satu prioritas kita,” kata Fadli Zon, Kamis siang, 26 Maret 2026,.
Keraton Kilen merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Kawasan ini pernah menjadi kediaman Pakubuwono X sejak 1932 hingga akhir hayatnya. Perpindahan ke Kilen menandai perubahan tata ruang keraton sekaligus fase penting dalam perjalanan kekuasaan saat itu.
Ketua Lembaga Dewan Adat sekaligus Pengageng Sasana Wilapa, GKR Koes Murtiyah Wandansari, yang akrab disapa Gusti Moeng, menjelaskan bahwa sebelum menempati Kilen, Pakubuwono X tinggal di bagian depan keraton, termasuk di area yang dikenal sebagai panggung Jambon.
“Setelah 1932 beliau pindah ke sini, dan tinggal sampai wafat,” ujarnya.
Kini, kondisi kawasan tersebut tidak sepenuhnya terawat. Beberapa bangunan menunjukkan tanda-tanda pelapukan, sementara halaman yang dahulu dikenal sebagai taman tidak lagi menampilkan bentuk aslinya.
Menurut Gusti Moeng, Keraton Kilen dulunya merupakan taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga dan burung. Salah satu yang menonjol adalah bunga gambir, yang memiliki fungsi simbolik dalam tradisi keraton.
Selain itu, terdapat pula bunker yang dibangun pada masa Perang Dunia II. Struktur ini menjadi penanda perubahan fungsi ruang keraton dalam konteks sejarah global.
Rencana revitalisasi yang disampaikan Fadli Zon tidak hanya menyasar perbaikan fisik bangunan. Pemerintah juga berupaya mengembalikan suasana kawasan sebagaimana pernah ada, termasuk tata taman, kamar, serta lanskap lingkungan.
“Nanti dikembalikan seperti semula,” kata Fadli Zon.
Pendekatan ini menempatkan keraton bukan sekadar objek bangunan, melainkan sebagai ruang budaya yang utuh. Dalam kerangka tersebut, pelestarian tidak hanya berarti memperbaiki struktur, tetapi juga menghidupkan kembali konteks sejarahnya.
Fadli Zon juga mengemukakan rencana untuk membuka kawasan tersebut kepada publik. Ia menyebut kemungkinan menjadikan Keraton Kilen sebagai bagian dari museum terbuka, atau open air museum.
“Seluruh keraton ini sebenarnya sebuah museum,” ujarnya.
Konsep ini memperluas pengertian museum dari sekadar ruang pamer tertutup menjadi lanskap yang dapat diakses secara langsung oleh pengunjung. Dengan demikian, pengalaman sejarah tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.
Meski demikian, pelaksanaan revitalisasi tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Fadli Zon menegaskan bahwa prosesnya harus melalui tahapan kajian, pemetaan, hingga perencanaan teknis.
“Perlu kajian dulu, ada mapping, perencanaan, pengukuran,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah menargetkan tahap awal revitalisasi dapat dimulai pada tahun ini. Namun, ia tidak merinci jadwal pelaksanaan maupun alokasi anggaran.
Revitalisasi Keraton Kilen menjadi bagian dari program yang lebih luas di Kementerian Kebudayaan, yang mencakup pemugaran keraton, istana, dan museum di berbagai daerah. Dalam konteks ini, Keraton Surakarta memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa.
Di sisi lain, upaya pelestarian keraton juga menghadapi tantangan. Selain persoalan teknis dan pendanaan, terdapat dinamika internal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan keraton. Dalam situasi seperti itu, kolaborasi antara pemerintah, keluarga keraton, dan masyarakat menjadi faktor penting.
Rencana membuka kawasan ini untuk publik juga membawa implikasi tersendiri. Akses yang lebih luas berpotensi meningkatkan daya tarik wisata, tetapi sekaligus menuntut pengelolaan yang cermat agar tidak mengganggu nilai historis dan simbolik yang melekat.
Keraton Kilen, dengan seluruh lapisan sejarahnya, kini berada di titik persimpangan. Revitalisasi dapat menjadi jalan untuk menghidupkan kembali ruang yang lama terabaikan. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara p e lestarian dan pemanfaatan.
Di halaman yang mulai sepi, rombongan beranjak meninggalkan lokasi. Bangunan tua itu tetap berdiri, menyimpan waktu yang belum sepenuhnya terbuka. Untuk sementara, Keraton Kilen masih menjadi ruang sunyi, menunggu rencana yang kini mulai disusun untuk menghidupkannya kembali.*
Inung R Sulistyo






Revitalisasi Keraton Kilen di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat disiapkan jadi museum terbuka. Fadli Zon targetkan dimulai 2026.