Benarkah Gunungan Kraton Surakarta Membawa Berkah? Ini Kepercayaan di Baliknya

  • Inung R Sulistyo
  • Minggu, 22 Maret 2026 | 01:32 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ribuan orang memadati halaman Masjid Gede atau Masjid Agung Keraton Solo untuk merebutkan Gunungan Sekaten 2025
Ribuan orang memadati halaman Masjid Gede atau Masjid Agung Keraton Solo untuk merebutkan Gunungan Sekaten 2025 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

RIWARA.id - Ribuan orang berdesakan di pelataran Kraton Surakarta setiap perayaan Garebeg Maulud. Begitu gunungan keluar dari kompleks keraton menuju Masjid Agung, suasana berubah menjadi riuh. Dalam hitungan detik, gunungan yang semula utuh berubah menjadi rebutan.

Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin terlihat seperti tradisi biasa. Namun bagi masyarakat Jawa, ada keyakinan yang jauh lebih dalam: gunungan dipercaya membawa berkah.

Lalu, benarkah demikian?

Tradisi Rebutan yang Sarat Makna

Gunungan merupakan susunan hasil bumi seperti sayur, buah, dan makanan yang dibentuk menyerupai gunung. Dalam prosesi Garebeg Maulud, gunungan ini diarak dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Namun “dibagikan” di sini tidak selalu berarti tertib. Yang terjadi justru sebaliknya—masyarakat berebut mengambil bagian dari gunungan tersebut.

Tradisi ini dikenal sebagai ngalap berkah, yakni upaya memperoleh kebaikan atau keberuntungan melalui sesuatu yang dianggap memiliki nilai spiritual.

Keya kinan yang Hidup di Masyarakat

Banyak warga percaya bahwa bagian dari gunungan yang telah didoakan memiliki kekuatan simbolik.

Sebagian membawa pulang hasil gunungan untuk:

disimpan di rumah sebagai penolak bala
ditanam di sawah agar panen melimpah
dijadikan bagian dari ritual pribadi

Keyakinan ini tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran spiritual yang telah berlangsung ratusan tahun.

Doa dan Makna Sedekah Raja

Sebelum gunungan dikeluarkan, terlebih dahulu dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh ulama keraton.

Di sinilah makna pentingnya: gunungan bukan sekadar makanan, melainkan simbol sedekah Raja kepada rakyatnya.

Dalam tradisi Jawa, raja dipandang sebagai pusat kekuasaan sekaligus penjaga keseimbangan alam dan masyarakat. Sedekah yang dikeluarkan diyakini membawa keberkahan karena dilakukan dengan niat syukur kepada Tuhan.

Akar dari Tradisi Islam-Jawa

Kepercayaan terhadap berkah gunungan tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam di Jawa oleh Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga.

Para wali menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah. Tradisi yang sudah ada tidak dihapus, tetapi diberi makna baru sesuai ajaran Islam.

Gunungan, dalam hal ini, menjadi media dakwah:

mengajarkan sedekah
memperkenalkan nilai syukur
sekaligus menarik masyarakat melalui budaya
Antara Kepercayaan dan Simbolisme

Dari sudut pandang antropologi, keyakinan terhadap berkah gunungan merupakan bagian dari sistem simbol.

Gunungan bukan dianggap memiliki kekua tan magis secar a literal, tetapi menjadi representasi dari harapan manusia terhadap kesejahteraan, keselamatan, dan keberuntungan.

Namun dalam praktiknya, batas antara simbol dan keyakinan sering kali menjadi kabur. Bagi sebagian orang, berkah itu nyata dan dirasakan.

Fenomena Sosial yang Bertahan Lama

Meski zaman terus berubah, tradisi ini tetap bertahan. Setiap tahun, ribuan orang tetap datang untuk ikut serta dalam prosesi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa:

kepercayaan budaya masih kuat
tradisi memiliki daya hidup yang tinggi
masyarakat masih mencari makna spiritual dalam kehidupan modern
Benarkah Membawa Berkah?

Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara rasional, gunungan hanyalah hasil bumi yang dibagikan. Namun secara kultural dan spiritual, ia adalah:

simbol sedekah
media doa
representasi harapan

Berkah, dalam konteks ini, bisa dimaknai bukan hanya sebagai keberuntungan materi, tetapi juga ketenangan batin dan rasa terhubung dengan tradisi.

Gunungan Garebeg Maulud adalah cerminan bagaimana tradisi, agama, dan kepercayaan masyarakat bertemu dalam satu peristiwa.

Di tengah kerumunan dan perebutan yang tampak sederhana, tersimpan pertanyaan besar tentang makna hidup, keyakinan, dan cara manusia mencari berkah.

Dan mungkin, d i situlah letak kekuatannya—bukan pada benda yang diperebutkan, tetapi pada makna yang dipercayai bersama.*

 

 

Benarkah gunungan Garebeg Maulud membawa berkah? Simak penjelasan lengkap tentang kepercayaan, tradisi, dan makna di balik rebutan gunungan di Kraton Surakarta.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News