Menteri Kebudayaan Fadli Zon Buka Gelar Budaya UNS, Soroti Budaya sebagai Kekuatan Strategis Bangsa

  • Inung R Sulistyo
  • Jumat, 27 Maret 2026 | 03:15 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa Universitas Sebelas Maret Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Dorong Penguatan Budaya sebagai Soft Power Indonesia 1
Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa Universitas Sebelas Maret Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Dorong Penguatan Budaya sebagai Soft Power Indonesia 1 (Foto: Kementerian Kebudayaan RI)

RIWARA.id - Menteri Kebudayaan Fadli Zon Buka Gelar Budaya UNS, Soroti Budaya sebagai Kekuatan Strategis BangsaSurakarta, 26 Maret 2026 – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara resmi membuka Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Kamis (26/3/2026). Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS dengan mengusung tema “Merajut Pelangi Budaya Nusantara.”

Acara tersebut menghadirkan beragam aktivitas kebudayaan yang mencerminkan kekayaan tradisi Indonesia. Mulai dari pertunjukan wayang beber tani, pameran arsip, keris, naskah kuno, hingga koleksi museum yang memiliki nilai historis tinggi. Selain itu, mahasiswa FIB turut menampilkan gelar seni budaya, sementara alumni dan mahasiswa juga memamerkan produk UMKM melalui program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA).

Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas inisiatif UNS dalam menghadirkan ruang kolaboratif yang mempertemukan akademisi, alumni, pelaku budaya, dan masyarakat luas. Ia menilai kegiatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi wadah strategis untuk memperkuat ekosiste m kebudayaan nasional.

 

“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya,” ujarnya dalam orasi kebudayaan.

Fadli menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa yang dapat dikategorikan sebagai megadiversity. Kekayaan tersebut mencakup ribuan kelompok etnis, ratusan bahasa daerah, serta beragam ekspresi budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, budaya Indonesia tidak hanya terbatas pada seni pertunjukan, tetapi juga mencakup tradisi lisan, manuskrip, ritus adat, pengetahuan tradisional, hingga kuliner khas daerah.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa dengan akar peradaban yang sangat tua. Hal ini dibuktikan melalui berbagai temuan arkeologis, termasuk lukisan prasejarah yang diakui sebagai salah satu yang tertua di dunia. Dengan latar tersebut, ia menilai Indonesia tidak hanya dapat dipahami sebagai nation state, tetapi juga sebagai civilizational state yang dibangun dari beragam warisan peradaban besar.

Dalam konteks globalisasi dan transformasi digital, Fadli mengingatkan bahwa kebudayaan harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Ia menegaskan bahwa digitalisasi budaya bukan sekadar proses dokumentasi, melainkan upaya menghidupkan kembali warisan budaya agar tetap relevan di era modern. Selain itu, digitalisasi juga dinilai dapat memperluas akses masyarakat serta memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

Menurutnya, budaya juga memiliki potensi besar sebagai soft power sekaligus penggerak ekonomi nasional. Ia mencontohkan bagaimana sejumlah negara berhasil menjadikan budaya populer sebagai kekuatan global. Indonesia, kata dia, memiliki peluang yang sama untuk membangun gelombang budaya sendiri atau “Indonesian wave” dengan memanfaatkan kekayaan budaya yang dimiliki.

Dalam orasinya, Fadli juga memaparkan tiga prinsip utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan budaya di era digital. Pertama, pentingnya literasi budaya digital yang tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami konteks, etika, serta perlindungan hak cipta. Kedua, perlunya pelindungan terhadap pelaku budaya dalam ekosistem ekonomi digital agar mereka memperoleh akses yang adil terhadap promosi, monetisasi, dan pengembangan kapasitas. Ketiga, penguatan arsip dan pangkalan data budaya sebagai fondasi strategis yang tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga konteks dan makna budaya secara utuh.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pemerintah sebagai motor inovasi kebudayaan. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam mengembangkan kebudayaan berbasis riset dan teknologi, sekaligus menjadi pusat lahirnya gagasan dan inovasi baru dalam pelestarian budaya.

“Karena itu tugas kita bukan memilih antara tradisi dan digital, tetapi membuat digital beradab untuk tradisi, serta menjadikan teknologi sebagai ruang pendidikan, gotong royong, dan perlindungan budaya,” tegasnya.

Rektor UNS, Hartono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UNS dalam menjadikan budaya sebagai fondasi pendidikan. Ia menegaskan bahwa budaya tidak hanya ha dir dalam bentuk artefak, tetapi juga menjadi dasar pembentukan karakter dan peradaban manusia.

“Budaya adalah napas kehidupan bangsa. Pendidikan dan kebudayaan harus berjalan beriringan agar mampu membentuk manusia yang berkarakter dan adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIB UNS, Dwi Susanto, menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas generasi. Ia menekankan bahwa acara tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang literasi, edukasi, dan jejaring antara kampus, alumni, dan masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak—mulai dari mahasiswa, dosen, alumni, hingga pelaku UMKM dan komunitas budaya—menjadikan kegiatan ini sebagai representasi ekosistem kebudayaan yang hidup dan dinamis.

Sebagai simbol pembukaan, Menteri Kebudayaan bersama pimpinan UNS dan sejumlah tokoh melakukan pemukulan gong. Momentum ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa yang diharapkan mampu menjadi ruang apresiasi sekaligus penguatan kebudayaan nasional.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya anggota DPR RI Muhammad Toha dan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia Mego Pinandito, serta jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan.

Menutup sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa kemajuan kebudayaan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa. Ia mengajak perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat untuk terus menumbuhkan kesadaran budaya sebagai fondasi pembangunan nasional.

“Kemajuan kebudayaan hanya bisa kita capai jika kita bekerja bersama, dengan kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan dan modal utama bangsa ke depan,” pungkasnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka Gelar Budaya UNS 2026 di Surakarta. Ia menekankan budaya sebagai kekuatan strategis bangsa, mendorong digitalisasi, serta peluang lahirnya “Indonesian wave” di kancah global.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News