
RIWARA.id - Harga emas dunia mengalami gejolak ekstrem pada awal pekan ini. Logam mulia sempat terperosok tajam sebelum akhirnya memangkas kerugian, menyusul meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di pasar London, harga spot emas sempat jatuh hingga 8% ke kisaran US$4.100 per troy ounce—level terendah sepanjang 2026. Namun tekanan itu tidak berlangsung lama.
Sentimen pasar berbalik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran selama lima hari, menyusul apa yang ia sebut sebagai komunikasi “produktif”.
Pada pukul 11.15 waktu New York, harga emas berhasil memangkas sebagian besar kerugian, hanya turun sekitar 0,6% ke level US$4.480 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka di bursa Comex masih melemah 2,7% ke posisi US$4.471 per ounce. Perak juga pulih setelah sempat anjlok lebih dari 10%.
Terburuk Sejak 1980-an
Penurunan tajam ini memperpanjang tren negatif emas yang sebelumnya telah jatuh selama delapan hari berturut-turut. Secara mingguan, ini menjadi performa terburuk sejak era 1980-an.
Aksi jual terjadi di tengah kepanikan pasar global akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral, khususnya Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini cenderung menekan emas karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Menariknya, sejumlah analis melihat perubahan perilaku emas dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam riset terbarunya, Citigroup menyebut emas kini kerap diperdagangkan layaknya aset berisiko (risk asset), bukan lagi semata-mata pelindung nilai saat krisis.
“Perilaku pro-siklus ini menjadi sangat ekstrem, terutama setelah lonjakan minat investor ritel dalam enam bulan terakhir,” tulis bank tersebut.
Artinya, saat pasar mengalami tekanan likuiditas, investor justru menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain seperti saham.
Tekanan dari Dolar dan Likuiditas Global
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar Amerika Serikat turut menekan harga emas. Dalam kondisi krisis, investor global cenderung memburu dolar sebagai aset paling likuid.
Di sisi lain, tekanan likuiditas global memaksa investor melepas aset yang masih menguntungkan, termasuk emas, untuk menutup posisi rugi di pasar lain.
Bank Sentral Diduga Ikut Jual Emas
Faktor lain yang turut disorot adalah kemungkinan aksi jual oleh bank sentral.
Analis dari Natixis, Bernard Dahdah, menyebut beberapa bank sentral mungkin menjual emas untuk menopang mata uang domestik atau membiayai lonjakan impor energi.
Padahal sejak 2022, bank sentral menjadi pembeli terbesar emas global. Namun, tren akumulasi tersebut mulai melambat sejak awal tahun ini.
Pola Lama Kembali Terulang?
Sejumlah analis melihat pola pergerakan emas saat ini menyerupai siklus krisis sebelumnya, seperti pada 2008, 2020, dan 2022.
Menurut BNP Paribas, dalam setiap fase krisis besar, emas biasanya:
Naik tajam di awal krisis
Turun akibat aksi ambil untung dan tekanan likuiditas
Kembali reli dalam jangka menengah
“Setiap periode tersebut pada akhirnya diikuti oleh reli yang berkelanjutan,” tulis analis BNP Paribas.
Volatil, Tapi Masih Menarik
Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan akan tetap fluktuatif, sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran dan dinamika harga energi global.
Namun dalam jangka menengah hingga panjang, prospek emas masih dinilai positif. Ketidakpastian geopolitik, inflasi struktural, serta kebutuhan diversifikasi cadangan devisa menjadi faktor penopang utama.
Gejolak harga emas kali ini menegaskan bahwa logam mulia tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap tekanan pasar. Dalam kondisi krisis, emas bahkan bisa ikut terseret arus jual.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa fase koreksi tajam sering kali menjadi bagian dari siklus menuju reli berikutnya.*
Inung R Sulistyo


Harga emas dunia sempat anjlok tajam hingga 8% sebelum rebound setelah Donald Trump menunda serangan ke Iran. Analis menilai volatilitas masih tinggi, namun prospek jangka panjang tetap bullish.